Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jalan Terjal yang Saya Alami karena Botak di Usia Muda

Fernando Galang Rahmadana oleh Fernando Galang Rahmadana
18 Januari 2021
A A
Jalan Terjal yang Saya Alami karena Botak di Usia Muda terminal mojok.co

Jalan Terjal yang Saya Alami karena Botak di Usia Muda terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Manusia, segala sesuatunya selalu berhubungan dan bergantung pada manusia lainnya. Pura-pura kuat sendiri pun pada akhirnya banyak di antaranya yang mati konyol. Sematan sebagai makhluk sosial mungkin jadi pilihan “paling terpaksa” bagi manusia. Hidup bertetangga dan berteman menjadi kenyataan sebagai mestinya, meski memang tidak dapat dimungkiri sering kali menguntungkan, tapi yo luwih sering menjengkelkan.

Kehidupan sosial tidak jarang menghadirkan intrik sentimen baik dalam ranah sosial, ekonomi, agama, identitas, bahkan hingga ke ranah fisik sekalipun. Maka, hampir dapat dipastikan bahwa tidak adanya forum gibah atau psywar antar tetangga maupun pertemanan adalah suatu kemustahilan. Tenanan iki, jajal deloken dewe.

Menjadi pil pahit kita pada takdir yang mengharuskan hidup dengan manusia lainnya. Sekalipun Anda mencoba menjadi orang sebaik apa pun dan mengurung diri selama mungkin, tetap saja Anda tidak bisa terlepas dari potensi kena cocoran tetangga atau teman atau bahkan keluarga sendiri sekalipun. Kali ini saya akan bahas perihal komentar orang perihal fisik saya, botak di usia belia.

Akan dengan mudah kita menemukan contoh komentar orang terhadap kondisi fisik tertentu. Misalnya, dulu saya sudah berkumis sejak SMP kelas 1 dan itu juga yang berperan signifikan dalam asal-usul saya sering dipanggil om, pak, pakde, hingga dianggap suami dari ibu saya sendiri ketika berpergian berdua.

Kebangetan, Lur, tapi kadang juga terpingkal sendiri. Ya, soalnya menjadi privilese tersendiri dianggap sudah tua, sering didahulukan hingga dihormati selayaknya orang sesepuh pada umumnya.

Atau sering kali kita juga menemukan komentar orang perihal ukuran tubuh, jerawat, dan lain sebagainya. Emang ya, enak banget kalau ngomentarin fisik orang, tuh! Lantaran saya suka kelewat batas, terkadang juga kelepasan melontarkan komentar perihal fisik meski konotasinya bercanda tetap saja itu sebenarnya salah. Menyedihkan dan itu tidak patut untuk ditiru (ngaplok diri sendiri).

Sejak menempuh pendidikan di tingkat SMA saya sudah mulai merasakan kegatalan dan kerontokan yang luar biasa ditambah banyaknya ketombe di kepala. Apalagi waktu siang bolong keringetan habis main bola, gojos-gojos, sumuk. Wes rasane umup ditambah guatele nemen, Ndes!

Meski saya sudah sering ganti shampo rambut tetap saja hal itu terjadi. Sebelumnya tidak pernah terpikirkan lebih jauh kalau kejadian itu dibiarkan ternyata punya dampak cukup fatal. Yoi, saat ini di bangku kuliah saya baru menyadari bahwa saya menghadapi kenyataan botak di usia muda.

Baca Juga:

Selain Tetap Keren, Menjadi Cowok Botak Ternyata Memuluskan Jalan Menuju Surga

Buat yang Udah Lama Pengin Botak, Masa Karantina Adalah Waktu yang Tepat

Ternyata saya terlambat, pengaruh gen lebih cepat bereaksi ketimbang beberapa usaha saya untuk meminimalisir kerontokan rambut ini. Benar, bapak saya juga mengalami hal yang serupa (botak), tetapi blio dulu belum terlalu dini mengalami fase kebotakan.

Kadang aja suka menertawakan diri sendiri, kok bisa secepat ini tu loh erupsinya (karena memang sudah saya prediksi saya akan botak, melihat bapak saya juga botak). Bapak pun juga heran saya bisa secepat ini berada pada fase guguran dan erupsi. Bahkan uniknya, morfologi kebotakan saya dan bapak ternyata juga sama, mirip-mirip Jason Statham, lah, kalau disandingkan.

