Jadi, buat yang selama ini minder karena Jombang nggak punya pantai, cobalah sekali-kali luangkan waktu sore hari buat menepi ke pinggir Sungai Brantas
Jombang memang sering jadi bahan candaan sebagai kota transit. Kota yang dilewati kalau mau ke Kediri, Malang, atau Surabaya. Kalau orang lain pamer reels Instagram dengan deburan ombak pantai selatan atau angin kencang pantai utara, warga Jombang cuma bisa senyum simpul. Jelas saja, secara geografis, kota santri ini sama sekali nggak punya garis pantai.
Tapi tunggu dulu. Pandangan sebelah mata itu langsung runtuh seketika waktu seorang teman asli Tulungagung main ke rumah beberapa waktu lalu. Sambil menyeruput kopi hitam di sore hari menjelang magrib, dia tiba-tiba melontarkan kalimat yang bikin saya manggut-manggut.
“Enak ya jadi orang Jombang, nggak perlu jauh-jauh macet-macetan ke pantai cuma buat cari ketenangan. Cukup nongkrong di bantaran Sungai Brantas sore-sore begini, suasananya udah dapet banget.”
Riak air dan siluet Jembatan Ploso
Pernyataan teman saya itu ada benernya juga. Bantaran Sungai Brantas, terutama di sekitar Jembatan Ploso atau area-area tertentu yang menghadap langsung ke aliran air raksasa ini, punya magisnya sendiri. Sungai Brantas bukan sekadar aliran air biasa, melainkan adalah saksi bisu peradaban Jawa, nadi kehidupan yang membelah provinsi ini sejak era kerajaan dulu.
Beda sama pantai yang suasananya cenderung bising oleh deburan ombak besar dan teriak wisatawan, sore di pinggir Brantas menawarkan ketenangan yang kontemporer dan kontemplatif. Airnya mengalir tenang, kadang sesekali memantulkan warna jingga langit senja yang perlahan tenggelam di balik cakrawala barat.
Siluet jembatan, lalu-lalang perahu tambang tradisional yang ditarik sling baja, sampai burung-burung kuntul yang pulang ke sarang, menciptakan pemandangan sinematik gratis yang nggak bakal ditemukan di kota-kota pesisir.
Mewahnya menikmati senja tanpa harus cuti kerja
Keuntungan terbesar tinggal di kota tanpa pantai tapi dibelah Sungai Brantas adalah aksesnya. Orang-orang pesisir yang notabene hidup dekat laut mungkin menganggap pantai sebagai hal biasa. Tapi buat mereka, menikmati sore dengan memandang hamparan air luas sambil ngopi di warung kopi pinggir sungai adalah kemewahan tersendiri yang butuh perjalanan jauh kalau dilakukan di daerah asalnya.
Bagi saya, duduk di atas motor atau tikar plastik sederhana sambil menikmati angin sore Brantas adalah bentuk healing kelas pekerja. Nggak perlu bayar tiket masuk, nggak perlu pusing mikirin biaya parkir mahal, dan yang paling penting, bebas dari sengatan udara pantai yang lengket karena garam. Udara di sini lebih ramah buat kulit, khas pedalaman daratan Jawa Timur yang adem.
Warung pinggir Sungai Brantas dan obrolan tanpa beban
Di bantaran Brantas, suasananya jauh lebih cair dan membumi. Warung-warung kopi sederhana milik warga lokal berdiri berjajar menawarkan seduhan kopi tubruk dan gorengan panas yang masih ngebul.
Sambil memandang kapal penyeberangan tradisional yang lalu-lalang membawa motor dan penumpang, obrolan ringan mengalir begitu saja tanpa beban. Nggak ada gengsi, nggak ada rasa risih.
Jadi, buat yang selama ini minder karena Jombang nggak punya pantai, cobalah sekali-kali luangkan waktu sore hari buat menepi ke pinggir Sungai Brantas. Sadari kalau alam selalu punya cara adil untuk membagikan keindahannya.
Kalau orang pesisir saja bisa kepincut sama syahdunya senja di sungai ini, kenapa warga lokal sendiri harus berkecil hati? Jombang punya cara elegannya sendiri untuk merayakan senja.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Nongkrong Sore di Sungai Brantas Kediri Sudah Nggak Nyaman Lagi Gara-gara Ini
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













