Informasi
ADVERTISEMENT

Jurusan Ilmu Politik bukan jurusan yang gampang buat cari kerja, prospeknya begitu gelap

5 Istilah di Jurusan Ilmu Politik yang Kerap Disalahpamahi. Sepele sih, tapi Bikin Emosi Mojok.co

Buat teman-teman yang masih SMA, mulailah berpikir dua kali apabila kalian menginginkan kuliah jurusan Ilmu Politik. Sebab, jurusan ini bener-bener bikin kalian pusing, bukan karena materi kuliahnya, tapi prospek kerja ke depannya.

Memang betul, jurusan ini mampu membuat kita bisa ngerti bagaimana politik itu bukan cuma dimaknai sebagai “lulusan yang siap jadi anggota Dewan”, bukan. Tapi politik itu bikin kita ngerti bagaimana teori-teori kekuasaan dan power itu bekerja. Nah masalahnya, ilmu itu nggak selamanya kepake di kehidupan sehari-hari.

Kan jarang tuh ada orang nongkrong di coffeshop skena sambil mikir, “ini konsep kafenya ngangkat tema pascakolonial banget sih ini”. Atau orang beli nasi padang sambil mikir, “esensi epistemologi dan aksiologi dari rendangnya itu bagaimana ya”, Nggak ada mas!

Tapi begitulah hidup di jurusan Ilmu Politik. Di awal kita dikasih semangat bahwa ini jurusan keren, jurusan para calon pemimpin bangsa, jurusan yang ngajarin kita mikir kritis, peka terhadap isu sosial, dan bisa bedain mana kepentingan publik dan mana kepentingan pribadi, ya meskipun ujung-ujungnya keduanya sering nyampur juga kan?

Awalnya doang keren, begitu selesai pasti pusing!

Awalnya sih keren, kita disuguhi bacaan tentang Marx, Weber, Foucault, Gramsci, sampe Habermas. Tapi begitu masuk semester lima ke atas, mulai sadar kalau ternyata yang dibaca itu nggak bisa langsung dikonversi jadi “lowongan kerja di LinkedIn”.

Coba aja ketik “lowongan pekerjaan untuk lulusan Ilmu Politik”, hasilnya bisa jadi random banget, ada staf administrasi, content writer, analis kebijakan, atau fresh graduate yang siap ditempatkan di mana saja yang artinya, ya terserah nasibmu aja.

Padahal waktu awal kuliah, kita pikir belajar politik itu bakal bikin kita punya posisi penting dalam pemerintahan. Nyatanya, kursi penting diisi bukan karena IPK atau judul skripsi yang keren, tapi karena kedekatan dan elektabilitas.

Jadi, kalau kamu kira kuliah Ilmu Politik bakal langsung bikin jalanmu mulus jadi anggota dewan, ya siap-siap kecewa. Karena realitasnya, anggota dewan banyak yang bahkan latar belakangnya bukan politik. Malah ada yang insinyur, ada yang pengusaha, bahkan ada juga yang dulunya penyanyi dangdut. Dan akhirnya kita cuma bisa mikir, “Lulusan politik tuh fleksibel banget.” Bisa jadi apa aja, tapi ya…nggak ada yang pasti juga.

Kita bisa nulis opini, bisa riset, bisa analisis data, bisa ngomong di depan umum, bisa juga debat sama orang. Tapi semuanya itu cuma jadi “nilai plus”, bukan “jaminan kerja”.

Kalo udah ambil Ilmu Politik, terus harus gimana?

Dan di sinilah penderitaan itu makin terasa. Anak-anak saintek udah sibuk nyari magang di laboratorium, dapet tawaran kerja dari perusahaan, atau minimal bisa ngeles privat matematika. Sementara anak-anak soshum, terutama yang dari Ilmu Politik, masih sibuk mikir, “Aku tuh sebenernya harusnya kerja di mana sih?”

Mau ngelamar ke BUMN, dimintanya skill teknik. Pengin ke startup, disuruh bisa analisis data. Mau ke lembaga riset, ya saingannya anak HI, Hukum, sama Ekonomi.

Ujung-ujungnya? Balik lagi ke rumah, buka laptop, nulis opini di Mojok atau jadi admin akun politik receh di Instagram. Ya, ini stigma klasik, lulusan soshum susah cari kerja.

Padahal bukan karena ilmunya nggak berguna, tapi karena bentuk manfaatnya nggak bisa diukur dari angka atau sertifikat. Kalau anak teknik bisa bangun jembatan, anak politik bisa jelasin kenapa jembatan itu dibangun dan siapa yang diuntungkan. Tapi sayangnya, jarang ada lowongan kerja yang nanya, “Tolong analisis ideologi di balik pembangunan jembatan ini.”

Pahami ini dulu

Ilmu Politik itu ibarat bahan mentah paling lengkap di dapur akademik. Bisa kamu olah jadi apa aja. Bisa jadi penulis, peneliti, jurnalis, aktivis, dosen, atau bahkan politisi. Tapi kalau kamu nggak tahu cara ngolahnya, ya cuma bakal jadi bahan mentah yang beku di kulkas. Masalahnya bukan di bahan, tapi di kokinya. Makanya, mau nggak mau, kita harus jujur bahwa kuliah Ilmu Politik itu bukan soal “langsung dapet kerja”, tapi soal “bagaimana kamu mengolah ilmunya jadi sesuatu yang berguna”.

Yang bisa berpikir tajam, terbiasa analisis, dan tahu arah pergerakan biasanya akan survive. Tapi yang kuliah cuma buat ikut-ikutan, atau biar bisa debat sama dosen tanpa tahu kenapa, ya siap-siap aja tersesat di hutan LinkedIn. Tapi ya mau gimana lagi? toh pilihan udah diambil. Kalau kamu udah mutusin ambil Ilmu Politik, ya tuntaskan. Jangan nyalahin jurusannya, salahin aja ekspektasimu yang pengin instan.

Jadi buat kalian yang udah terlanjur masuk jurusan ini, ya nikmatin aja prosesnya. Nggak usah minder, nggak usah nyalahin nasib. Ilmu Politik itu kayak kopi hitam alias pahit di awal, tapi kalau tahu cara nyeruputnya, rasanya justru paling jujur.

Buat yang baru mau daftar Ilmu Politik, pikirkan baik-baik. Karena di jurusan ini, kamu nggak cuma belajar tentang negara, tapi juga tentang dirimu sendiri, tentang gimana caranya bertahan hidup di sistem yang kadang lebih politik dari politik itu sendiri.

Penulis: Azzhafir Nayottama Abdillah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kuliah Jurusan Ilmu Politik Itu Berat, Nggak Semua Orang Kuat: Setelah Lulus Susah Cari Kerja, Masih Harus Memikul Stigma Buruk pula

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 September 2026 oleh .

Azzhafir Nayottama Abdillah

Mahasiswa Ilmu Politik yang memiliki pengalaman menulis selama 5 tahun. Memiliki minat riset dan pendidikan.

Exit mobile version