Ekspektasi liburan saya ke Lembang Bandung beberapa minggu lalu sebenarnya cukup tinggi. Sebagai pemburu promo hotel, saya bangga sekali bisa dapat penginapan model cottage bintang lima yang harga per malamnya cuma Rp500.000-an. Fasilitasnya jempolan. Ada sarapan, kolam air hangat untuk anak, dan mini living room di setiap kamar. Jauh lebih nyaman daripada city hotel yang kaku.
Akan tetapi, semangat itu mulai terusik ketika saya tertarik mencoba fasilitas berkuda keliling area hotel untuk anak saya. Saat saya tanya harganya ke resepsionis, staf hotel tersebut malah seakan bersikap lepas tangan. Bukannya menyodorkan price list resmi yang transparan, petugas resepsionis malah menyuruh saya tanya langsung ke pemandu kudanya.
Sebagai tamu, tentu saya merasa janggal. Biasanya, hotel bintang lima punya aturan harga yang jelas supaya tamunya tenang. Benar saja, keanehan di meja resepsionis itu ternyata jadi pintu pembuka pengalaman yang membuat saya sadar kalau saya sedang berhadapan dengan situasi pengibulan yang klasik.
Niat baik yang justru jadi celah pemandu kuda di Lembang bermain licik
Belajar dari pengalaman buruk membeli stroberi di Tangkuban Perahu tempo hari, di Lembang Bandung saya jauh lebih waspada. Sebelum naik kuda, saya pastikan bertanya dulu soal tarif. Pemandu menyebut angka Rp35.000 per orang untuk sekali putaran dan saya langsung setuju.
Di tengah perjalanan, beliau menawarkan apakah anak saya mau turun lebih jauh ke area bawah cottage. Saat itu, pikiran saya positif saja. Saya kira beliau bertanya karena khawatir anak saya takut dengan jalanan curam atau rimbunnya pohon pinus. Karena anak saya santai saja, saya pun mengiyakan tawarannya.
Dongkol karena dikenai tarif lebih dari kesepakatan
Saya sadar betul, jalanan menurun itu nanti akan menguras tenaga saat harus mendaki kembali ke atas. Makanya, saya sudah berniat memberi uang lebih sebagai apresiasi. Di saku, saya sudah siapkan uang dua kali lipat dari harga awal.
Akan tetapi, saat sampai di titik akhir dan saya menyodorkan uang tersebut, beliau sempat terdiam sejenak sebelum melontarkan kalimat yang bikin saya melongo. Tarifnya mendadak jadi tiga kali lipat hanya karena rutenya sampai bawah. Rasa kesal langsung menyergap karena pemandu itu tidak menginfokan tambahan biaya tersebut sejak awal.
Mungkin saya terlalu naif karena menganggap area hotel sebagai ruang aman yang steril dari tipu-tipu. Ternyata, jebakan batman masih ada di mana-mana. Masalahnya bukan sekadar nominal uangnya, melainkan transparansi.
Menawarkan jasa tanpa bicara soal tambahan biaya di muka itu, bagi saya, sama saja dengan perangkap. Alhasil, saya harus merogoh kocek Rp105.000 dengan rasa dongkol.
Pengalaman di Lembang Bandung ini benar-benar bikin saya kapok. Lain kali, saya berjanji buat tidak gampang percaya dan iba pada orang asing di tempat wisata.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
