Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sebagai orang yang pernah tinggal di sana, saya harus jujur kalau Jogja kini menjelma jadi kota besar yang membosankan

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
23 Juli 2026
A A
Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide (Unsplash)

Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Banyak orang bilang, pergi ke Jogja ibarat kembali pulang. Tapi, jujur saja, perasaan itu sepertinya sudah lama kedaluwarsa di kepala saya. Saya memang kebetulan lahir di Jogja dan sempat menghabiskan tahun-tahun kuliah di sana. Namun, begitu masa studi kelar, saya lekas meninggalkan Kota Pelajar dan kembali jadi warga Semarang tulen.

Tentu bakal ada yang berpendapat bahwa wajar saja saya bosan karena lama tinggal di Jogja. Padahal, bukan itu poinnya. Toh, mitosnya Jogja terbuat dari rindu dan siapa saja bakal terus-menerus kangen untuk balik lagi. Meski saya punya banyak penggalan kisah dan ikatan batin yang cukup lekat, realitanya tetap sama. Buat saya pribadi, Jogja kini sudah menjelma jadi kota besar yang membosankan setengah mati untuk sekadar dikunjungi.

ADVERTISEMENT

Jogja terus menjual kesederhanaan basi dengan harga premium

Jogja tampaknya kadung nyaman hidup dari sisa-sisa kejayaan masa lalu. Ia menjual narasi kesederhanaan murah hati untuk dibanderol dengan harga tinggi. Dulu, bersantai di tepi jalan adalah pelarian yang menenangkan. Sekarang, pengalaman itu dikemas ulang dalam bungkus estetik, kemudian disajikan dengan harga yang merontokkan isi dompet.

Coba tengok sekeliling. Konsep nongkrong santai atau sekadar menikmati kuliner rakyat telah bermutasi menjadi komoditas industri pariwisata yang masif. Berani bertaruh. Hari ini pelancong tak akan lagi menemukan keintiman kultural yang tulus.

Yang menyambut mereka justru lautan manusia di tempat-tempat yang dilahirkan algoritma. Keramahan lokal pun perlahan kehilangan keikhlasannya lantaran sadar betul ada nilai rupiah di setiap senyumnya. Singkatnya, kehangatan Jogja yang dulu personal kini telah menyusut menjadi relasi yang sepenuhnya transaksional.

Kemacetan jalan di Jogja yang bikin darah tinggi

Percayalah, keliling Jogja menikmati angin sore sekarang tinggal dongeng pengantar tidur belaka. Realitasnya, jalanan Jogja hari ini sudah berubah wujud jadi sirkuit kemacetan yang paling ampuh buat jadi bahan bakar emosi. Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru menuding para pelancong luar kota sebagai biang keroknya.

Usut punya usut, lautan kendaraan berpelat luar daerah itu juga hasil sumbangan dari barisan mahasiswa pendatang. Kalau sudah begitu keadaannya, Jogja praktis kehilangan keunikannya. Tak ada bedanya lagi dengan kota-kota besar lain di Indonesia yang sumpek. Bahkan, yang bukan menyandang status kota wisata.

Semua elemen kota yang dipaksa Instagramable

Mau cari suasana baru di Jogja? Sayangnya, sudut-sudut kota ini sekarang justru berlomba-lomba terjebak dalam satu cetakan yang itu-itu saja. Mulai dari kedai kopi berkonsep minimalis atau industrial, pojok baca berkedok galeri seni, hingga tempat nongkrong yang menyuguhkan es kopi susu gula aren dengan rasa yang beda-beda tipis dan membosankan.

Baca Juga:

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Bahkan, tempat wisatanya pun nyaris tak ada bedanya. Kebanyakan cuma mengekor tren. Kalau bukan mengandalkan mini zoo, ya dibanjiri spot foto bak Pinterest demi konten.

