Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kenapa Prestasi Tim Nasional Sepak Bola Junior Lebih Baik ketimbang Senior?

Muhammad Maulana Firdaus oleh Muhammad Maulana Firdaus
2 Oktober 2020
A A
liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Dengan ditunjuknya Indonesia sebagai tuan rumah turnamen Piala Dunia U-20 pada 2021 membuat timnas sepak bola Indonesia U-19 berhak mengikuti turnamen tersebut tanpa terlebih dahulu pontang-panting di babak kualifikasi. Ikut sertanya timnas U-19 di Piala Dunia dinilai cukup untuk mengobati rasa rindu masyarakat dalam melihat tim sepak bola kita berlaga di turnamen sekelas Piala Dunia, meskipun hanya Piala Dunia kelompok umur.

Tapi, jika kita menarik waktu hingga tujuh tahun ke belakang, tim nasional sepak bola Indonesia di kelompok umur memang selalu menorehkan prestasi yang membuat masyarakat pecinta sepak bola nasional lebih memilih untuk mencurahkan rasa fanatismenya dibanding kepada tim nasional sepak bola senior.

Dimulai pada 2013, kiprah tim nasional sepak bola U-19 di bawah asuhan pelatih Indra Sjafri membuat perhatian masyarakat Indonesia tertuju kepada tim ini. Pengorbanan Indra Sjafri yang “blusukan” ke seluruh daerah di Indonesia dalam rangka mencari pemain berkualitas berhasil menarik rasa simpati masyarakat untuk mendukung tim nasional yang sebelumnya tidak terlihat kemunculannya.

Pilar-pilar Indonesia senior sekarang seperti Evan Dimas, Putu Gede, Hargianto, hingga kapten timnas senior, Hansamu Yama, merupakan jebolan timnas Indonesia U-19 dan hasil “blusukan” Indra Sjafri. Ciri khas taktik pe-pe-pa (membangun serangan dan mengalirkan bola dengan umpan pendek-pendek-panjang) yang diterapkan Indra Sjafri membuat permainan timnas U-19 semakin enak dan menarik untuk ditonton.

Puncaknya adalah timnas U-19 berhasil menjuarai turnamen Piala AFF U-19 2013 setelah bertahun-tahun puasa gelar dan momen tersebut sangat membekas di hati supporter hingga kini.

Pada 2018, timnas U-16 di bawah asuhan pelatih Fakhri Husaini juga membuat masyarakat semakin “melupakan” timnas senior setelah berhasil menjuarai turnamen Piala AFF U-16. Di tahun tersebut juga masyarakat semakin menyoroti para pemain timnas U-16, seperti si kembar Bagus dan Bagas Kaffa, Sutan Diego Zico, Rendy Juliansyah, dan Supriadi. Mereka adalah para pemain kunci timnas U-16 dalam pagelaran Piala AFF U-16 2018.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai memperhatikan para pemain muda Indonesia. Contohnya adalah saat masyarakat mendesak PSSI untuk memanggil Sutan Diego Zico untuk masuk ke dalam timnas U-16 karena kiprahnya bersama Chelsea Soccer School dan sempat mewakili Singapura di berbagai turnamen antar akademi.

Kasus di atas menunjukkan bahwa dengan seiring berjalannya waktu dan berkembangnya media sosial di kalangan masyarakat, seorang pemain berkualitas dapat diketahui keberadaannya tanpa melalui cara “blusukan” seperti yang dilakukan oleh Indra Sjafri. Masyarakat juga secara tidak langsung memberikan dampak kepada PSSI dalam pemilihan pemain karena menyuguhkan pilihan yang bervariatif.

Baca Juga:

Manajemen Tolol Penyebab PSS Sleman Degradasi dan Sudah Sepatutnya Mereka Bertanggung Jawab!

Olahraga Lari Adalah Olahraga yang Lebih “Drama” ketimbang Sepak Bola

Efek dari berhasilnya menjuarai Piala AFF U-16 2018 adalah mengikuti Piala Asia U-16 di tahun yang sama tanpa mengikuti kualifikasi. Piala Asia U-16 merupakan turnamen yang cukup bergengsi karena dapat mendongkrak peringkat Indonesia dalam ranking FIFA dan bisa lolos ke Piala Dunia U-16 di Peru 2019. Sayangnya timnas U-16 dikalahkan Australia di perempat final sehingga pupus harapan untuk mengikuti Piala Dunia U-16 2019.

Meskipun tidak juara di turnamen Piala Asia U-16, perjalanan timnas U-16 sudah dianggap sebagai sebuah prestasi yang belum bisa dicapai oleh tim nasional senior, yang malah lebih banyak memberikan kekecewaan kepada suporter dan masyarakat Indonesia. Entah itu faktor tingginya ekspektasi masyarakat atau memang ada yang salah dalam skuat tim nasional senior.

