Informasi
ADVERTISEMENT

Kecamatan Brondong punya jalan raya paling remuk di Lamongan, padahal setoran PAD gede, kok diperlakukan begini?

Kecamatan Brondong punya jalan raya paling remuk di Lamongan, padahal setoran PAD gede, kok diperlakukan begini?

Sebagai warga yang sudah 30 tahun menetap di Lamongan, saya tentu paham betul bahwa kabupaten kita ini punya banyak sudut yang membanggakan. Namun, ada satu jalur yang tiap kali saya lewati selalu berhasil memantik umpatan halus di Jalan, yakni Kecamatan Brondong.

Jujur saja, menurut kacamata saya, Brondong memegang rekor sebagai pemilik jalur jalan raya paling remuk dan memprihatinkan di seluruh pelosok Lamongan.

ADVERTISEMENT

Tolong dicatat ya: ini kuncinya ada pada kata “Jalan Raya”. Indikator penilaiannya tentu tidak bisa disamakan dengan jalan gang setapak di dalam desa yang sepi. Yang namanya jalan raya penghubung antarkecamatan, apalagi antarkabupaten di jalur Pantura, syarat mutlaknya ya harus mulus, presisi, dan aman dilalui. Bukannya jalanan yang penuh tambal sulam tak beraturan, berlubang, dan bergelombang layaknya wahana uji ketahanan suspensi sepeda motor.

Kontras pahit di garis perbatasan: Tuban Mulus, Lamongan grunjal-grunjul

Momen paling mengelus dada adalah ketika kita berkendara dari arah Lamongan menuju ke arah Tuban melintasi Brondong.

Beda rasa jalanannya itu terasa teramat sangat telak, khususnya saat roda kendaraan kita baru saja menyeberangi garis perbatasan kabupaten. Begitu menginjak wilayah Tuban, aspalnya mendadak rapi, mulus, dan enak dipakai melaju. Tapi begitu balik lagi masuk ke wilayah Lamongan di Kecamatan Brondong, kita langsung disambut oleh atraksi grunjal-grunjul yang bikin ginjal serasa bergetar.

Pengalaman kontras di perbatasan ini selalu membuat saya bertanya-tanya di sepanjang perjalanan. Maksud saya, kok bisa daerah tetangga punya jalan sebagus itu, sementara kita di sini harus disuguhi jalur remuk? Apa memang anggaran perbaikan jalannya beda? Atau jangan-jangan masalahnya ada pada komitmen pemerintahannya?

Padahal sumbangan PAD Brondong gede, kok diperlakukan begini?

Yang bikin makin mengganjal di hati bukan cuma soal rasa sakit di pinggang akibat jalan berlubang. Melainkan soal keadilan ekonomi kawasan.

Mari kita bicara jujur. Kecamatan Brondong itu bukan kawasan “anak tiri” yang sepi aktivitas ekonomi. Justru sebaliknya! Brondong adalah salah satu urat nadi perekonomian raksasa bagi Kabupaten Lamongan. 

Di sana ada Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong yang menjadi pusat perputaran uang miliaran rupiah tiap hari. Ada industri pengolahan ikan, pelabuhan, hingga aktivitas logistik maritim yang menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam jumlah yang sama sekali tidak sedikit untuk kas Pemkab Lamongan. 

Lalu, logikanya di mana? Sebuah kecamatan yang getol menyetor nilai ekonomi dan PAD jumbo untuk daerah, tapi fasilitas infrastruktur utamanya—yaitu jalan raya sebagai jalur mobilitas warga dan armada niaga—malah dibiarkan dalam kondisi yang mengenaskan? Ibarat kata, Kecamatan Brondong ini seperti anak yang disuruh kerja keras nyari uang buat keluarga, tapi sepatu yang dipakainya buat kerja dibiarkan bolong-bolong tak terawat.

ADVERTISEMENT

Jalan raya itu kebutuhan dasar, bukan bonus

Membiarkan jalan raya di kawasan strategis seperti Brondong terus-menerus dalam kondisi tambal sulam yang tidak presisi itu bukan cuma merugikan secara estetika kota, tapi juga mengancam keselamatan jiwa para pengendara. Sudah tidak terhitung berapa banyak pengendara motor yang terperosok atau oleng gara-gara menghindari lubang dan permukaan aspal yang tidak rata di sana.

Mulusnya jalan raya di kawasan pesisir harusnya bukan lagi dianggap sebagai barang mewah atau “bonus” hadiah dari pemerintah daerah, melainkan kebutuhan pelayanan publik paling mendasar.

Sudah saatnya Pemkab Lamongan memberikan perhatian yang sepadan untuk Brondong. Jangan sampai warga dan para pelaku ekonomi di sana terus-menerus merasa “iri” tiap kali melirik mulusnya jalan raya milik tetangga di Tuban.

Toh, wakil bupatinya juga berasal dari Kecamatan Brondong. Masak iya nggak kerasa malu kalau dibanding-bandingkan? Masak iya daerahnya sendiri dibiarkan remuk redam dan selalu “sungkan” jika dibandingkan dengan wilayah tetangga? Mau sampai kapan ini, Pak? Tulung banget ini mah!

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Gerakan Warga Menambal Jalan di Lamongan Cerminan Betapa Muak Warga terhadap Pemerintah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2026 oleh .

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.