Informasi
ADVERTISEMENT

Katanya anak bungsu dimanja, saya malah kebagian tugas mengubah nasib keluarga

Katanya anak bungsu dimanja, saya malah kebagian tugas mengubah nasib keluarga

Orang-orang bilang anak bungsu biasanya paling dimanja. Keinginannya paling sering dituruti, kesalahannya paling mudah dimaafkan, dan kalau bertengkar dengan kakak, hampir pasti kakaknya yang dimarahi lebih dahulu.

Saya tidak tahu anak bungsu versi keluarga lain seperti apa. Namun, di keluarga saya, menjadi anak bungsu rupanya bukan sekadar posisi dalam urutan kelahiran. Saya seperti mendapat jabatan khusus sebagai kepala divisi perubahan nasib keluarga. Tidak ada surat pengangkatan dan tidak ada serah terima jabatan. Tiba-tiba saja semua orang berharap saya sekolah tinggi dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Jarak usia saya dengan kakak pertama 15 tahun, sedangkan dengan kakak kedua 12 tahun. Jarak yang cukup jauh untuk membuat kami tinggal dalam satu keluarga, tetapi menjalani tahap kehidupan yang sangat berbeda.

Saya belajar menghitung angka, kakak saya belajar menghitung gaji

Ketika saya masih menghafal perkalian, kakak-kakak saya sudah mempelajari perhitungan yang sesungguhnya, gaji dikurangi ongkos kerja, kebutuhan rumah, dan berbagai pengeluaran yang selalu datang dengan percaya diri. Soal matematika saya masih berbunyi, “Budi mempunyai lima buah apel.” Persoalan mereka sudah berbunyi, “Kalau gajian masih dua minggu lagi, uang yang tersisa cukup sampai kapan?” Tentu saja tidak ada pilihan ganda.

Saat saya masih duduk di bangku SD, kakak-kakak saya sudah bekerja sebagai cleaning service. Pagi hari, saya diantar ke sekolah dengan buku-buku di dalam tas. Pada waktu yang hampir bersamaan, kakak saya berangkat bekerja dengan cara berbeda. Satunya mengayuh sepeda, sementara yang lain berjalan menuju pangkalan angkot keduanya membawa tanggung jawab untuk membantu keluarga.

Ketika saya masih belajar perkalian dan menunggu jam istirahat agar bisa membeli jajanan, kakak-kakak saya sudah belajar menghitung ongkos perjalanan, kebutuhan rumah, dan sisa gaji sampai akhir bulan. Saya pulang sekolah membawa PR. Mereka pulang bekerja membawa lelah sekaligus tanggung jawab.

Setelah lulus sekolah, mereka tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka langsung bekerja karena keadaan keluarga tidak memberikan banyak waktu untuk berhenti, mempertimbangkan pilihan, apalagi mencari jurusan yang paling sesuai dengan minat. Sementara mereka diminta kehidupan untuk segera menjadi dewasa, saya masih diperbolehkan menjadi anak-anak.

Anak bungsu yang tumbuh melihat sandwich

Saya tumbuh dengan melihat abang menjadi bagian dari sandwich generation bahkan sebelum istilah tersebut populer di media sosial. Belakangan, istilah sandwich generation sering muncul dalam berbagai konten. Biasanya ada seseorang yang memegang kopi, menatap kosong ke jendela, kemudian menjelaskan bahwa gajinya harus dibagi untuk orang tua, adik, dan kebutuhan sendiri.

Abang saya tidak pernah membuat konten semacam itu. Mungkin karena tidak sempat. Menjadi sandwich saja sudah melelahkan, apalagi masih harus buat konten Di keluarga kami, keadaan tersebut tidak mempunyai nama khusus. Kalau ada kebutuhan rumah, ya dipikirkan bersama. Kalau uang tidak cukup, ya dicari lagi. Andai lelah, ya beristirahat sebentar, kemudian kembali bekerja. Kehidupan terus berjalan tanpa menunggu kami mengetahui istilah akademiknya.

Sebagai anak bungsu, saya memperoleh sesuatu yang sangat mahal: waktu. Saya mempunyai waktu untuk bersekolah, belajar, mengikuti perlombaan, dan memikirkan cita-cita. Kakak-kakak saya tidak mempunyai kemewahan untuk terlalu lama mencari jati diri. Mereka harus segera bekerja karena kebutuhan keluarga tidak dapat dibayar menggunakan kalimat, “Saya sedang dalam proses mengenal diri sendiri.”

