Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kemacetan Jakarta Semakin Memuakkan dan Mirisnya Itu di Luar Kontrol Kita

Muhamad Yoga Prastyo oleh Muhamad Yoga Prastyo
13 Februari 2023
A A
Kemacetan Jakarta Semakin Memuakkan dan Mirisnya Itu di Luar Kontrol Kita macet

Kemacetan di Jakarta (Haryanta P via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi kami yang bekerja di Jakarta, menghadapi kemacetan adalah hal yang biasa. Sekalipun memuakkan, kami seolah dipaksa untuk mencintainya.

Sejak pandemi dinilai sudah mereda, kemacetan di Jakarta terlihat makin menggila. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena bertambahnya volume manusia dan kendaraan di jalan raya pasca dicabutnya PKKM dan kembali diberlakukannya WFO.

Berdasarkan data dari BPS tahun 2021, penduduk Jakarta sudah mencapai angka 10 juta jiwa. Yang makin membagongkannya lagi, jumlah kendaraan yang tercatat bahkan dua kali lipat jumlah penduduknya, yakni 21,7 juta unit. Itupun belum menghitung angka para pekerja komuter dan kendaraan yang datang dari luar daerah serta penambahan jumlah keduanya pada 2022.

Dengan luas jalanan yang terbatas dan volume pengguna yang besar, jarak tempuh 2 jam menjadi hal yang biasa. Itu pun hanya menghitung satu kali perjalanan saja, baik itu berangkat atau pulang. Belum kalau saat cuaca sedang hujan yang alih-alih sepi, malah makin macet!

Sebagai pemotor, selain mengatur waktu keberangkatan lebih awal, saya juga perlu memastikan fisik yang prima. Kelenturan pinggul saya selalu diuji saat harus menyalip di antara mobil dan tronton yang berbaris di jalanan Daan Mogot. Belum lagi bokong tepos saya yang nggak berdaya saat menghantam jalanan berlubang.

Sampai saat ini, pilihan menggunakan kendaraan pribadi masih menjadi hal yang paling rasional. Selain akses kereta yang jauh, pilihan transportasi lainnya nggak cukup efisien secara waktu dan ongkos.

Di daerah saya misalnya, yang mendekati standar kota, stasiun terdekat ditempuh dengan 50 menit perjalanan dari rumah alias sudah setengah perjalanan menuju kantor. Pilihan lain yang bisa mengantarkan saya ke Jakarta adalah travel atau bus AKAP yang ongkosnya setara uang makan siang.

Masalah ini pun ternyata nggak hanya menjumpai saya. Beberapa orang lainnya bahkan harus mengeluarkan effort lebih dengan berangkat sebelum subuh untuk bisa sampai ke kantor. Gila!

Baca Juga:

Percaya Estimasi Waktu Tempuh kepada Google Maps di Jakarta Sama kayak Investasi Bodong alias Sudah Pasti Kena Tipu!

Kadang saya juga heran, dengan segala keruwetannya, kok ya masih banyak yang mau bekerja di sana. Namun setelah setahun menjadi bagian dari mereka, akhirnya saya paham kenapa Jakarta masih menjadi wilayah paling diminati.

Terlepas dari nominal gaji yang memang oke, saya bisa mengatakan bahwa sektor pekerjaan dan industri di Jakarta lebih luas dan merata. Misalnya saja untuk dunia kreatif dan digital marketing seperti yang saya jalankan saat ini. Nyatanya, ketersediaan lapangan kerja tersebut masih menjadi hal yang terbatas dan sulit ditemui di daerah kabupaten. Setidaknya di tempat asal saya, Kabupaten Tangerang.

Keluwesan pencari kerja dalam mencari sektor pekerjaan yang sesuai dengan skillset mereka pun akhirnya mendorong orang-orang untuk datang ke Jakarta. Ya, argumen mengenai pemerataan yang sudah umum ini nyatanya belum begitu usang untuk menjelaskan pertambahan penduduk dan kaitannya dengan kemacetan.

Namun, apakah pertambahan jumlah manusia di Jakarta menjadi faktor utama kemacetan? Kalau kembali pada pernyataan di paragraf ketiga, ada satu lagi variabel yang perlu diperhatikan dan turut menciptakan kekacauan ini. Apa itu, adik-adik? Yak, betul. Kendaraan!

Sebenarnya isu kendaraan dan transportasi umum ini telah menjadi wacana yang sering digaungkan di mana-mana, termasuk oleh para SJW Twitter dan para kaum komuter lainnya. Sekalipun Jakarta dianggap memiliki sistem transportasi yang baik, namun ternyata hal ini belum cukup untuk mengakomodasi kebutuhan warga Jabodetabek lainnya.

Lihatlah bagaimana Stasiun Manggarai yang selalu dipenuhi oleh lautan manusia tiap harinya. Atau gerbong-gerbong KRL pada jam pulang kerja yang membuat manusia menjadi pepes hidup. Jangan ditanya sumpeknya kayak apa.

Cerita mengenai kaum komuter dan perjalanan kerjanya ini sudah seperti love-hate relationship. Satu sisi kami benci dengan segala keruwetan di jalan, namun di sisi lain ya kami butuh juga untuk mengais rezeki di sana.

Agak naif memang kalau melihat masalah ini dari hilirnya saja tanpa memerhatikan masalah di hulu. Toh pada akhirnya, masalah ini saling berkaitan antar kota satu dengan yang lainnya, apalagi di kota-kota satelit Jakarta.

Kalau bisa berandai-andai, tentunya saya berharap ada angkutan massal yang terintegrasi dan menghubungkan tiap kota. Sekalipun sudah ada KRL, tapi keberadaannya belum bisa mencakup daerah lain yang lokasinya jauh di rel.

Kalau perlu dan memang seharusnya begitu, tiap kota idealnya memiliki transportasi yang memadai. Nggak harus kereta deh, minimal angkutan umum yang nyaman dan saling terhubung dengan harga terjangkau.

Pasalnya, salah satu sebab yang mendorong orang untuk bepergian menggunakan kendaraan pribadi adalah akses transportasi umum yang belum memadai. Nggak perlu bicara jauh-jauh soal kualitas angkutan dulu, bagaimana mungkin untuk mengajak masyarakat menggunakan transportasi umum sedang transportasi umumnya aja bisa dihitung jari. 

Tapi apalah saya yang cuma bisa misuh-misuh dan berandai-andai ini. Perkara jalanan rusak dan penerangan jalan yang minim aja nggak ada tindak lanjut, apalagi membangun kota yang ramah pejalan kaki dan mudah diakses oleh siapa pun.

Pada akhirnya, kondisi yang serba terbatas dan cenderung terkesan apa adanya ini harus disikapi dengan pasrah. Atau ini cara mereka yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk mengajarkan warganya bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa terhadap sesuatu yang di luar kontrol?

Penulis: Muhamad Yoga Prastyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Apa yang Sebenarnya Perlu Kita Lakukan untuk Mengatasi Kemacetan?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2023 oleh

Tags: kemacetan di jakarta
Muhamad Yoga Prastyo

Muhamad Yoga Prastyo

Pernah juara satu lomba lari

ArtikelTerkait

Percaya Estimasi Waktu Tempuh kepada Google Maps di Jakarta Sama kayak Investasi Bodong alias Sudah Pasti Kena Tipu!

Percaya Estimasi Waktu Tempuh kepada Google Maps di Jakarta Sama kayak Investasi Bodong alias Sudah Pasti Kena Tipu!

15 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.