Tinggal di kos atau kontrakan mengajarkan saya bahwa hidup berdampingan dengan orang lain ternyata ada seninya. Bukan cuma soal saling menyapa atau menjaga kebersihan, tetapi juga memahami aturan-aturan kecil.
Salah satunya adalah etika menggunakan tempat jemuran.
Menurut saya, ada satu aturan tidak tertulis yang harus disepakati bersama ketika tinggal di kos atau tinggal bersama banyak orang. Bahkan, kalau perlu, aturan tersebut dituliskan saja agar semakin jelas dan mengikat. Aturan itu adalah jangan biarkan baju yang sudah kering memenuhi ruang jemuran.
Terdengar sederhana memang, tapi tidak semua orang ternyata memahaminya.
Saya juga heran kok ada penghuni kos yang membiarkan pakaiannya lama-lama dijemur. Saya curiga ada penghuni yang mengira tali jemuran itu semacam gudang penyimpanan pakaian. Mau sudah kering dua hari, tiga hari, bahkan lebih dari itu, tetap saja dibiarkan bergelantungan.
Merepotkan penghuni kos lain
Berkat penghuni kos yang malas angkat jemuran, kadang saya sampai mengurungkan niat mencuci hari itu. Bukan karena malas, tetapi karena bingung cucian nanti dijemur di mana.
Saya pernah nekat mencuci banyak pakaian dengan harapan nanti pasti ada spot jemuran yang kosong. Nyatanya, jemuran tetap penuh.
Alhasil, cucian yang sudah bersih cuma mengendap di ember semalaman, bahkan sampai mulai bau. Rasanya benar-benar percuma sudah capek mencuci kalau akhirnya mentok gara-gara tali jemuran tidak kunjung kosong.
Saya paham semua orang sibuk. Ada yang kerja pagi sampai malam, ada yang shift-shift-an, ada yang punya anak kecil. Tapi, bukankah justru karena sama-sama sibuk, kita harus sama-sama sadar kalau tempat jemur itu dipakai bersama? Jangan mentang-mentang bajunya sudah kering, lalu dibiarkan menikmati angin sepoi-sepoi selama berhari-hari.
Di tempat saya tinggal ada delapan petak kontrakan atau kos. Sebagian besar sudah berkeluarga. Artinya, sekali nyuci baju, yang keluar bukan lima potong pakaian saja, tapi bisa satu gunung cucian. Masalahnya, tali jemuran tetap jumlahnya segitu-gitu saja.
Akhirnya yang belum mencuci malah ikut pusing. Mau nyuci sekarang takut tidak kebagian tempat. Ditunda, besok belum tentu jemurannya kosong. Besoknya lagi, ternyata kaus yang sama masih setia menggantung di tempat yang sama.
Lucunya, orang yang paling dirugikan justru sering kali adalah orang yang berusaha tertib. Kita sengaja mengangkat jemuran begitu kering supaya orang lain bisa memakai tempatnya. Eh, giliran mau menjemur, tempatnya sudah dikuasai penghuni lain yang entah kapan akan diangkat.
Etika tidak tertulis yang mungkin sebaiknya dituliskan saja
Menurut saya, hidup di kos itu bukan cuma soal bayar uang sewa tepat waktu. Ada etika kecil yang tidak pernah ditulis pemilik kos, tetapi menentukan nyaman atau tidaknya hidup bersama. Salah satunya ya tahu diri kalau jemuran itu dipakai bareng, bukan buat satu orang saja.
Tolonglah ya, mengangkat jemuran itu hanya butuh beberapa menit.
Terlebih bagi yang tinggal bersama pasangan atau keluarga, rasanya bukan hal yang sulit untuk saling bergantian. Siapa yang lebih dulu sampai rumah, ya dia yang mengangkat. Beda dengan saya yang masih bujang. Kalau bukan saya yang mengangkat jemuran, ya memang tidak akan ada orang lain.
Lagi pula, mengangkat jemuran jauh lebih sebentar daripada membuat tetangga berkali-kali mengurungkan niat mencuci hanya karena talinya masih penuh. Jangan sampai yang kering malah betah di jemuran, sementara yang kotor terus mengendap di ember cucian.
Penulis: Ahmad Nasihin
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













