Jalan Pawiyatan Luhur bukan sekadar ruas jalan yang membelah kawasan perbukitan Semarang. Bagi mahasiswa, jalan ini amat vital
Hidup memang menuntut kita untuk terus beradaptasi. Hal itu saya rasakan selama menjalani keseharian di Semarang atas yang terkenal dengan wilayah perbukitan. Tinggal di kawasan ini membuat saya akrab dengan jalanan yang naik turun, tanjakan yang lumayan menguras tenaga kendaraan, hingga turunan yang mengharuskan pengendara mengecek kampas rem tiap hari.
Namun, terbiasa bukan berarti boleh menyepelekan keadaan. Apalagi, tidak semua ruas jalan di kawasan ini bisa dilalui dengan santai sambil sesekali melamun memikirkan cicilan atau nasib masa depan. Ada jalan yang memang mengharuskan pengendara untuk tetap fokus. Salah satunya Jalan Pawiyatan Luhur yang terletak di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang.
Jalur penting penyambung masa depan
Jalan Pawiyatan Luhur bukan sekadar ruas jalan yang membelah kawasan perbukitan Semarang. Bagi mahasiswa, jalan ini bisa dibilang sebagai urat nadi mobilitas sehari-hari. Jalurnya melintasi kawasan sejumlah perguruan tinggi, mulai dari Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang hingga Universitas Katolik Soegijapranata.
Jalan ini juga menjadi salah satu jalur alternatif bagi masyarakat yang hendak menuju kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) di Gunungpati dari arah Sampangan dan sekitarnya.
Manfaatnya tentu tidak hanya dirasakan mahasiswa. Bagi orang-orang yang mencari nafkah di Semarang bawah, termasuk saya, Jalan Pawiyatan Luhur memang cukup membantu memangkas waktu perjalanan.
Ketimbang harus memutar lebih jauh, jalur ini menawarkan pilihan yang praktis untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Wajar jika jalan tersebut menjadi opsi rasional untuk mobilitas warga, pekerja, dan mahasiswa yang saban hari berlalu-lalang demi masa depan dan menyambung kehidupan.
Selalu ada kejutan lubang dan patahan di sepanjang Jalan Pawiyatan Luhur
Karena cukup sering melewati jalan ini, saya mulai mahfum dengan berbagai kejutan yang kadang muncul di sepanjang perjalanan. Hari ini mungkin jalur di sini masih terasa mulus. Tetapi beberapa waktu kemudian bisa saja muncul lubang atau permukaan aspal yang mulai bergelombang.
Bukan tanpa sebab, hal tersebut disebabkan karena jalan ini berada tepat di atas struktur patahan lokal dengan kedalaman patahan batuan sekitar 60 meter, membuatnya sangat rentan mengalami retakan besar, amblas bawah tanah, hingga ancaman longsor terutama saat musim hujan
Bagi pengendara yang belum terlalu mengenal medan, kondisi semacam ini tentu jangan disepelekan. Apalagi, Jalan Pawiyatan Luhur memiliki kontur naik turun yang membuat kita harus lebih sabar saat mengatur kecepatan. Intine ojo terlalu grasa-grusu lah yo, ndes.
Perbaikan berkala memang wajib dilakukan pemerintah setempat tapi pengendara juga mesti waspada
Dari pengalaman saya, jalan di kawasan ini sebenarnya sudah beberapa kali mendapat perhatian dari dinas terkait melalui perbaikan. Hanya saja, kondisi jalan yang berada di kawasan perbukitan memang membutuhkan pemeliharaan secara berkala. Bahkan bukan mustahil kerusakan jalan bisa kembali muncul meskipun belum lama diperbaiki. Karena itu, selain memperbaiki bagian yang rusak, pemantauan kondisi jalan secara rutin juga penting agar perjalanan warga tetap nyaman.
Meski begitu, keselamatan di jalan bukan hanya tentang kondisi aspal yang mulus. Kita sebagai pengendara juga perlu mengambil bagian dengan menjaga kecepatan, mempertahankan jarak aman dengan kendaraan lain, dan lebih berhati-hati ketika melewati jalur yang belum familier.
Sebab, Jalan Pawiyatan Luhur memang amat berjasa dalam mempersingkat perjalanan, tetapi kondisi jalannya juga bisa mengancam nyawa jika kita terlalu sembrono. Jangan sampai jalan yang selama ini membantu kita mengejar urusan duniawi dan masa depan justru menjadi tempat kita mempertaruhkan keselamatan hanya karena terburu-buru ingin sampai tujuan.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Nama Jalan Unik dan Aneh di Semarang, Ada Jalan Macet hingga Tanjakan Luna Maya dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok