Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

Fauzia Sholicha oleh Fauzia Sholicha
2 Februari 2026
A A
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu momen horor yang lebih menakutkan daripada film Pengabdi Setan atau Siksa Kubur bagi kelas menengah. Momen itu terjadi setiap tanggal 25, tepat pukul 10 pagi, saat notifikasi m-banking muncul di layar HP.

Bunyinya ting! Angka gaji masuk. Rasanya hangat, seperti dipeluk pacar (kalau punya). Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan seumur jagung. Tepatnya sekitar 15 menit. Setelah itu, dimulailah ritual pembantaian saldo. Transfer bayar kos, transfer bayar cicilan laptop, bayar tagihan paylater (bekas beli baju kerja bulan lalu), isi token listrik, beli kuota internet.

Dan yang paling bikin sesak napas: melihat potongan di slip gaji. PPh 21. BPJS Kesehatan. BPJS Ketenagakerjaan. Dan sebentar lagi, konon katanya akan ada potongan Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat) yang entah rumahnya ada di dunia nyata atau di metaverse.

Setelah semua itu selesai, sisa saldo di rekening hanya cukup untuk bertahan hidup dengan mode “Zombie”: Bernapas, kerja, tidur, ulangi. Makan enak cuma mimpi.

Selamat datang di neraka tanggung bernama Kelas Menengah Indonesia.

Kita adalah lapisan masyarakat yang posisinya paling awkward, paling apes, dan paling sering kena prank pemerintah. Kita disebut “Orang Kaya” tidak pantas, disebut “Orang Miskin” tidak memenuhi syarat administrasi. Dan, kita berada di area abu-abu. Area di mana kita dianggap cukup kaya untuk diperas pajaknya, tapi dianggap terlalu makmur untuk diberi bantuan. Kita adalah sapi perah yang susunya diambil terus, tapi rumputnya disuruh cari sendiri.

Mari kita bicara jujur soal fenomena “OTW Miskin” ini.

Ilusi Gaji UMR Plus Dikit

Banyak dari kita, para pekerja muda di usia 20-an atau 30-an, merasa aman karena gaji kita sedikit di atas UMR. Kita merasa sudah “aman”. Bisa nongkrong di kafe (sesekali). Bisa beli skincare (kalau lagi promo).

Baca Juga:

Nasib Dianggap Jadi Warga Kelas Menengah: Dianggap Banyak Uang, Tak Pernah Dapat Bantuan, tapi Hidupnya Justru Paling Sering Nelangsa

Hidup dengan Gaji UMR Itu Indah, tapi Bo’ong

Tapi sadarkah kalian, bahwa status “Kelas Menengah” kita itu rapuh sekali? Serapuh kerupuk yang lupa dimasukkan toples.

Definisi Bank Dunia soal kelas menengah mungkin berdasarkan angka pengeluaran per hari. Tapi di lapangan, definisi kelas menengah Indonesia adalah: Satu Kali Sakit Parah, Langsung Jatuh Miskin.

Ya, kita tidak punya ketahanan finansial. Tabungan kita tipis. Dana darurat cuma mitos. Kenapa? Karena biaya hidup naik gila-gilaan, sementara kenaikan gaji kita naiknya malu-malu kucing.

Inflasi bahan pokok, kenaikan tarif ojol, harga sewa kos yang makin nggak ngotak, semuanya menghajar kita bertubi-tubi. Sementara itu, pemerintah dengan santainya melempar wacana kenaikan PPN jadi 12%.

Dua belas persen, Kawan. Itu artinya setiap kita beli sabun, beli lipstik, beli pulsa, kita menyumbang lebih banyak lagi ke negara. Pertanyaannya: Apa timbal baliknya buat kita?

Kalau orang kaya (konglomerat), mereka dapat insentif pajak, tax holiday, atau tax amnesty. Kalau orang miskin (kelompok rentan), mereka dapat Bansos, BLT, beras gratis, KIP Kuliah, BPJS PBI (gratis). Lah, kita? Kelas menengah dapat apa? Dapat ucapan “Terima kasih telah menjadi pahlawan devisa”? Dapat macet di jalanan yang aspalnya bolong-bolong dan polusi udara yang bikin ISPA?

Kita bayar pajak penuh, tapi fasilitas publik yang kita nikmati rasanya “B aja”. Naik KRL desak-desakan kayak ikan pindang. Naik kendaraan pribadi kena macet dan pajak kendaraan. Mau beli rumah subsidi, gaji kelebihan dikit (jadi nggak boleh). Mau beli rumah komersil, DP-nya seharga ginjal.

