Sebagai pekerja yang setiap hari melintasi Jalan Raya Narogong Bekasi, saya harus jujur sampaikan, jalan ini memiliki tingkat kecelakaan yang tinggi dan bikin sering telat para pekerja.
Bagi orang luar, Narogong mungkin hanya sebuah nama jalan yang menghubungkan Bekasi dengan Bogor. Tapi bagi kami yang setiap hari harus melintasinya, Narogong adalah sebuah arena bertahan hidup yang mengandalkan kemampuan berkendara yang memadai.
Narogong bukan sekadar aspal yang menghubungkan titik A ke titik B. Di sini penampakan asap hitam dari kendaraan, bising suara truk-truk kontainer, jalanan yang bergelombang dan sedikit berlubang ditambah bau sampah yang nggak sedap berpacu dengan pekerja yang berpakain rapi dan wangi.
Makanya nggak heran, jika Jalan Raya Narogong seringkali disebut gerbang neraka Bekasi Timur. Harus sabar dan berhati-hati jika melaju di jalanan ini.
Bau busuk dan lendir menguasai jalanan pagi hari
Jika kalian lewat Jalan Narogong mengendarai motor, usahakan memakai double masker, karena ini adalah ujian untuk indera penciuman. Saat orang-orang di kota lain berangkat kerja dengan menghirup udara segar, di Narogong harus berdamai dengan iring-iringan truk sampah DKI Jakarta yang menuju Bantargebang.
Kemacetan di pagi hari adalah perpaduan antara ambisi para pekerja yang ingin absen tepat waktu dengan gerak lambat truk-truk oranye yang penuh muatan. Kalau sedang sial dan terjebak di belakang salah satu truk ini, bersiaplah mendapatkan limpahan tetesan air lendir yang aromanya sanggup bertahan di jaket motor selama tiga hari meskipun sudah dicuci pakai pewangi paling mahal sekalipun.
BACA JUGA: Berkendara Melewati Bantargebang seperti Melewati Neraka: Sudah Bau, Macet Lagi!
Barisan truk kontainer mengular di malam hari
Jangan harap malam hari akan lebih tenang. Begitu matahari terbenam, Narogong akan dipenuhi truk-truk kontainer berukuran besar. Di tengah penerangan jalan yang sering kali hidup segan mati tak mau, kontainer-kontainer ini melaju seperti raksasa yang sedang lapar.
Mengendarai motor di antara dua truk kontainer di malam hari adalah latihan kematian yang paling nyata. Kita akan merasa sangat kecil, tidak berdaya, dan hanya bisa berdoa agar sopir di depan tidak mengerem mendadak.
Aspal yang hancur dan bergelombang di beberapa titik seperti di sekitar Pangkalan 6, makin menambah sensasi sport jantung setiap kali ban motor menghantam lubang yang tertutup bayangan truk.
“Di sini sudah sering kecelakaan, banyak yang mati kelindas truk, makanya jangan nyalip, sabar saja”, ucap bapak-bapak penjual kopi di dekat area itu.
Polusi sudah jadi makanan sehari-hari di Narogong
Kalau cuaca panas, Narogong berubah menjadi berdebu. Pandangan terbatas, paru-paru menjerit, dan wajah mendadak punya tekstur seperti ampelas setelah 15 menit berkendara. Kalau hujan? Jangan tanya. Lubang-lubang jalan yang tadinya cuma terlihat samar, kini berubah menjadi jebakan maut yang tertutup genangan air keruh.
Jalan Raya Narogong memang jalur ekonomi yang vital bagi industri. Pabrik-pabrik besar berdiri di sepanjang jalurnya. Tapi bagi warga yang sekadar ingin lewat, jalan ini adalah pengingat bahwa di Bekasi, kesabaran manusia itu tidak ada batasnya. Sebab kalau batas itu ada, mungkin Narogong sudah lama menjadi sasaran boikot.
Pada akhirnya, melintasi Narogong setiap hari adalah keharusan. Bukan tuntutan muluk-muluk yang ingin disampaikan, tapi hanya butuh aspal yang mulus, udara yang sedikit lebih bersih, dan truk kontainer yang tahu diri bahwa jalan ini milik bersama, bukan milik kakek moyang mereka sendiri.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
