Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat (unsplash.com)

Kalian jangan mengaku orang sabar kalau sehari-hari tidak melewati Jalan Godean, terutama di waktu berangkat dan pulang kerja. Sudah sejak lama jalan ini menguji mental dan kesabaran pengguna jalan yang kebanyakan tinggal di Sleman sisi barat seperti saya. 

Saya tinggal di Gamping. Secara geografis, ini posisi yang unik, cukup dekat ke pusat kota Jogja, tapi terasa jauh karena jalur-jalurnya yang menguji kesabaran. Ya, salah satunya Jalan Godean yang bak neraka versi lokal. Ini bukan hiperbola, ini observasi.

Lampu Merah Demak Ijo-Perempatan Pingit butuh kesabaran

Mari kita mulai dari pengalaman perjalanan dari arah barat ke timur paling sederhana, yakni lampu merah Demak Ijo-Perempatan Pingit. Saya pernah iseng menghitung. Jarak dua titik itu sekitar 8-9 kilometer. Secara teori, dengan kecepatan santai 40 km/jam, harusnya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10–15 menit. 

Kenyataannya? Saya butuh hampir 25 menit. Artinya apa? Kecepatan rata-rata saya di situ sekitar 12 km/jam. Itu bukan kecepatan kendaraan bermotor. Itu kecepatan orang jogging santai yang lagi mikir hidupnya mau dibawa ke mana.

Di titik ini, ada dua kemungkinan, entah saya yang terlalu dramatis, atau memang ada yang salah dengan ritme Jalan Godean. Dan, kalau kita jujur, kemungkinan kedua lebih masuk akal.

Jalan Godean itu memang unik. Dia bukan sekadar jalan penghubung dari barat ke pusat kota. Dia seperti magnet raksasa yang menarik semua jenis kendaraan, dari motor matic yang knalpotnya lebih berisik dari isi pikirannya, sampai truk yang seolah sedang membawa beban hidup seluruh warga Sleman Barat. Semua kumpul di situ. Semua punya tujuan. Tapi, semuanya harus rela berjalan pelan-pelan, seperti sedang ikut pawai kesabaran.

Belum lagi faktor ruko. Di sepanjang Jalan Godean, ruko bukan lagi sekadar bangunan komersial, tapi sudah jadi ekosistem. Ada tempat makan, bengkel, laundry, klinik, minimarket, toko bangunan, semuanya ada. Secara ekonomi, ini bagus. Artinya aktivitas hidup. Tapi secara lalu lintas? Ini seperti menaruh magnet tambahan di jalur yang sudah penuh.

Setiap ruko itu menciptakan potensi berhenti mendadak. Orang masuk tanpa sein. Orang keluar tanpa melihat. Parkir di pinggir jalan yang secara teknis “sebentar doang”, tapi secara dampak bisa bikin antrean sepanjang 200 meter. Dan, semua orang di belakangnya cuma bisa bilang dalam hati “Ya sudah, mungkin ini bagian dari ujian hidup saya.”

Perempatan paling lama se-Jogja

Lalu kita sampai di Perempatan Pingit. Ini titik yang menurut saya punya aura tersendiri. Lampu merahnya lama. Sangat lama. Kadang saya merasa lampu merah di situ punya waktu sendiri yang tidak sinkron dengan waktu manusia biasa. Ketika Anda berhenti di sana, Anda punya cukup waktu untuk mengevaluasi hidup, mengingat kesalahan masa lalu, bahkan mungkin merencanakan masa depan.

Dan, yang menarik, semua orang menerimanya. Tidak ada yang turun dari motor lalu protes ke lampu lalu lintas. Tidak ada yang teriak, “Ini nggak adil!” Semua diam. Semua menunggu. Semua sabar. Di sini saya mulai yakin orang-orang yang lewat Jalan Godean setiap hari itu bukan orang biasa. Mereka adalah praktisi kesabaran tingkat lanjut.

