Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Kemiripan Surat Wasiat Teroris Indonesia Bisa Jadi Petunjuk Penting

Fitriyan Zamzami oleh Fitriyan Zamzami
5 April 2021
A A
Kemiripan Surat Wasiat Teroris Indonesia Bisa Jadi Petunjuk Penting terminal mojok.co

Kemiripan Surat Wasiat Teroris Indonesia Bisa Jadi Petunjuk Penting terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Menengok “surat wasiat teroris” pelaku penyerangan di Mabes Polri pada 31 Maret 2021, dan membandingkannya dengan “surat wasiat” dari pelaku bom Gereja Katedral Makassar pada 31 Maret 2021, saya jadi ingat satu perbincangan lama dengan seorang pelaku terorisme.

Hampir satu dekade lalu, saya sempat berbicara lama dengan salah seorang terdakwa (kini terpidana) terorisme di ruang tahanan PN Jakarta Selatan. Kami membincangkan apa rasionalitasnya melakukan apa yang ia lakukan dan coba lakukan saat itu. Menariknya, ia tak menjelaskan soal ideologi. Yang banyak ia ceritakan justru tindakan-tindakan terorisme yang sebelumnya terjadi. Bagaimana ia terjadi, tokoh-tokohnya, dan asumsinya soal mengapa mereka melakukan hal tersebut.

Obrolan itu membuat saya merasa aksi terorisme di Makassar dan Mabes Polri bisa coba dijelaskan. Jika kedua surat wasiat teroris Makassar dan Mabes Polri itu bukan bohong-bohongan, ia barangkali petunjuk penting soal fenomena terorisme di Indonesia.

Pada 2015 lalu, jurnalis kawakan Malcolm Gladwel pernah menulis di The New Yorker soal penembakan massal di Amerika Serikat. Ia menyoroti bagaimana peristiwa-peristiwa tersebut dilakukan oleh pelaku dengan latar belakang yang sangat beragam. Tak ada rasionalisasi yang seragam pada pelaku di masing-masing kejadian.

Gladwel kemudian mengutip teori sosiolog Universitas Stanford Mark Granovetter soal kerusuhan massal. Granovetter meyakini, aksi kekerasan dalam kerusuhan kerap bermula dari satu orang dahulu. Aksi itu kemudian dilihat lainnya, yang kemudian ikut melakukan hal serupa meski bertentangan dengan persepsi awal mereka soal mana yang boleh dan mana yang tak boleh dilakukan.

Gladwell membayangkan penembakan massal di AS seperti kerusuhan dalam skala yang lebih luas dan berjalan dalam tempo yang dilambatkan alias slow motion. Satu kejadian menginspirasi pelaku lainnya dan pelaku lainnya dan pelaku lainnya lagi.

Penelitian lebih lanjut kemudian dilakukan oleh Arizona State University dan dilansir dalam makalah yang terbit pada 2015 dengan judul “Contagion in Mass Killings and School Shootings”. Kesimpulannya, penembakan massal tak begitu berbeda dengan penyakit menular yang melompat dari satu pelaku ke pelaku lainnya. Pola serupa juga mereka temukan pada kasus bunuh diri dan terorisme.

Artinya, peniruan adalah salah satu faktor utama dalam aksi-aksi pembunuhan massal. Bukan soal kesehatan mental, bukan soal latar belakang pelaku. Makalah itu juga menyimpulkan, eksposur soal kejadian penembakan massal di media massa jadi faktor pemicu peniruan-peniruan.

Baca Juga:

Santri Zaman Sekarang, kalau Nggak Dituduh Teroris, ya Pelaku Bully, Suka-suka Kau lah

Melihat Perempuan sebagai Pelaku Kekerasan

Asumsi yang kemudian mengkhawatirkan adalah begini: Bagaimana jika ternyata ekspose berlebihan selama ini pada tindakan-tindakan terorisme ini lebih efektif buat merekrut “pengantin baru” ketimbang upaya cuci otak kelompok-kelompok terorisme? Setidaknya pada kasus penembakan di Mabes Polri, Kapolri sudah menyimpulkan bahwa pelaku adalah lone wolf, yang artinya dia mencuci otaknya sendiri tanpa ikut jaringan apa pun. Bisa jadi itu mengapa surat wasiat teroris Mabes Polri demikian mirip dengan surat wasiat teroris bom gereja Makassar–karena Zakiah Aini sudah membaca “contohnya” lewat televisi atau media daring.

