Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Saya rasa orang-orang yang hidup di Surabaya bakal tahu Jalan Raya Kedung Cowek yang terletak di Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. Selain terkenal karena kriminalitas yang tinggi, juga angka kecelakaan yang tinggi. Bukan tanpa alasan kenapa jalur ini berbahaya. Jalur ini adalah akses satu-satunya menuju Jembatan Suramadu, yang otomatis bikin jalur ini tidak pernah berkawan sepi.

Kemacetan di Jalan Kedung Cowek itu benar-benar tanpa libur. Pagi, siang, hingga sore hari, ramainya minta ampun. Saat malam jangan ditanya, area ini sering menjadi sirkuit dadakan untuk acara balap liar muda-mudi Surabaya.

Maka tak mengagetkan jika jalur ini memang penuh bahaya. Salah satu contoh saja, awal pekan ini ada kecelakaan mengenaskan terjadi di Jalan Kedung Cowek. Dan itu tentu saja bukan yang pertama kali terjadi.

Padahal jika dilihat dari aksesnya, jalur ini sangat-sangat strategis. Tapi, selain itu, apa yang sebenarnya bikin Jalan Kedung Cowek Surabaya ini berbahaya?

Jalur mulus, etika pengendara minus di Jalan Kedung Cowek Surabaya

Jika belum pernah melintas di Jalur Kedung Cowek arah Suramadu baiknya kalian lebih hati-hati. Kondisi jalur di sini memang menyimpan kejutan bagi pengendaranya. Utamanya pemotor pemula.

Akses jalannya memang mulus. Jalur ini beberapa kali melalui perbaikan yang maksimal. Tapi jika jalan mulus ketemu etika minus, jadinya adalah bencana. Gas dibetot makin dalam, bencana mendekat tak lagi pelan-pelan.

BACA JUGA: 5 Jalan Berbahaya di Surabaya yang Wajib Dihindari Pengendara Pemula

Selain muncul dari diri sendiri dengan memacu kecepatan berlebih, ancaman nyata itu juga muncul dari pengendara lain yang minim etika. Saya sering menemui pengendara tipe ini, memacu kecepatan sembarangan melebih batas aman, lali tiba-tiba berbelok tanpa ada tanda dari lampu sein. Ngerinya, orang kayak gini nggak hanya satu. Tapi ada, dan sayangnya, berlipat ganda.

Rambu lalu lintas tidak pernah ditaati kala melintas

Jika ingin melihat GTA versi nyata, kalian bisa melintas di Jalan Kedung Cowek ini. Ada-ada saja kelakuan Akamsi yang bikin geleng-geleng kepala. SOP berkendara di sini hanyalah mitos. Rambu lalu lintas hanyalah pelengkap jalanan biar keliatan pantas saja.

Dan tentu saja, melanggar aturan selalu melahirkan konsekuensi. Beberapa insiden lalu lintas di daerah ini terlahir dari kegiatan melanggar rambu lalu lintas yang sudah jadi rutinitas. Yah, kalian sudah tahu seperti apa lah.

BACA JUGA: Jalan MERR, Jalan Paling Horor bagi Pengguna Roda Dua di Surabaya

Ancaman berlipat ganda saat melintas di malam hari

Jika pagi hingga sore ancaman di Jalan Kedung Cowek lebih ke ulah pengendara yang abai keselamatan berlalu lintas, malamnya jauh berbeda. Saat malam tiba, area ini jadi tempat orang beradu atas sesuatu yang nggak perlu. Tawuran dan tindak kejahatan lain banyak terjadi di sini.

Ini tidak hanya terjadi sekali dua-kali, tapi berkali-kali. Hal ini bikin saya bingung, untuk suatu tempat yang sudah terkenal tinggi tingkat kriminalitasnya, kenapa tidak ada gebrakan untuk mengatasinya ya?

Buktinya silih berganti pemangku kebijakan dipilih daerah ini ya tetap gitu-gitu saja. Tetap mengancam dan membahayakan pengendara. Saya sampai tidak bisa berkata-kata tiap ada calon wali kota berujar dengan ndakik-ndakik menyelesaikan masalah di Jalan Kedung Cowek. Sebab setelah terpilih mereka pasti lupa dengan apa yang sempat dijanjikan.

Yang terjadi ya kayak umumnya aja. Akhirnya pengguna jalan dipaksa untuk beradaptasi dengan keadaan. Jadi saran saya, selalu waspada jika kalian harus atau terpaksa melewati Jalan Kedung Cowek Surabaya. Sebab ya, tentu saja nyawa jauh lebih berharga ketimbang apa-apa yang ada di dunia ini.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jalan Panggung, Sisi Lain Surabaya yang Tidak Pernah Saya Duga

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version