Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif (Hartono Subagio/Pixabay)

Kini, saya mulai bingung melihat Surabaya Utara. Sebab, kalau mau jujur, agaknya berbagai prestasi yang dibanggakan Pemkot Surabaya akan sulit ditemukan buktinya di bagian utaranya ini. Yang katanya penataan kotanya rapi, ramah lingkungan, patuh berlalu lintas, dan lain sebagainya tak ada yang saya temukan di sini. Saya jadi merenung, Surabaya Utara ini masih dianggap Surabaya atau sudah diserahkan pada Madura sih?

Pikiran itu terutama muncul saat kemarin saya keliling ke Surabaya Utara setelah sekian lama tak pernah ke sana. Dulu, sebetulnya saya sering menetap di sana saat liburan. Tapi karena waktu itu saya masih kecil, saya tak punya kesempatan untuk melihat daerah lain di Surabaya, sehingga ya cuma di Surabaya Utara itu saja. Nah, perjalanan saya kemarin ini benar-benar memberikan kesadaran baru pada saya bahwa Surabaya Utara itu emang beda sama daerah Surabaya lainnya.

Level panasnya berbeda

Saya tidak paham sedekat apa posisi matahari dengan Surabaya Utara dibandingkan dengan wilayah Surabaya lainnya. Tapi, tingkat level panas di wilayah ini saya rasa sudah di atas rata-rata daerah lain. Kalau di Surabaya lain, saya merasa biasa saja merasakan panasnya. Meskipun harus menunggu lampu merah, kemudian disusul kereta api yang bikin macet berlama-lama, saya masih mampu menunggu tanpa sambatan.

Nah sementara di Surabaya Utara, jujur rasa sabar saya seperti tak sekuat biasanya. Alasannya, nuansa panasnya di sini jadi berbeda. Ya, kendaraan memang ramai tapi tidak sampai macet kok. Tapi itulah yang malah bikin kita merasa emosi, sebab kendaraannya besar-besar. Truk besar, tronton, bus antar kota, semua lewat sini. Jadi maklum panasnya minta ampun.

Saat masuk gang pun sama, jalannya yang sempit bikin kita sulit menyalip kendaraan lain. Kalau sudah ada di belakang mobil, mustahil kita bisa mendahuluinya. Jadi, kita otomatis harus pelan. Haduh!

Jalanan Surabaya Utara menguji kesabaran

Awalnya, saya kira berkunjung ke Surabaya Utara pas siang-siang merupakan pilihan terbaik. Di jam-jam seperti itu, mungkin akan lebih sepi karena orang sedang bekerja. Tapi ternyata salah, jalanan di Surabaya Utara tetap ramai.

Ya, seperti yang sudah saya ceritakan, kita akan sulit untuk mempercepat kendaraan kita. Saya sampai heran, orang-orang mau ke mana sih panas-panas kaya gitu memenuhi jalanan.

Tapi bukan itu saja yang menguji kesabaran, di sana juga banyak perempatan sekaligus yang berbentuk tikungan. Sehingga, kita harus lebih ekstra fokus saat menyeberangnya. Apalagi kalau ketemu gang yang ditutup karena ada hajatan orang Madura. Cuma ada satu pilihan, yakni putar balik dan cari jalan lain.

Aroma jalanan baunya campur aduk

Kemudian, yang tak kalah mengganggu pula, aroma jalanan di sini punya bau sendiri, yakni aroma sampah, kali yang kotor, dan berbagai bebauan menjadi satu. Pokoknya campur aduk. Saya tak mengatakan daerah Surabaya lainnya tidak ada yang seperti itu. Tapi di bagian utara ini, kaya hampir semuanya.

Dulu saya mengira itu memang bau khas Surabaya sebagai wilayah kota, ternyata tidak. Jika saya berkunjung ke daerah lain yang lebih tertata, ada juga ternyata yang bersih dan rapi. Kalau kalian berkunjung ke sini, pasti pahamlah yang saya maksud. Makanya, saya bilang Surabaya Utara itu berbeda dengan wilayah lainnya.

Terakhir, saya rasa jalanan di Surabaya Utara juga lebih jarang pepohonan, makanya suhu panas di sini berbeda. Apalagi area ini sangat dekat sama pantai, jadi maklum kalau level panasnya di atas yang lain. Hmmm, kapok saya keluyuran ke sini pas siang-siang!

Yah, sekian pengalaman saya yang tak mengenakkan ini. Saya pribadi juga bingung apa bisa kita mengubah Surabaya Utara lebih rapi dan dingin lagi, tentunya tanpa ada diskriminasi loh ya. Kan eman, brandingnya punya banyak penghargaan, tapi ternyata ada kawasan yang dibiarkan. Hehehe.

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Dilema Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version