Posisi kita benar-benar “Maju kena pajak, Mundur nggak dapat subsidi.”

Dilema kelas menengah: terlalu miskin untuk gaya, terlalu kaya untuk dibantu

Pernah nggak sih kalian merasa iri (sedikit saja) melihat tetangga atau kenalan yang dapat Bansos? Bukan, bukan kita pengen jadi miskin. Amit-amit. Tapi ada rasa ketidakadilan yang menyelinap di hati.

Saya punya kenalan. Kerjanya serabutan, tidak punya slip gaji. Dia dapat BLT, anaknya dapat KIP Kuliah, beras dapat jatah. Padahal kalau dilihat-lihat, rokoknya jalan terus, motornya ada. Sementara saya? Tiap hari berangkat pagi pulang malam, punggung sampai encok, mata minus nambah gara-gara natap laptop, gaji dipotong pajak tertib tiap bulan.

Tapi saat harga beras naik, saya harus beli dengan harga pasar yang mahal. Saat harga BBM naik, saya harus isi bensin non-subsidi (karena gengsi atau aturan mobil/motor baru).

Kita dipaksa mandiri oleh keadaan. Pemerintah seolah berkata: “Ah, kamu kan kerja kantoran. Bajumu rapi. Pasti duitmu banyak. Urus dirimu sendiri ya.”

Padahal di balik baju rapi itu, ada dompet yang isinya struk belanjaan dan kartu kredit yang limitnya sudah over. Kita ini Orang Miskin Berbalut Kemeja Uniqlo. Tampilan luar oke, cashflow berdarah-darah.

BACA JUGA: Kelas Menengah Dipaksa Terima Nasib Saat Kelas Bawah Dianakemaskan

Jebakan “Self-Reward” dan Gaslighting Ekonomi

Lalu, muncullah para pakar keuangan (yang biasanya sudah kaya dari lahir) yang menyalahkan gaya hidup kita. “Kelas menengah itu miskin karena kebanyakan ngopi! Kebanyakan self-reward! Kebanyakan beli tiket konser!”

Halah, pret. Tolonglah berhenti melakukan gaslighting kepada kami.

Kami beli kopi mahal sesekali itu bukan karena kami boros. Itu karena kami butuh asupan kewarasan di tengah tekanan kerja yang gila. Kami self-reward beli makanan enak itu karena cuma itu hiburan yang terjangkau. Kami nggak mampu beli rumah, Bos! Jadi ya mending uangnya dipakai beli Cheese Cake biar nggak stres.

Menyalahkan segelas kopi atas ketidakmampuan kelas menengah membeli properti adalah logika yang cacat. Masalah utamanya bukan di kopi 30 ribu. Tapi, masalah utamanya adalah harga properti yang naik 100% sementara gaji kami cuma naik 5% (itu pun kalau nyampe). Masalah utamanya adalah biaya pendidikan dan kesehatan yang makin mahal, yang tidak terjangkau oleh gaji UMR plus-plus ini.

Kita terjebak dalam lingkaran setan. Mau nabung banyak, nggak bisa karena gaji pas-pasan. Nggak nabung, masa depan suram. Akhirnya kita memilih menikmati “kemewahan kecil” hari ini, sambil pura-pura lupa bahwa masa tua kita terancam terlantar.

Kelas Menengah Tumbal Defisit Negara

Yang paling menyakitkan adalah perasaan bahwa kita cuma dijadikan “tumbal”. Saat negara butuh duit buat nambal defisit anggaran, buat bayar utang, atau buat bangun proyek-proyek mercusuar yang entah buat siapa, siapa yang disasar?

Ya kita. Kelas menengah. Negara menaikkan pajak hiburan, PPN, dan akan menerapkan cukai minuman manis. Semua barang konsumsi kita dipajaki.

Kenapa menyasar kita? Karena kita jumlahnya banyak, data kita tercatat rapi di kantor (jadi gampang dipotong langsung), dan kita cenderung patuh (baca: takut) sama hukum. Kita adalah target pasar pajak yang paling seksi.

Sementara itu, pengemplang pajak besar seringkali lolos atau dapat keringanan. Koruptor masih bisa senyum-senyum. Dan kita? Kita telat melapor SPT Tahunan sehari saja sudah deg-degan takut denda.

BACA JUGA: Mahasiswa Kelas Menengah: Tidak Miskin Menurut Data, Tetap Sengsara Menurut Realitas

Apa Solusinya? Menangis Bersama?

