Jangan Salah Paham dengan Pertemanan Kami, Para Pemalu

pemalu

pemalu

Sepertinya bukan pertama kalinya saya dicap sebagai gadis pemalu dan pendiam ketika saya terjun di lingkungan baru. Hmm, padahal sifat genuine saya itu ‘barbar’ dan tukang rusuhjust if I feel comfort to you, I’ll show up.

Memang, tak mudah bagi saya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Sama seperti antibodi yang akan menyeleksi bakteri atau virus yang bersiap masuk ke dalam tubuh kita, begitulah saya dalam pertemanan. Saya sangat suka berteman, siapa yang tidak? Hanya saja, saya sangat ingin mencari kualitas dalam sebuah pertemanan, bukan sekedar kuantitas.

Dan beginilah saya, di lingkungan baru: akan terlihat pendiam dan pemalu—bahkan dicap sombong dan introvert. Ngomong-ngomong soal kata terakhir tadi, introvert, jangan selalu salah diartikan, yah. Fyi, kepribadian introvert tidak bisa dinilai dari pendiam dan pemalunya seseorang atau tidak, tapi dari bagaimana mereka men­-charge energi dalam diri mereka hingga stabil—apakah dengan menyendiri atau bersama teman-teman, beramai-ramai. Saya sih memang termasuk orang yang introvert lebih suka menyendiri dan mengambil waktu tenang untuk mengisi daya saya sampai penuh.

Kembali lagi ke masalah awal, sifat pemalu saya memang sering disalahpahami dengan hal negatif, seperti tak bisa melakukan apapun (no skills), tak ramah, tak asik untuk diajak ngobrol, dan lain-lain. Memang tak serta-merta mereka mengatakannya di telinga saya, namun dari cara mereka memperlakukan saya menunjukkan faktanya: mereka tak akan melibatkan saya dalam banyak hal, sekedar akan meng-hai sebagai formalitas ketika berpapasan, dan melemparkan senyum sebagai bentuk “saya sudah menyapamu, yah”.

Namun, hal seperti itu masih dapat saya maklumi sebagai manusia yang berpengertian tinggi. Hal yang membuat saya sedikit terusik sebenarnya adalah ketika mereka bertanya “Kamu punya teman, gak, sih?” Pertanyaan macam ini belum pernah secara langsung ditanyakan kepada saya, saya baru saja mengetahui ada pertanyaan jenis ini yang dilemparkan kepada seorang pendiam dan pemalu seperti saya—dan teman saya mendapatkannya dari teman magangnya.

Saya sih agak heran, yah, dengan pertanyaan—atau mungkin pernyataan—yang konyol itu. Apakah kamu punya teman seakan ada seluruh orang pendiam dan pemalu—di lingkungan baru—itu adalah orang yang menyedihkan dan perlu dikasihani sealam semesta ini. Bagaimana bisa terlintas di benak mereka untuk bertanya hal seperti itu?

Sini, saya jelasin dengan sudut pandang orang pemalu lain. Saya memang sangat susah masuk ke dalam lingkaran pertemanan yang baru dan bahkan bisa memakan waktu 2 semester bagi saya untuk berani menunjukkan siapa saya hingga akhirnya mereka lulus menjadi bagian dari circle saya. See? Kalau di pertemuan pertama saja sudah bertanya punya temen atau gak kepada saya, yah bisa jawab sendiri. Pertanyaannya kan cuma punya temen atau gak, bukan punya temen-temen atau gak, kan? Berarti kalaupun saya hanya punya seorang teman, saya termasuk dalam tipe have a friend, right?

Lagipula, mana ada orang yang tak mau berteman. Siapapun akan mendamba akan hadirnya sosok teman—jika naik level, akan menjadi sahabat bahkan, ehem, pacar—untuk menemani masa ups and downs or betweens-nya. Saya sendiri akan sangat geleng-geleng jika orang tak mau membuka diri dengan yang namanya sosialisasi. Bagaimanapun juga, kita kan makhluk Homo socius yang memang tak bisa sendiri hidup di dunia yang bulatannya besar ini.

Tapi, saya mohon, jangan pernah menarik kesimpulan atau melakukan generalisasi bahwa si pendiam adalah orang yang paling menyedihkan karena tak punya teman. Kalian tahu? Kamilah orang yang sangat pandai dalam memilih teman berkualitas—tak sekedar berdasarkan jumlah. Selektif dan awet. Misalnya seperti saya, saya bisa bertahan pada sahabat saya sejak SMP dan dia satu-satunya yang bertahan hingga lebih dari satu dekade meskipun kami jauh dan bonusnya, saya tentu akan memperhitungkan dia sebagai orang VVIP di hari penting saya kelak.

Dan sekedar clue, ada satu hal yang membuat saya sangat selektif dalam dunia pertemanan dan ini sangat ditegaskan dalam ajaran agama saya. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik atau bad company (communion, associations) ruins (corrupts, depraves) good manners (morals, characters) dalam bahasa Inggris memiliki makna yang lebih tajam.

Saya harap, setelah ini tak ada lagi istilah pemalu = tak punya teman (teman-teman) atau supel = banyak teman. Kalian tidak tahu aja apa yang telah mereka semua lalui. Karena semua orang akan punya caranya sendiri dalam menyesuaikan karakter dari tokoh-tokoh yang akan berperan dalam panggung kehidupannya. (*)

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.
Exit mobile version