Sindiran, cemooh, olok-olok, dan apalah itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Wareg! Berbagai penjuru mulai dari tetangga, teman, bahkan keluarga maupun orang yang baru pertama kali kenal pun tak jarang melontarkan serangan tajam nan menukik di telinga. “Tapi yo wes ben lah, piye meneh,” jareku sembari ngayem-ngayem.

Mungkin kalau dibuka memori otak ini akan kamu temukan begitu banyaknya prasasti bukti serangan-serangan itu. Menarik kalau dijadikan museum, bisa jadi wahana wisata edukasi bukti kengerian mulut-mulut tiap insan berambut normal.

Namun, di sisi lain ada hal yang patut saya syukuri. Orang tua dan beberapa teman saya juga ada yang tidak berputus asa menyarankan produk ini itu demi keberlangsungan rambut saya. Hingga pada akhirnya saya menyadari bahwa ini semua sudah terlambat dan sia-sia.

Kemudian saya memutuskan membiarkan dan memulai dengan rasa bangga yang baru, menjadi diri saya seutuhnya atas kenikmatan botak yang Allah beri ini. Untung cuma rambut rontok, ngeri aja kalau sampai otak/akhlak yang rontok, jangan sampai ya Allah.

Biasanya dalam menghadapi komentar orang, saya akan menggunakan jurus andalan yaitu menjawabnya dengan, “Maklum, calon profesor.” Atau kalimat lain yang mengandung unsur meredam suasana. Terkadang juga sekalian saya perlihatkan jelas di matanya bak orang Jepang berterima kasih sampai dia susah nahan ketawa sendiri.

Lantaran saya meyakini kalau direspons terlalu serius justru akan amat menyedihkan, baik bagi saya maupun komentator itu sendiri. Saya akan jatuh sedih dan meratapi kebotakan ini. Sedangkan komentator akan sedih dengan serangan balik saya yang bisa saja menujam lebih dalam. Mending saya berprinsip bak Mojok, sedikit nakal banyak akal. Mashokkk!

Pada masa pandemi, justru menjadi titik di mana saya benar-benar terlahir sebagai manusia seutuhnya setelah memutuskan untuk membotaki habis rambut saya. Selain karena saat itu susah nyari tukang potong rambut, saya pikir sekeren apa pun saya potong rambut juga tetap terlihat botak. Hitung-hitung bisa hemat pengeluaran buat potong rambut.

Oh iya, apalagi sekarang mendekati Hari Kanker Sedunia, tepat tanggal 4 Februari nanti. Itu akan jadi momentum luar biasa, semakin mudah mengampanyekan dan menunjukkan ke orang bahwa saudara-saudara kita banyak yang sedang berjuang menghadapi penyakitnya dan butuh dukungan dari kita.

Setelah botak justru kepercayaan diri meningkat drastis dan memulai petualangan-petualangan baru nan menyenangkan. Salah satunya, saya bisa memberanikan diri menulis untuk Mojok tahun lalu dan Alhamdulillah diterima. Pasalnya, sebelumnya meskipun saya suka nulis, tapi takut untuk mempublikasikannya.

Petualangan lain terus berjalan dan menunggu di depan mata serta semakin acuh terhadap orang-orang yang mengomentari kebotakan saya.

“Nanti saya kasih cerita atas petualangan hidup saya selama botak. Semoga kamu juga bisa bertualang, tidak hanya jalan di tempat dan sibuk mengomentari kebotakan saya,” sering kali semangat saya dalam hati dalam melewati jalan terjal botak di usia muda ini.

BACA JUGA Buat yang Udah Lama Pengin Botak, Masa Karantina Adalah Waktu yang Tepat dan tulisan Fernando Galang Rahmadana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Januari 2021 oleh

Tags: botakusia muda
Fernando Galang Rahmadana

Fernando Galang Rahmadana

Alumni Sosiologi FISIPOL UGM. Aktif berkegiatan di bidang CSR dan menaruh ketertarikan pada keunikan lokal serta dinamika masyarakat.

ArtikelTerkait

pengin botak manfaat botak waktu yang tepat untuk botak kepala masalah rambut cita-cita karantina diri social distancing physical distancing mojok.co

Buat yang Udah Lama Pengin Botak, Masa Karantina Adalah Waktu yang Tepat

31 Maret 2020
botak MOJOK.CO

Selain Tetap Keren, Menjadi Cowok Botak Ternyata Memuluskan Jalan Menuju Surga

10 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.