Akan tetapi, mari kita uji sedikit asumsi ini. Apakah mereka benar-benar sabar, atau sebenarnya tidak punya pilihan lain? Karena kalau dipikir-pikir, bisa jadi ini bukan soal karakter, tapi soal keterpaksaan. Jalan Godean adalah salah satu jalur utama. Alternatifnya tidak banyak. Mau muter? Bisa, tapi lebih jauh. Mau berangkat lebih pagi? Bisa, tapi tetap saja ramai. Mau pindah kerja? Nah, ini sudah masuk level keputusan hidup. Jadi mungkin, yang kita lihat sebagai “kesabaran” itu sebenarnya adalah adaptasi. Manusia itu makhluk yang luar biasa dalam menyesuaikan diri. Dikasih kondisi macet setiap hari, lama-lama ya terbiasa. Bukan karena suka, tapi karena tidak ada opsi yang lebih masuk akal.

Tiap hari menghadapi kemacetan 

Di sisi lain, saya juga tidak bisa menolak bahwa ada kualitas mental tertentu yang terbentuk dari rutinitas lewat Jalan Godean. Anda bayangkan, setiap hari menghadapi kemacetan, ketidakpastian, perilaku pengendara lain yang kadang sulit dipahami, tapi tetap berangkat, tetap pulang, tetap menjalani hari. 

Itu semua butuh daya tahan. Dan mungkin, di situlah letak “kesabaran” yang saya maksud. Bukan sabar yang pasif, tapi sabar yang aktif. Sabar yang tetap bergerak, meskipun pelan. Sabar yang tidak meledak, meskipun punya alasan untuk itu.

Saya sendiri kadang gagal di titik ini. Ada momen di mana saya merasa, “Ini kenapa sih semua orang kayak janjian lewat sini?” Rasanya absurd. Seolah-olah seluruh warga Sleman Barat bangun pagi, lalu sepakat tanpa komunikasi “Hari ini kita lewat Jalan Godean, ya.” Tapi, tentu saja itu bukan konspirasi. Itu hanya hasil dari desain kota, distribusi aktivitas, dan pilihan-pilihan individu yang saling bertemu di satu jalur yang sama.

Dan, mungkin, di sinilah kritik kecilnya, kita sering menyalahkan orang “kenapa sih pada lewat sini?” padahal masalahnya lebih struktural. Infrastruktur tidak berkembang secepat kebutuhan. Ruang jalan tidak cukup untuk volume kendaraan. Tata guna lahan mendorong aktivitas menumpuk di satu koridor. Jadi kalau ada yang perlu disalahkan, mungkin bukan orang-orangnya. Tapi sistemnya. 

Salut pada mereka yang sehari-hari lewat Jalan Godean

Meski begitu, saya tetap ingin memberikan kredit pada mereka yang setiap hari melewati Jalan Godean tanpa kehilangan akal sehat. Karena jujur saja, itu pencapaian.

Bayangkan, Anda berangkat kerja, sudah tahu akan macet. Anda pulang kerja, sudah tahu akan macet lagi. Tapi, Anda tetap menjalani hari, bisa ketawa, bisa ngobrol, tetap bisa hidup. Kalau itu bukan bentuk kesabaran, saya tidak tahu lagi apa namanya.

Jalan Godean, dengan segala kekacauannya, secara tidak langsung mengajarkan bahwa hidup memang tidak selalu bisa dipercepat. Kadang kita harus menerima ritme yang lambat, yang tidak kita pilih, tapi harus kita jalani.

Dan, di tengah itu semua, orang-orang tetap bergerak. Pelan, tapi pasti. Jadi, lain kali kalau Anda merasa hidup Anda penuh tekanan, coba sekali-sekali lewat Jalan Godean di jam sibuk. Bukan untuk mencari solusi, tapi untuk mendapatkan perspektif.

Siapa tahu, setelah itu Anda akan sadar ternyata Anda belum se-sabar itu. Dan mungkin, Anda akan mulai menghargai mereka yang setiap hari menjadikan jalan itu sebagai bagian dari hidupnya. Karena di Sleman Barat, ukuran kesabaran bukan lagi seberapa lama Anda bisa menunggu. Tapi, seberapa sering Anda mau tetap lewat Jalan Godean… tanpa kehilangan kewarasan.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version