Beberapa kolega saya di Karawang membagi story di WhatsApp mengenai kondisi pasca banjir yang terjadi di sana. Tahun ini, banjir di daerah yang terkenal dengan industrinya itu terjadi berkali-kali. Sejak awal Januari, sudah ada beberapa banjir yang terjadi. Menurut kolega saya, ini jadi banjir yang terparah dalam sejarahnya ia tinggal di Karawang.
Banjir sebenarnya bukan hal yang mengagetkan untuk orang Karawang. Ada tiga sungai besar yang membelah wilayah Karawang, mulai Sungai Cibeet, Cilamaya, dan Citarum. Jika satu saja meluap, Karawang jelas akan tertutup banjir. Dan itu tak bisa dihindarkan, sebab sungai-sungai tersebut mengalami penyempitan.
Imbasnya pada awal 2026 ini kawasan Karawang jadi salah satu yang terdampak bencana banjir. Tidak cukup satu hari, bahkan sampai dua pekan banjir merendam beberapa kawasan, utamanya yang ada di sekitar DAS Citarum.
Banjir Karawang yang begitu parah luput dari perhatian pemerintah daerah
Masifnya pembangunan di wilayah Karawang dalam tiga dekade ini jadi penyumbang utama penyebab banjir yang dirasakan warganya. Sebut saja di wilayah Karangligar, Telukjambe Barat yang beberapa waktu lalu terendam banjir hingga dua pekan lamanya. Alih-alih dapat perhatian dari Pemerintah Daerah Karawang, warga di wilayah ini seakan-akan dibiarkan tenggelam. Padahal ada banyak solusi yang bisa dilakukan pemangku kebijakan untuk menangani banjir ini.
Salah satunya Pemda Karawang Bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum bisa melakukan mitigasi penanganan banjir agar tidak berangsur lama dan merugikan warganya. Saya akui wilayah ini memiliki topografi yang rendah dan rentan menjadi kawasan langganan banjir di Karawang bagian barat. Namun idealnya sebagai tampuk pimpinan tertinggi di daerah sudah seharusnya pemerintah mengambil kebijakan cepat agar masalah banjir di sana bisa diatasi sesegera mungkin.
Untuk jangka panjang, normalisasi sungai Citarum bisa menjadi pilihan di tengah kondisi sungai yang kini mulai banyak ditemukan sedimen tanah dan penyempitan.
Banjir tiap tahun, izin industri tetap turun
Kolega saya yang tinggal di Karawang memang menyebut jik banjir yang terjadi di sana memang jadi langganan setiap tahunnya. Namun yang ia sayangkan justru tidak ada perhatian lebih dari Pemda melakukan penanganan dalam jangka panjang. Pemda malah sibuk menambah permasalahan dengan menambah izin industri yang tidak sedikit abai akan ekologi. Sebut saja Kawasan Industri di Ciampel, Karawang wilayah yang tidak jauh dari Sungai Citarum yang justru menambah kerusakan ekosistem di sana.
Belum lagi yang ada di Telukjambe Barat , yang kabarnya juga ditemukan aliran limbah yang dibuang ke Sungai Citarum. Kalau begini, industri yang untung, warganya buntung, karena mereka Cuma dapat banjirnya saja. Ini belum lagi beban sungai yang menopang industri di sana mulai dari Parungmulya hingga Cikampek, Karawang.
Namun hingga kini, tetap saja izin bisa turun meski ekologi hancur lebur. Lagi-lagi warga yang jadi korbannya.
Masalah ekologi perlu dipikirkan sejak dini
Saya herannya begini. Kawasan Karawang ini sudah maju, industrialisasinya yang masif jelas jadi penyumbang utama kemajuannya. Tapi, perkara ekologi, selalu jadi nomor sekian. Maksudnya tuh, jika ingin fokus membangun industri, jangan lupakan perkara ekologi. Sebab percuma banget pabrik berdiri kokoh kalau wilayah sekitarnya terendam banjir.
Idealnya, Pemda wajib menerbitkan aturan baku guna mengembalikan ekologi sungai yang ada di wilayah Karawang. Jangan sampai di masa mendatang Karawang jadi Jakarta yang siap tenggelam tiap hujan. Itu ya kalau peduli, sih.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