Jujur, menulis ini saja tidak memberikan solusi. Saya tidak punya tips jitu “Cara Cepat Kaya” selain menyarankan kalian lahir kembali jadi anak pemilik tambang batubara. Tulisan ini hanya sekadar validasi. Sebuah pelukan virtual bagi kalian, sesama kelas menengah, yang sedang merasa lelah.

Kalian tidak sendiri. Perasaan sesak saat melihat slip gaji itu nyata. Kecemasan saat melihat harga barang di supermarket itu valid. Kemarahan saat melihat berita pejabat pamer harta itu wajar.

Kita sedang berada di fase transisi yang berbahaya. Dari “Kelas Menengah” menuju “The New Poor” (Orang Miskin Baru). Mungkin sebentar lagi kita harus menurunkan standar hidup. Dari kopi kafe ke kopi saset, taksi online ke angkot, beras premium ke beras jatah (kalau dapat).

Sampai kapan kita kuat bertahan? Entahlah. Yang jelas, untuk saat ini, mari kita nikmati sisa gaji yang tinggal sedikit ini. Beli cokelat, atau seblak, atau apapun yang bisa bikin hati senang sejenak.

Di negeri ini, menjadi waras adalah sebuah kemewahan yang harus diperjuangkan sendiri. Subsidi kewarasan belum tersedia, dan pajak kebahagiaan sepertinya akan segera naik.

Selamat bekerja kembali, wahai tumbal devisa. Jangan lupa senyum, meski dompetmu menangis.

Penulis: Fauzia Sholicha
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nasib Dianggap Jadi Warga Kelas Menengah: Dianggap Banyak Uang, Tak Pernah Dapat Bantuan, tapi Hidupnya Justru Paling Sering Nelangsa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2026 oleh

Tags: BLTdefinisi kelas menengah bank duniakelas menengahpenghasilan kelas menengah
Fauzia Sholicha

Fauzia Sholicha

Warga Malang yang percaya bahwa mengurus dua anak laki-laki, membalas chat pembeli, dan menulis artikel adalah bentuk multitasking level dewa. Menulis untuk menyalurkan hobi, jualan online untuk menyalurkan hobi checkout keranjang sendiri.

ArtikelTerkait

5 Pekerjaan yang Menghasilkan Banyak Cuan dalam Hitungan Jam selain Tukang Parkir dan Pak Ogah

Yang Fana Itu Waktu, yang Abadi Adalah Tukang Parkir ATM yang Tetap Minta 2 Ribu sekalipun Mereka Tak Berguna

1 Oktober 2024
Bukan Sekretaris, tapi Tugas Bendahara Adalah yang Terberat di Masa Sekolah terminal mojok.co

Polemik BLT Dana Desa di Kampung Saya Bikin Ketua RT Mengundurkan Diri

3 Oktober 2020
BLT ricuh mojok

Jangan Keburu Menyalahkan Aparat Desa sebagai Kambing Hitam Persoalan BLT

22 Juli 2020
Dana Darurat yang Perlu Disiapkan Kelas Menengah agar Bisa Selamat Menghadapi 2025 Mojok.co

Dana Darurat yang Perlu Disiapkan Kelas Menengah agar Bisa Selamat Menghadapi 2025

18 November 2024
PPN Tetap Naik, Kelas Menengah Harus Siap Jadi Sapi Perah (Lagi) Mojok.co

PPN Tetap Naik, Kelas Menengah Harus Siap Jadi Sapi Perah (Lagi)

16 November 2024
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Nasib Dianggap Jadi Warga Kelas Menengah: Dianggap Banyak Uang, Tak Pernah Dapat Bantuan, tapi Hidupnya Justru Paling Sering Nelangsa

7 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot Mojok.co

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

30 Januari 2026
4 Keistimewaan Jadi Driver Ojol yang Saya Yakin Nggak Dirasakan Pekerja Lain Mojok.co

4 Keistimewaan Jadi Driver Ojol yang Saya Yakin Nggak Dirasakan Pekerja Lain

27 Januari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
TVS Callisto 125 Itu Enak, tapi Tidak Semua Orang Siap Memilikinya

TVS Callisto 125 Itu Enak, tapi Tidak Semua Orang Siap Memilikinya

28 Januari 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

27 Januari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT
  • Juru Selamat Walkman di Bantul yang Menolak Mati Musik Analog di Tangan Spotify
  • FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi
  • 4 Jenis Orang yang Harus Dilarang Nyetir Motor di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan, Biang Nyawa Melayang
  • Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat
  • Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.