Sebagai orang Lamongan yang menikahi perempuan asal Mojokerto, agenda mudik ke rumah mertua di Kecamatan Trowulan selalu menjadi momen yang paling saya tunggu-tunggu.
Bagi masyarakat awam, Trowulan mungkin cuma dikenal lewat buku pelajaran sejarah SD sebagai situs ibu kota Kerajaan Majapahit di masa lalu. Tempat peninggalan Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, atau Kolam Segaran yang legendaris itu.
Namun, setelah setahun lebih rutin bolak-balik dan merasakan langsung ritme kehidupan di sana, saya sampai pada satu kesimpulan yang makin hari makin mantap. Kecamatan Trowulan adalah tempat paling paripurna di Jawa Timur untuk menghabiskan masa tua.
Kalau ada orang yang bilang slow living cuma ada di pedesaan Jogja atau pelosok Bali. Fix, dia belum pernah merasakan magisnya hidup di Trowulan.
Slow living hakiki dan tradisi guyub yang belum punah
Di tengah arus modernisasi yang membuat kepala pening, Trowulan berhasil mempertahankan satu hal yang sangat langka di era sekarang: kehangatan sosial masyarakatnya.
Masyarakat di sini masih teramat sangat guyub. Sapaan ramah dari tetangga saat pagi hari, obrolan santai di pos ronda, hingga tradisi berkatan yang sangat sering terjadi. Ritme hidupnya pun tenang, tanpa terburu-buru, tapi tidak pula tertinggal.
Btw, salah satu aktivitas favorit saya tiap kali pulang ke Trowulan adalah jogging pagi atau jalan santai di tepi sawah. Memandang hamparan padi hijau yang membentang luas dengan latar belakang langit pagi yang bersih, disapa bapak-bapak petani yang hendak berangkat ke sawah, itu adalah jenis kemewahan gratisan yang tidak bisa dibeli oleh para pekerja kantoran di kota besar. Sensasi tenang yang ditawarkan benar-benar menyembuhkan penat di dada.
Tempat nongkrong bersejarah yang murah meriah (bahkan gratis) di Trowulan
Bosan dengan konsep nongkrong di kopisyop ber-AC yang menguras dompet? Di Trowulan, definisi tempat cangkruk itu naik kelas secara estetika sekaligus turun kelas secara biaya.
Bayangkan, di mana lagi kamu bisa nongkrong santai sore-sore sambil menikmati angin sepoi-sepoi di tepi Candi Brahu, Candi Bajang Ratu. Atau duduk-duduk di pinggiran Kolam Segaran tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam? Banyak sudut situs bersejarah di Trowulan Mojokerto yang bisa diakses secara murah meriah, bahkan gratis!
Duduk di pinggir Kolam Segaran sambil menikmati es kelapa muda dan tahu goreng di kala senja adalah ritual healing paling merakyat. Nilai sejarah Majapahit yang melingkupi kawasan ini memberikan atmosfer magis yang bikin pikiran mendadak tenang.
Akses sempurna: mau ke kota cuma 20 menit, mau cari “ijo-ijoan” tinggal mampir Trawas
Keunggulan terbesar Trowulan sebagai tempat menua terletak pada letak geografisnya yang sangat strategis. Ia menawarkan ketenangan desa tanpa mengisolasi diri dari fasilitas modern.
Kalau kamu mendadak rindu suasana perkotaan dan butuh belanja di mall, staycation di hotel, atau cangkruk di kedai kopi modern macam Fore dan Calf, pusat Kota Mojokerto cuma berjarak sekitar 15 sampai 20 menit saja. Bahkan kalau lagi senggang dan lalu lintas lancar, bisa sampai lebih cepat. Semua fasilitas kota, rumah sakit mumpuni, dan akses transportasi umum bisa dijangkau dengan sangat mudah.
Sementara itu, kalau kamu tipe orang yang tiba-tiba haus pemandangan hijau pegunungan dan udara dingin, kamu tinggal memutar kemudi ke arah selatan. Hanya butuh waktu 30 hingga 45 menit perjalanan, kamu sudah sampai di Trawas atau Pacet untuk menikmati lanskap hutan pinus dan pemandian air panas.
Menua di Trowulan artinya kamu mendapatkan kombinasi hidup yang paling ideal. Dikelilingi kehangatan warga yang guyub, dikepung situs sejarah yang megah, punya tempat jogging dan nongkrong yang asri. Serta hanya selemparan batu dari fasilitas kota modern dan kawasan pegunungan.
Di saat orang-orang sibuk menabung puluhan tahun demi bisa pensiun dan beli rumah kecil di Bali atau Jogja, saya rasa mereka perlu mampir dulu ke Trowulan. Siapa tahu, definisi “rumah masa depan” yang mereka cari selama ini sebenarnya ada di tanah bekas reruntuhan Majapahit ini.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.