Padahal, Jogja punya modal yang luar biasa kaya. Selain bentang alamnya yang indah dari ujung gunung hingga tepi pantai, kota ini juga menyimpan warisan sejarah dan budaya yang pekat. Sialnya, semua keistimewaan itu kini seolah tenggelam dan tertutupi oleh menjamurnya destinasi musiman yang hidupnya hanya bergantung pada viral di media sosial.

Jogja cuma jadi wadah pengujian tren, keasliannya sudah menguap entah ke mana

Bukan rahasia lagi kalau Jogja sekarang udah berubah fungsi jadi semacam laboratorium mini buat segala macam tren instan. Di kalangan para pelaku usaha, ada semacam rumus tak tertulis. Kalau mau bikin bisnis, lihat dulu apa yang lagi booming di luar negeri. Cangking ke Jakarta buat ritus awal, lalu boyong ke Jogja buat uji coba.

Ramainya pendatang dengan segudang latar belakang membuat Jogja dianggap paling ideal buat dijadikan kelinci percobaan. Logikanya, kalau suatu tren bisa diterima dan sukses di Jogja, artinya produk itu sudah lulus uji dan siap diekspansi ke seluruh pelosok negeri. Yang menjamur bukan cuma konsep kafe yang itu-itu lagi. Tapi juga kuliner viral berumur jagung sampai gaya nongkrong masyarakatnya.

Gara-gara itu semua, orisinalitas Jogja seolah terkikis habis. Alhasil, kota sebesar dan selegendaris Jogja malah kehilangan jiwanya. Kota Istimewa sudah terjebak dalam lingkaran setan yang monoton dan berujung jadi kota besar yang menjemukan untuk disambangi.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Itu Indah asalkan Kamu Nggak Keluar Rumah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2026 oleh

Tags: Jogjakafe di jogjaKota Istimewawisata di kota jogja
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

 Terminal Janti: Gerbang untuk Pulang, Rindu, dan Patah Hati di jogja flyover janti

Jembatan Janti Dibuat Jogja Menjadi Tempat yang Celaka bagi Warga : Sudah Gelap Gulita, Akses Jalan Dibiarkan Rusak

22 Mei 2025
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Salah Kaprah Anggapan Jogja Serbamurah. Tabok Saja kalau Ada yang Protes! terminal mojok.co

Upah Kerja Rendah di Yogyakarta, Siapa yang Paling Menderita?

22 November 2020
Cari Kos Murah di Jogja Makin Susah, 600 Ribu Cuma Dapat Fasilitas Seadanya dan Terletak di Pinggiran Mojok.co

Cari Kos Murah di Jogja Makin Susah, 600 Ribu Cuma Dapat Fasilitas Seadanya. Ada sih yang Mewah, tapi di Pinggiran

19 Juni 2025
Jogja Darurat Mata Elang alias Debt Collector: Sering Bikin Onar dan Meneror Pengendara padahal Salah Sasaran, Bikin Waswas Saat Berkendara! matel

Jogja Darurat Mata Elang alias Debt Collector: Sering Bikin Onar dan Meneror Pengendara padahal Salah Sasaran, Bikin Waswas Saat Berkendara!

3 Agustus 2025
5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Sulit Ditemukan Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota Mojok.co

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

20 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

20 Juli 2026
Seminggu buka jastip sudah cukup membuat saya paham kenapa jastiper sering pasang fee mahal

Seminggu buka jastip sudah cukup membuat saya paham kenapa jastiper sering pasang fee mahal

18 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Apa salahnya mahasiswa kkn di kota? Mereka sedang belajar, bukan cuma nyari enak

20 Juli 2026
Sebaiknya para pejabat berhenti bawa-bawa Jawa Timur untuk tameng atas gaya bicara yang arogan

Sebaiknya para pejabat berhenti bawa-bawa Jawa Timur untuk tameng atas gaya bicara yang arogan

23 Juli 2026
Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

20 Juli 2026
Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer Mojok.co

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.