Jika demikian konteksnya, jangan-jangan pendekatan pemberantasan terorisme yang melulu dari segi ekstremisme agama adalah langkah yang tak lengkap? Dan sebaliknya, ia bisa jadi langkah yang kontraintuitif. Mengaitkan terorisme melulu dengan ekstremisme agama, apalagi dengan aliran keagamaan tertentu, bisa jadi bumerang dalam hal ini.

Orang yang antiriba atau anti-Ahok dan kebetulan pendek akal misalnya, dengan membaca surat yang dibocorkan kepolisian bisa jadi menyimpulkan bahwa jalan mereka harus lewat kekerasan seperti yang dicontohkan pelaku-pelaku di Makassar dan Jakarta. Penganut Manhaj Salaf yang mayoritas orang baik-baik itu bisa justru teradikalisasi jika sudah dicap lebih dulu.

Semakin kontradiktif saat Presiden bilang “terorisme tak terkait agama mana pun“, ketika pada yang sama negara menggencarkan “perang” terhadap radikalisme agama (persisnya lagi, Islam).

Menarik benang dari penelitian soal penembakan massal di AS, mungkin kita harus mengembalikan khittah tindakan terorisme selaiknya laku kriminal. Maksudnya, ditelaah kembali dengan teori-teori kriminologi, psikologi, sosiologi, bukan dipandang semata sebagai fenomena ideologis yang komentatornya melulu tokoh agama dan “pakar terorisme”. Maksudnya, ditangani juga dengan langkah-langkah hukum prosedural yang transparan seperti tindakan kriminalitas lainnya. Wallahu ‘a’lam bishawab.

Dimuat ulang dari status Facebook Fitriyan Zamzami atas izin penulis.

BACA JUGA Kenapa Aksi Teror kayak Bom di Gereja Katedral Makassar Terus Ada Lagi dan Lagi? dan tulisan Fitriyan Zamzami lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 April 2021 oleh

Tags: bom makassarpenyerangan mabes polriradikalisme agamasurat wasiat terorismeterorisme
Fitriyan Zamzami

Fitriyan Zamzami

Jurnalis di harian Republika

ArtikelTerkait

Santri pondok pesantren Zaman Sekarang, kalau Nggak Dituduh Teroris, ya Pelaku Bully, Suka-suka Kau lah

Santri Zaman Sekarang, kalau Nggak Dituduh Teroris, ya Pelaku Bully, Suka-suka Kau lah

23 Oktober 2023
radikalisme

Mahasiswa di Tengah Gempuran Terorisme dan Radikalisme

30 Juli 2019
pelaku bom bunuh diri mojok

Bom Bunuh Diri dan Narasi Menggelikan yang Menyertainya

29 Maret 2021
Melihat Perempuan sebagai Pelaku Kekerasan terminal mojok.co

Melihat Perempuan sebagai Pelaku Kekerasan

6 April 2021
intel yang menyamar

Guyonan Soal Intel yang Menyamar Itu Nggak Lucu!

18 Oktober 2019
Daripada Jadi Teroris di Dunia Nyata, Mending Lampiaskan di GTA Aja! terminal mojok

Daripada Jadi Teroris di Dunia Nyata, Mending Lampiaskan di GTA Aja!

1 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

24 Februari 2026
Sidoarjo dan Surabaya Isinya Salah Paham, Bikin Kecewa Saja (Unsplash)

Sidoarjo Nggak Perlu Capek-capek Saingan sama Surabaya, Cukup Perbaiki Jalan yang Lubangnya Bisa Buat Ternak Lele Saja Kami Sudah Bersyukur!

24 Februari 2026
Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
Mari Mengenal Salah Satu ‘Keajaiban’ dalam Hidup: Compounding

Mari Mengenal Salah Satu ‘Keajaiban’ dalam Hidup: Compounding

25 Februari 2026
Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi Mojok.co

Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi

22 Februari 2026
Stasiun Indro Bikin Gresik Jadi Daerah Industri yang Terlihat Menyedihkan Mojok.co

Stasiun Indro yang Menyedihkan Membuat Kota Industri Gresik Jadi Terlihat Payah

27 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah
  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya
  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.