Informasi
ADVERTISEMENT

Jogja Selalu Dianggap Manis, Padahal Ujungnya Selalu Pahit

Jogja Selalu Dianggap Manis, Padahal Ujungnya Selalu Pahit (Unsplash)

Keindahan yang tak menjamin hubungan abadi

Jogja, kota yang selalu dipuja karena keindahan alamnya, warisan budayanya yang kaya, dan nuansa romantis yang tak tertandingi. Namun, jangan sampai pesona kota ini membutakan kita terhadap kenyataan pahit.

Keindahan Jogja tidak menjamin keabadian hubungan cinta kita. Kota ini akan tetap menjulang megah, tak peduli berapa banyak hati yang hancur di sana. Meskipun kota ini bersinar dengan pesona yang menggoda, hubungan cinta kita tak akan selalu mengikuti alur yang sama. 

Tempat-tempat yang dulu menjadi saksi dari momen-momen indah bersama pasangan, kini hanya menjadi pengingat dari kegagalan hubungan yang tak terelakkan. Setiap jalan yang kita lewati di kota ini, menyimpan cerita sedih tentang cinta yang tak bertahan lama.

Lebih baik kita menikmati keindahan Jogja sebagai individu yang merdeka, tanpa terbelenggu oleh ikatan asmara yang berujung tragis. Kita harus belajar untuk mencintai diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum mencari cinta di tempat lain. Kota ini seharusnya menjadi tempat di mana kita menemukan kedamaian dalam diri sendiri, bukan tempat di mana kita terperangkap dalam siklus cinta yang tak kunjung berujung.

Kota ini menyakitkan, tapi memberi makna

Kesimpulannya, Jogja itu bukan “gudang asmara”. Jadi, di tengah gemerlapnya kota ini, biarkanlah hatimu tetap tajam seperti kopi hitam di sudut warung. Jangan biarkan pesona kota ini merayu dan membutakanmu. 

Jadilah pemberani yang berani mengeksplorasi Jogja bukan hanya dengan mata, tapi juga dengan hati yang teguh. Karena, di antara rindu yang terucap dan senyum yang terpendam, mungkin kota ini bukan hanya tempat untuk jatuh cinta, melainkan juga untuk bangkit dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Selamat menjelajah, para petualang kehidupan!

Penulis: Suci Nengtyas

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Pandangan Saya Terhadap Jogja Berubah Setelah Merantau, Ternyata Kota Ini Nggak Istimewa Amat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2024 oleh .

Suci Nengtyas

Saya Suci Nengtyas, seorang mahasiswi dari Universitas Ahmad Dahlan yang tak pernah berhenti mengejar kisah-kisah hidup di kota Jogja. Gemar menulis puisi yang mengalir dari perasaan, kini saya tengah melangkah lebih jauh dalam dunia tulis-menulis dengan mempelajari seni membuat opini, esai, dan karya tulis lainnya. Saya sedang menelusuri kehidupan dengan pena di tangan dan hati yang terbuka. Dengan semangat yang membara, saya menuliskan setiap potongan kisah hidup dan mengalirkan perasaan sehingga membawa pembaca ke dalam perjalanan batin yang penuh makna dan inspiratif.