Dahulu saya menganggap seluruh pencapaian pendidikan saya sebagai hasil kerja keras pribadi. Saya rajin belajar, mengikuti perlombaan, menjadi juara olimpiade ekonomi, lulus sebagai peringkat pertama jurusan, kemudian diterima di Universitas Negeri Jakarta.

Kalau kisah tersebut dibuat menjadi video motivasi, formulanya sudah lengkap. Tinggal tambahkan foto rumah sederhana, musik instrumental yang pelan, dan video saya berjalan sambil menatap jauh. Setelah itu, munculkan tulisan, “Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.”

Padahal, hasil kadang-kadang tidak mengkhianati usaha karena ada orang lain yang diam-diam ikut membayar ongkosnya.

Saya tidak pernah berdiri sendiri

Semakin dewasa, saya menyadari bahwa ketekunan saya tidak pernah berdiri sendiri. Saya dapat belajar lebih lama karena ada anggota keluarga yang lebih dahulu bekerja. Saya dapat mengejar prestasi karena orang-orang di rumah menahan sebagian keinginan mereka. Dan, saya mempunyai waktu untuk memikirkan masa depan karena kakak-kakak saya lebih dahulu memastikan keluarga kami dapat melewati hari ini.

Barangkali inilah bentuk ketimpangan yang paling dekat, tetapi jarang dibicarakan. Bahkan dalam satu keluarga, setiap anak dapat menerima kesempatan yang berbeda. Bukan karena orang tua lebih menyayangi salah satunya, melainkan karena setiap anak lahir dalam keadaan ekonomi yang tidak selalu sama.

Kakak-kakak saya tumbuh ketika keluarga belum mempunyai banyak pilihan. Mereka lebih cepat memasuki dunia kerja dan lebih cepat pula dipaksa menjadi dewasa. Saya lahir belakangan, ketika perjuangan orang tua dan kakak-kakak perlahan menciptakan sedikit ruang bagi si bungsu untuk memilih jalan berbeda.

Saya boleh sekolah lebih lama, boleh memiliki cita-cita yang tidak langsung menghasilkan uang. Bahkan saya boleh menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari ilmu ekonomi, sebelum akhirnya memahami bahwa ekonomi keluarga saya sendiri dibangun dari banyak pengorbanan yang tidak pernah masuk buku pelajaran.

Orang-orang mungkin melihat saya sebagai anak bungsu yang paling beruntung. Itu benar. Namun, keberuntungan tersebut datang bersama satu pesan yang tidak pernah benar-benar diucapkan, tetapi selalu dapat saya rasakan

Saya anak bungsu, dan harus memiliki kehidupan yang lebih baik….

Begitulah bentuk kemanjaan yang saya terima. Bukan dibelikan semua yang saya inginkan, melainkan diberi kesempatan yang tidak diperoleh kakak-kakak saya. Sebagai gantinya, saya memikul harapan agar kesempatan tersebut tidak berakhir sia-sia.

Anak bungsu lain mungkin diminta menjaga orang tua ketika sudah tua. Saya juga. Namun, sebelum itu, saya seperti diminta membuktikan bahwa seluruh pengorbanan keluarga kami menghasilkan sesuatu. Tidak ada tekanan, tentu saja. Hanya masa depan keluarga yang sesekali ikut duduk di sebelah saya ketika sedang belajar.

Saya sarjana pertama keluarga. Nama saya bertambah panjang karena memiliki gelar, tetapi pemahaman mengenai keluarga justru membuat diri saya terasa semakin kecil.

Saya mulai menyadari bahwa ijazah saya tidak hanya dibayar dengan uang kuliah saja. Di dalamnya ada tenaga Bapak yang pernah berjualan mainan ketika tubuhnya tidak lagi mampu mengerjakan pekerjaan berat. Ada doa Ibu yang tetap menganggap pendidikan penting meskipun keadaan ekonomi kami jauh dari mudah. Ada pula masa muda kakak-kakak saya yang lebih dahulu digunakan untuk bekerja.

Nama saya memang yang tercetak di ijazah. Namun, biaya sosialnya dibayar bersama-sama

Saya bangga menjadi orang pertama dalam keluarga yang menyelesaikan pendidikan tinggi. Namun, kebanggaan tersebut tidak lagi terasa sebagai kemenangan pribadi. Saya memang orang pertama yang sampai, tetapi bukan orang pertama yang berjalan.

