Sebelum menjadi mahasiswa, saya sebenarnya bukan orang yang suka berutang. Bukan hanya nggak suka, saya sangat menghindari utang. Sebab bagi saya, punya utang itu bikin hidup nggak nyaman. Tidur nggak enak, pergi ke mana-mana juga nggak enak. Tapi semua itu berubah ketika saya masuk kampus, ketika saya setiap hari nongkrong di kantin kampus langganan.
Di kantin kampus saya, sebenarnya sudah ada aturan yang melarang utang. Tapi saya dan beberapa orang cukup beruntung sebab masih bisa berutang. Mungkin karena sudah cukup akrab, dan setiap hari ada di sana. Ya, meskipun utangnya tergolong kecil, entah hanya untuk sepiring nasi pecel lauk tempe goreng atau segelas teh hangat, dan harus segera dibayar, nggak boleh numpuk.
Fenomena utang di kantin tentunya tidak hanya ada di kampus saya. Di kampus-kampus lain tentu ada mahasiswa yang suka berutang, dan ada kantin yang memperbolehkan mahasiswa untuk utang. Dari fenomena ini, mungkin muncul pertanyaan, bagaimana cara ibu kantin tetap untuk dan tidak boncos meskipun ada banyak mahasiswa yang utang.
Jumlah pembeli yang nggak utang jauh lebih banyak
Pertanyaan di akhir kalimat di atas pernah saya tujukan ke ibu kantin di kampus saya. Ibu kantin menjawab dengan sederhana, bahwa mahasiswa yang beli makanan atau minuman secara tunai masih jauh lebih banyak ketimbang yang utang. Apalagi di kantin tersebut, mahasiswa yang boleh utang juga hanya sedikit, hanya yang benar-benar akrab dan bisa dipercaya. Salah satunya adalah saya.
Ini jadi salah satu alasan mengapa kantin di kampus nggak akan boncos walau banyak yang utang. Sederhananya begini. Let’s say per hari ada 10 mahasiswa yang berutang dengan nominal masing-masing 15 ribu. Lalu ada 100 hingga 150 mahasiswa atau dosen yang tiap harinya membayar tunai. Secara matematika sederhana, 10 mahasiswa yang berutang ini nggak akan berpengaruh signifikan terhadap alur keuangan kantin.
Toh, mahasiswa ini nggak setiap hari utang, kan?
Margin keuntungan yang besar, sehingga bisa menutupi utang
Sederhananya begini. Makanan dan minuman yang dijual di kantin (terutama di kampus saya) itu sederhana. Makanannya mungkin hanya nasi campur dengan lauk yang nggak macam-macam, atau mie instan. Minumannya juga normal, paling hanya es teh, es jeruk, kopi hitam, dan aneka kopi instan. Makanan dan minuman seperti itu HPP-nya kecil, perputarannya cepat, dan margin keuntungannya besar, bisa sampai 50 persen.
Ini masih nyambung dari poin sebelumnya. Margin keuntungannya sudah besar, sudah mereka anggap mampu menutupi “kerugian” akibat utang para mahasiswa. Margin keuntungan besar, jumlah pembeli yang membayar tunai jauh lebih banyak ketimbang yang utang, jadi faktor mengapa kantin kampus aman-aman saja.
Itulah mengapa ibu kantin nggak akan khawatir bahwa usaha mereka akan boncos walaupun ada yang utang.
Sebanyak-banyaknya mahasiswa yang berutang di kantin kampus, pasti dibayar
Selain faktor teknis seperti jumlah pembeli dan margin keuntungan, ada faktor nonteknis seperti kedekatan antara ibu kantin dengan para mahasiswa yang utang. Kedekatan ini mungkin bikin mahasiswa bisa lebih mudah untuk berutang ke ibu kantin. Namun, kedekatan ini juga bikin mahasiswa punya sense of belonging terhadap kantin kampus.
Sense of belonging ini membuat mahasiswa tidak lepas tanggung jawab dengan utangnya. Mereka punya rasa saling memiliki, dan nggak ingin kantin kampus boncos atau sampai tutup. Sebanyak-banyaknya utangnya, pasti akan mereka lunasi. Entah minggu depan, bulan depan, entah sebelum lulus, atau mungkin setelah mereka jadi alumni. Utang-utang saya di kantin juga sudah saya lunasi beberapa pekan sebelum mulai skripsian. Aman saja, lah. Jadi, mathematically, keuntungan kantin kampus akan tetap segitu. Tidak hilang, hanya tertunda saja.
Tiga hal inilah yang membuat kantin di kampus nggak akan boncos walau banyak yang berutang. Di kantin kampus langganan saya, tiga hal inilah yang juga terjadi. Maka nggak heran jika keberadaan orang-orang seperti saya, yang beberapa kali suka berutang, nggak akan berpengaruh banyak ke alur bisnis kantin.
Lagian, yang bikin kantin kampus cepat boncos dan bangkrut itu bukan mahasiswa yang kerap utang. Utang itu faktor kecil, kok. Toh, jumlah mahasiswa yang utang di kantin kampus juga sudah nggak sebanyak dulu. Apalagi sekarang hampir semua kantin kampus sudah punya aturan tegas soal larangan utang.
Faktor terbesar yang bikin kantin kampus boncos dan bangkrut adalah perekonomian yang memburuk dan naiknya bahan baku atau bahan pokok. Kalau bahan pokok naik, harga jual akan naik. Kalau harga jual naik, daya beli mahasiswa turun. Jika daya beli mahasiswa turun, makanan dan minuman di kampus jadi nggak laku. Kalau sudah begini, ya pasti akan boncos dan bangkrut.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kantin Fisipol UGM Adalah Kantin Kampus Terbaik, kalau Lebih Luas, Makin Nggak Ada Lawan!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.