Saya sudah excited banget waktu berhasil pesan tiket KA Bengawan seminggu sebelum keberangkatan. Bahkan saya sengaja pilih kursi dekat jendela biar bisa menikmati pemandangan selama perjalanan. Tapi ternyata, ekspektasi dan realitas itu kadang jauh berbeda.
Formasi duduk berhadapan di KA Bengawan yang bikin sesak
Hal pertama yang langsung bikin saya kaget adalah formasi duduknya. Kereta Bengawan ini pakai sistem duduk berenam dalam satu baris yang saling berhadapan. Bayangin, tiga orang duduk di satu sisi menghadap tiga orang lainnya. Jaraknya? Jangan ditanya. Lutut saya benar-benar hampir bersentuhan dengan lutut penumpang di hadapan.
Berbeda jauh dengan kereta ekonomi new generation yang sekarang pakai captain seat dengan formasi 2-2. Di KA Bengawan, kursinya masih model panjang yang harus berbagi tempat dengan dua orang lain di samping. Nggak ada sandaran tangan individual, nggak ada ruang pribadi. Semuanya berdempetan.
Belum lagi kalau dapat tetangga yang badannya besar atau bawa bawaan banyak. Otomatis ruang gerak jadi makin sempit. Mau geser dikit ke kanan atau kiri, udah mentok sama orang sebelah. Mau lurusin kaki, langsung kena kaki orang di depan. Enam jam perjalanan dalam posisi kayak gini? Pegal nggak tuh?
Drama kursi jendela yang hilang
Nah, ini dia yang paling bikin kesel. Saya kan sudah pesan kursi nomor 12A, yang di sistem kereta artinya kursi dekat jendela. Saya bayar tepat waktu, dapat konfirmasi, semuanya beres. Waktu naik KA Bengawan, saya langsung cari nomor kursi saya dengan semangat.
Eh, sampai di kursi tersebut, ternyata sudah ada ibu-ibu duduk di situ. Oke, saya pikir mungkin salah tempat. Saya tunjukin tiket saya dengan sopan, bilang kalau itu kursi saya.
Tapi responsnya di luar dugaan. Si ibu malah bilang, “Dek, ibu kan sudah duduk duluan di sini. Kamu duduk aja di kursi sana yang kosong, sama aja kok.”
Sama aja? Serius? Saya sudah booking kursi di KA Bengawan ini jauh-jauh hari, pilih-pilih kursi jendela, bayar tepat waktu, tapi disuruh pindah ke kursi tengah yang berdempetan sama dua orang asing?
Awalnya saya coba jelaskan baik-baik kalau saya memang sudah pesan kursi itu. Tapi si ibu tetap ngeyel, bilang dia naik lebih dulu jadi punya hak duduk di sana. Bahkan dia bilang, “Masa anak muda nggak mau ngalah sama orang tua sih?”
Saya jadi serba salah. Di satu sisi, saya punya hak atas kursi yang sudah saya pesan dan bayar. Di sisi lain, ada tekanan sosial buat “ngalah” sama orang yang lebih tua. Akhirnya dengan berat hati, saya pilih duduk di kursi tengah yang berdempetan, jauh dari jendela yang sejak awal saya inginkan.
Kenyamanan yang jauh dari ekspektasi
Enam jam perjalanan dengan KA Bengawan di kursi tengah yang berdempetan dengan formasi berenam itu benar-benar terasa panjang. Saya nggak bisa menikmati pemandangan karena ketutup dua orang di samping. Mau tidur pun susah karena kursinya tegak 90 derajat tanpa bisa diatur kemiringannya.
Bahkan sandaran kepalanya pun nggak ada. Jadi waktu ngantuk dan kepala jatuh ke samping, langsung kena bahu orang sebelah. Awkward banget.
AC di gerbong juga kurang merata. Bagian depan dingin banget sampai penumpang pada pakai jaket, sementara bagian belakang gerah. Kebetulan kursi saya di bagian yang gerah, jadi sepanjang jalan berasa pengap.
Stopkontak dan USB port? Jangan harap. Saya harus pasrah melihat baterai HP turun drastis tanpa bisa dicharge. Untung saya bawa powerbank, tapi tetap aja nggak sepraktis kalau ada colokan di dekat kursi.
Pelajaran berharga dari perjalanan bersama KA Bengawan
Setelah pengalaman naik KA Bengawan itu, saya jadi lebih menghargai kereta-kereta yang sudah upgrade fasilitasnya. Kereta ekonomi new generation dengan captain seat dan formasi 2-2 itu bukan cuma soal gengsi, tapi benar-benar soal kenyamanan dan hak setiap penumpang.
Soal drama kursi jendela yang diambil orang lain, saya belajar bahwa penting untuk tegas memperjuangkan hak kita. Ngalah itu baik, tapi kalau terus-terusan ngalah, kapan kita bisa menikmati sesuatu yang sudah kita bayar dengan benar?
Untuk KA Bengawan sendiri, saya berharap ke depannya bisa upgrade seperti kereta ekonomi lainnya. Formasi duduk berenam yang berdempetan ini sudah nggak relevan lagi di era modern. Penumpang butuh ruang pribadi, kenyamanan, dan yang paling penting, tempat duduk sesuai yang sudah mereka pesan.
Sampai KA Bengawan berubah, sepertinya saya akan cari alternatif kereta lain dulu kalau mau bepergian. Pengalaman sekali ini cukup buat jadi pelajaran kenyamanan perjalanan itu penting, dan kita berhak mendapatkan apa yang sudah kita bayar.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Ambarawa Ekspres, Kereta Api yang Menyesatkan Calon Penumpang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
