Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jogja Bikin Betah, tapi Kalau Mau Jadi Pekerja yang Tahan Banting dan Sukses, Mending Kerja di Semarang

Ida Rahayu oleh Ida Rahayu
15 Oktober 2025
A A
Jogja Bikin Betah, Mau Sukses Kerja ke Semarang (Unsplash)

Jogja Bikin Betah, Mau Sukses Kerja ke Semarang (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya lahir, besar, dan dididik di Jogja. Kota yang katanya istimewa dan saya setuju sepenuh hati. Soalnya, di Jogja, semua terasa pelan tapi pasti. Bahkan kalau kita jalan kaki di trotoar Malioboro, rasanya seperti hidup punya mode “slow motion” tapi nggak ngebosenin.

Ada kalanya, pindah kota bukan cuma pindah tempat tinggal. Pindah kota berarti pindah banyak hal. Mulai dari pindah suasana, nada bicara, dan kadang, frekuensi.

Tapi setelah lulus kuliah, takdir membawa saya ke Semarang untuk kerja. Saya pikir, “Ah, sama-sama Jawa Tengah, pasti nggak jauh beda.” Ternyata saya salah besar. Bedanya seperti antara teh panas dan es dawet: sama-sama enak, tapi efeknya ke tubuh beda jauh.

Sebagai buruh pabrik, saya sudah biasa berhadapan dengan panas dari mesin produksi sampai hasil kerja yang over spec. Tapi panas di Semarang ini beda, bukan panas biasa. Ini panas yang bisa membuat kamu sadar dosa hanya dengan berdiri lima menit di bawah terik matahari pukul tiga sore.

Kalau di Jogja, jam segitu masih bisa nongkrong di angkringan, menyeruput kopi jos, sambil ngerasain angin sore yang manis. Di Semarang? Baru niat keluar, keringat sudah meeting duluan di punggung.

Ritme hidup Jogja dan Semarang yang begitu berbeda

Hidup di Jogja itu kayak nonton film indie. Tenang, kadang absurd, tapi penuh makna. Sedangkan di Semarang, ritmenya kayak lagu dangdut remix di hajatan: cepat, padat, dan bikin jantung ikut berjoget.

Di kantor, misalnya, semuanya serba “cepat-cepat.” Data harus masuk sekarang, laporan harus kelar sore ini, revisi harus diserahkan kemarin. Di Jogja, saya bisa ngetik sambil nyeruput teh dan mikir “Hidup nggak usah buru-buru, toh rezeki nggak ke mana.” 

Di Semarang, belum sempat mikir gitu, sudah ditegur atasan, “Laporan QC mana, Mbak?”

Baca Juga:

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

Saya jadi sadar, ternyata bukan cuma udara yang panas di Semarang. Suasana kerjanya juga.

Orang-orangnya juga punya ciri sendiri

Saya harus akui, orang Semarang itu to the point. Kalau mereka nggak suka, ya dibilang. Kalau salah, ya ditegur langsung. Efisien, tapi kadang bikin jantung olahraga mendadak.

Berbeda dengan orang Jogja yang terkenal halus. Kalau marah, nadanya tetap sopan, bahkan kadang nggak sadar kalau sebenarnya sedang dimarahi. Misalnya:

“Nggih, mungkin ke depannya bisa lebih hati-hati, nggih.”

Padahal maksudnya: “Kamu ngulang lagi, tak jitak!”

Biaya dan rasa hidup

Soal biaya hidup, Jogja jelas lebih murah. Di sana, sepiring nasi kucing tiga ribu bisa bikin bahagia. Di Semarang, harga segitu baru dapat senyum dari penjualnya.

Tapi lebih dari sekadar murah, Jogja punya rasa hidup yang hangat. Mungkin karena banyak mahasiswa, pedagang, dan warga yang terbiasa berbagi ruang dan waktu. Semua terasa dekat, akrab, dan manusiawi.

Sementara di Semarang, semua terasa fungsional. Orang-orangnya sibuk, waktunya mahal. Saya nggak menyalahkan siapa-siapa. Mungkin memang begitulah wajah kota industri. Tapi kadang saya kangen suasana di mana tukang parkir masih bisa bercanda dan ibu warung masih sempat nanyain, “Lho, kok kelihatan capek, Mbak?”

Jogja bikin betah, Semarang bikin tahan

Meski begitu, saya nggak menyesal kerja di Semarang. Kota ini mengajarkan saya hal-hal yang nggak akan saya dapat di Jogja. Di sini, saya dapat latihan disiplin, efisiensi, dan kemampuan menahan panas luar biasa tanpa meleleh.

Kalau Jogja bikin saya betah, Semarang bikin saya tahan. Dua-duanya penting. Karena hidup, ternyata, butuh kenyamanan sekaligus ketangguhan.

Tapi tetap saja, tiap kali cuti dan pulang, begitu bus masuk batas kota dan saya lihat tulisan “Selamat Datang di Kota Yogyakarta”, hati saya langsung bilang:

“Ah, pulang juga. Akhirnya bisa keringetan karena makan sambal, bukan karena cuaca.”

Penulis: Ida Rahayu

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Hal-hal yang Lumrah di Jogja, tapi Tidak Biasa di Semarang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2025 oleh

Tags: buruh pabrikcuaca semarangJogjakarier di semarangMalioboroSemarangsemarang panas
Ida Rahayu

Ida Rahayu

Perempuan asal Yogyakarta yang kini bekerja sebagai pegawai pabrik di Semarang. Lulusan Pendidikan Biologi yang lebih sering meneliti tingkah laku manusia dibanding tumbuhan. Suka menulis hal-hal ringan tentang kehidupan sehari-hari, terutama soal adaptasi, logat, dan hal-hal kecil yang sering luput tapi lucu.

ArtikelTerkait

Malioboro Nggak Cocok untuk Jogging Pagi Kaum Introvert (Pexels)

Malioboro Nggak Cocok untuk Jogging Pagi Kaum Introvert: Terlalu Ramai dan Full Fotografer

24 Januari 2025
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Stasiun Semarang Poncol: Saksi Bisu Sejarah hingga Urban Legend di Sudut Kota Semarang

Stasiun Semarang Poncol: Saksi Bisu Sejarah hingga Urban Legend di Sudut Kota Semarang

17 Mei 2023
Jogja Terbuat dari Pembacokan, Jalan Rusak, dan Menghindari Masalah (Unsplash)

Jogja Terbuat dari Pembacokan, Jalan Rusak, dan Menghindari Masalah

8 Februari 2023
Jogja Gelap dan Nggak Kuat Beli Lampu Penerangan Jalan (Unsplash)

Apakah Jogja Itu Begitu Miskin sampai Nggak Mampu Meremajakan Lampu Penerangan Jalan yang Makin Payah Itu?

18 November 2023
Orang yang Bikin Viral Kasus Parkir Bis di Jogja Memang Pantas Dilaporkan

Orang yang Bikin Viral Kasus Parkir Bis di Jogja Memang Pantas Dilaporkan

22 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel Mojok.co

Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel

27 Maret 2026
Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

29 Maret 2026
Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.