Ada orang-orang yang tidak pernah duduk di bangku kuliah, tetapi tenaganya ikut mengantarkan saya ke sana. Ada orang-orang yang tidak mengenakan toga, tetapi pengorbanannya hadir dalam setiap foto wisuda saya. Juga, ada pula kakak-kakak yang tidak memperoleh kesempatan untuk bermimpi selama yang saya dapatkan.

Kadang-kadang saya bertanya, jalan hidup seperti apa yang akan mereka pilih jika dahulu mempunyai kesempatan belajar lebih lama. Apakah mereka ingin kuliah? Apakah mereka mempunyai pekerjaan impian? Atau apakah mereka pernah ingin mencoba sesuatu, tetapi keadaan meminta mereka segera bersikap realistis?

Saya tidak tahu. Mungkin mereka sendiri tidak sempat memikirkannya. Hidup terlalu cepat meminta mereka menjadi dewasa. Tidak semua orang memperoleh waktu untuk mengikuti tes minat bakat, menyusun rencana lima tahun, atau mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion. Sebagian orang langsung ditempatkan pada bagian bertahan hidup tanpa sempat mengikuti masa orientasi.

Karena itu, saya tidak ingin menceritakan perjalanan hidup saya menggunakan kesimpulan sederhana bahwa siapa pun pasti berhasil selama mau bekerja keras. Kalimat itu terdengar indah, tetapi agak malas.

Tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada anak yang bisa belajar dengan tenang karena kebutuhan rumahnya sudah terpenuhi. Ada pula anak yang harus bekerja agar adiknya tetap dapat sekolah. Keduanya mungkin sama-sama cerdas dan sama-sama rajin. Hanya saja, salah satunya mempunyai waktu untuk mengejar cita-cita, sedangkan yang lain harus lebih dahulu menjaga keluarganya tetap bertahan.

Saya adalah anak yang mendapatkan waktu itu.

Anak bungsu yang dibukakan jalannya oleh keluarga

Saya memang belajar dengan sungguh-sungguh. Namun, jauh sebelum saya mencoba mengubah nasib melalui pendidikan, keluarga saya lebih dahulu mengubah keadaan agar saya dapat bersekolah.

Jadi, kalau ada yang mengatakan anak bungsu paling dimanja, saya tidak akan membantah. Saya memang dimanja, hanya dengan cara yang agak tidak biasa. Saya diberi waktu untuk belajar ketika kakak-kakak saya lebih dahulu bekerja. Serta, saya diberi ruang untuk bercita-cita ketika mereka sibuk menghadapi kenyataan.

Saya diberi kesempatan menempuh pendidikan tinggi, kemudian secara halus dititipi proyek kecil bernama masa depan keluarga.

Sungguh bentuk kemanjaan yang sangat ambisius.

Hari ini, saya memahami bahwa tugas saya bukan sekadar mengumpulkan gelar atau memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Saya harus memastikan bahwa seluruh kesempatan yang diberikan keluarga tidak berhenti pada keberhasilan pribadi.

Sebab menjadi anak bungsu yang “mengubah nasib” seharusnya bukan berarti melarikan diri sendirian dari keadaan lama. Kalau saya berhasil naik, saya harus tetap mengingat siapa saja yang menopang tangga dari bawah.

Saya mungkin orang pertama dalam keluarga yang menyelesaikan pendidikan tinggi. Namun, saya bukan orang pertama yang memperjuangkannya.

Katanya anak bungsu dimanja. Saya memang dimanja, diberi kesempatan sekolah lebih lama, diizinkan mempunyai cita-cita, lalu dipercaya membawa harapan satu keluarga.

Lumayan. Anak lain mendapat mainan. Saya mendapat mandat mobilitas sosial.

Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Logat Tegal Bukan Produk Hiburan, Jadi Tolong Jangan Olok-Olok Kami ketika Lagi Ngobrolin Hal-Hal Serius!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2026 oleh .

Sekar Tri Widati

Guru SMA yang masih seneng belajar, walau kadang lebih sering belajar sabar. Cita-citanya sederhana, suatu hari jadi pejabat, tapi sebelum itu masih sibuk ngajar dan pura-pura hidupnya tertata.