Prestasi tidak hanya diukur dari seberapa jauh kiprah sebuah tim di sebuah kompetisi atau turnamen. Sebuah program yang inovatif dan efektif juga bisa dianggap sebagai sebuah prestasi. Program tersebut bernama Garuda Select.

Garuda Select adalah program pendidikan sepak bola untuk pemain muda Indonesia yang dilakukan di negara yang dianggap sebagai kiblat sepak bola. Program ini dilaksanakan di Inggris dengan bantuan pelatih yang kompeten, seperti Des Walker dan Dennis Wise. Des Walker adalah legenda klub Inggris, Sheffield Wednesday dan Nottingham Forest, sedangkan Dennis Wise merupakan pemain yang menghabiskan tahun bermainnya di klub Chelsea.

Program ini sebenarnya bukan yang pertama. Sebelumnya PSSI pernah membuat program semacam Garuda Select. Program tersebut adalah Primavera dan Baretti yang dilaksanakan di Italia tahun ‘90an, juga program SAD (Sociedad Anonima Deportiva) yang dilaksanakan di Uruguay dari 2008 hingga 2012.

Banyak pemain berkualitas jebolan dari program pembinaan usia muda PSSI, seperti legenda timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto (Primavera), legenda Persib Bandung, Nova Arianto (Baretti), dan pemain yang bermain untuk klub PT Prachuap di Thailand, Yanto Basna (SAD Uruguay).

Keberhasilan tim nasional sepak bola Indonesia di kelompok umur juga dipengaruhi oleh niat pemain, mental bertanding, dan hasrat dalam membela negara. Para pemain muda kebanyakan masih belum terlalu memperdulikan uang. Selain itu, saat ini kurikulum mengenai pembinaan pemain usia muda mulai ditanamkan. Para pemain yang masih bergabung di akademi juga dijaga oleh akademinya.

Di tahun 2020 ini, PSSI mempercayakan Shin Tae-yong untuk memegang sektor pelatih timnas, mulai dari timnas U-19 hingga senior. Dengan dipimpin oleh pelatih yang pernah memimpin Korea Selatan berlaga di Piala Dunia 2018 di Rusia, diharapkan prestasi timnas kita meningkat sehingga masyarakat pecinta sepak bola nasional merasa puas dengan performa timnas.

Apalagi semenjak bulan akhir bulan Agustus tahun ini, Shin Tae-yong membawa para pemain timnas U-19 untuk melakukan pemusatan latihan di Kroasia. Semoga hasil pemusatan latihan di Kroasia dan juga hasil dari berbagai macam pertandingan uji coba yang dilaksanakan disana memberikan dampak positif untuk timnas U-19 di bawah asuhannya.

Kita boleh kecewa dengan performa timnas senior. Kita boleh “melupakan” timnas senior. Tapi, kita tidak boleh melupakan proses yang ditempuh oleh para pemain timnas senior dan kelompok umur. Percaya proses, jangan mau yang instan. Timnas bukan mi instan yang sekali masak langsung mateng!

BACA JUGA Seni Menghadapi Harta Dunia Melalui Peribahasa Madura Asel Ta’ Adina Asal dan artikel Terminal Mojok lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2020 oleh

Tags: juniorseniorSepak Bolatim nasional
Muhammad Maulana Firdaus

Muhammad Maulana Firdaus

Cuma orang biasa yang suka main bola tapi cedera mulu.

ArtikelTerkait

Piala Dunia U-20 Batal: Ketika Politisi Sok Jadi Pahlawan, Rakyatlah yang Jadi Korbannya, ganjar, koster

Piala Dunia U-20 Batal: Ketika Politisi Sok Jadi Pahlawan, (Impian) Rakyatlah yang Jadi Korbannya

31 Maret 2023
daniele de rossi

Kepindahan Daniele De Rossi dan Sesuatu yang Langka Saat Ini

28 Juli 2019
Efek Positif Timnas Indonesia yang Luput dari Perhatian, Kafe-kafe Sepi Jadi Hidup Lagi erick thohir prabowo shin tae-yong pssi

Efek Positif Timnas Indonesia yang Luput dari Perhatian, Kafe-kafe Sepi Jadi Hidup Lagi

16 Oktober 2024
mahasiswa tua grup whatsapp MOJOK.CO

Mahasiswa Tua: DO Enggan, Skripsian Tak Mau

6 September 2022
liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Melihat Sepak Bola Amerika Serikat Bikin Saya Sedih sama Negeri Sendiri

22 Januari 2021
Seandainya para Filsuf Melatih Sepak Bola Pakai Strategi dari Pemikirannya terminal mojok.co

Sepak Bola Tanpa Kekerasan Gender Adalah Hal yang Harus Diperjuangkan

19 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Fenomena Alumni Abadi di Organisasi Kampus: Sarjana Pengangguran yang Hobi Mengintervensi Junior demi Merawat Ego yang Remuk di Dunia Kerja

18 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
7 Lagu Bahasa Inggris Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia (Unsplash)

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

16 Januari 2026
Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.