Sebagai orang Sumatera yang suka naik motor, saya anggap jalanan Jawa itu biasa saja. Itu sebelum saya melewati jalan alternatif Jogja-Purworejo. Di sinilah, kesombongan saya dihancurkan berkeping-keping
Setiap kali saya naik motor melintasi jalanan Jogja dan beberapa tempat seperti Gunungkidul, Kulon Progo, dan Bantul, saya sangat tidak asing dengan penampakan jalanan dan suasana yang hampir mirip dengan jalanan di kampung saya, yakni Bukittinggi, Sumatera Barat.
Jalanannya berbelok-belok dengan tanjakan serta turunan yang tajam, plus di sisi kiri-kanannya jurang. Persis dengan jalanan dari Singkarak menuju Bukittinggi. Hanya saja perbedaannya, Bukittinggi masih berupa kota kecil yang tentu tidak seramai dengan Jogja yang memiliki wilayah padat penduduk.
Saya sempat membatin, “Kalau jalanan di Sumatera Barat yang terkenal ekstrem saja bisa saya lalui, apalagi jalanan yang ada di Jawa.” Begitulah batin saya saat itu, menganggap remeh dan seolah-olah bisa melintasi semua jalanan di Pulau Jawa.
Itu semua sebelum saya melewati jalan alternatif Jogja-Purworejo. Di sinilah kepercayaan diri saya diuji, dan jawabannya jelas: saya salah besar.
Perjalanan dari Jogja ke Purworejo yang penuh dengan plot twist
Keesokan harinya, dengan mengendarai motor Beat Karbu, saya pergi seorang diri dari Jogja ke Purworejo untuk berkunjung ke rumah keluarga. Jarak tempuh dari Jogja ke Purworejo memakan waktu dua jam. Saya pikir itu tidak terlalu jauh sehingga di tengah perjalanan tidak perlu beristirahat dan bisa melaju tanpa berhenti.
Untuk penunjuk arah, saya hanya mengandalkan Google Maps karena sebagai pendatang, tentu saya sama sekali tidak tahu seperti apa rute jalan yang akan saya lalui. Alhasil, saya hanya mengandalkan audio dari maps yang disambungkan melalui headset kabel.
Sebenarnya Maps memberikan beberapa pilihan rute jalan dengan estimasi waktu tempuh yang berbeda-beda, ada yang lebih cepat dan ada pula yang sedikit lebih lambat. Awalnya saya tidak memperdulikan waktu tempuh tersebut karena menurut saya perbedaannya tidak jauh, hanya berselang lima sampai sepuluh menit.
Hingga pada akhirnya, saya mengambil rute yang lebih lama, karena feeling saya mengatakan bahwa rute tersebut kemungkinan besar lebih aman dan lebih bagus kondisinya. Tak tahunya itu jalan alternatif Jogja-Purworejo.
Pukul 14.00 WIB saya berangkat dari Jogja menuju Purworejo. Saya mengendarai sepeda motor dengan santai, tidak terlalu terburu-buru, sambil menikmati suasana jalan yang meskipun pada saat itu jalanannya macet, panas, dan berasap, serta tidak luput dari kemunculan truk-truk bermuatan besar.
Awalnya lancar, awalnya
Dari Jogja melewati Jalan Godean, saya amat merasakan kondisi jalanan yang mudah dan bisa dilalui dengan lancar. Perjalanan berlanjut memasuki wilayah Kulon Progo, mulai terlihat penampakan perbukitan dengan pemandangan yang cukup indah dan udara yang semakin adem ayem, serta jalannya yang tadinya hanya lurus saja kini mulai menanjak dengan tanjakan yang panjang.
Saat itu rasa gentar mulai muncul, tetapi saya mengatakan pada diri saya sendiri, “Saya akan lawan” karena mau tidak mau kendaraan harus tetap berjalan melaju ke depan dan sampai tujuan.
Masih mengikuti arah Maps, jalanan yang tadinya lebar kini menyempit, seolah-olah masuk ke wilayah pelosok yang hanya bisa dilalui kira-kira satu motor dan satu mobil, tak luput di sisi kiri kanannya jurang.
Awalnya saya masih menemukan beberapa rumah warga setempat di sekitar jalan yang saya lalui, tetapi semakin lama roda motor saya berjalan, permukiman warga yang ramai mulai menghilang hingga tidak ada satu pun rumah yang saya temukan. Sedangkan rute yang akan salah lalui sudah terlihat berupa jalan turunan yang panjang dan belokan yang tajam hingga sempat membuat rasa takut saya semakin muncul.
Saat itu saya berpikir ingin pulang saja ke Jogjakarta (putar arah) karena rute jalan yang akan saya lewati begitu menyeramkan. Tetapi tetap sama saja, saya merasa takut juga karena sudah melewati tanjakan yang panjang.
Dihadapkan dengan situasi seperti ini, saya sempat goyah dan merasa takut. Meskipun harus tetap waspada mengendarai motor dengan berhati-hati, saat itu saya hanya mengandalkan rem motor yang pakem untuk melewati turunan yang panjang dan curam. Bayangkan saja, posisi jari tangan pada saat itu sudah kram karena terlalu sering mengerem untuk melewati turunan.
Satu kecerobohan yang bisa membuat nyawa melayang
Sungguh di luar prediksi, jalur alternatif Jogja-Purworejo yang sempat saya anggap remeh justru amat menyeramkan karena kondisi jalan yang sempit, menanjak, miring, dan menurun.
Belum lagi area jalan berhutan, hampir tidak ada satu pun rumah warga yang saya temukan, bahkan kendaraan yang melewati jalanan hanya beberapa dan bisa dihitung dengan jari. Sebut saja jalanan itu Jalan Raya Kaligesing, jalan alternatif yang menghubungkan wilayah Purworejo dengan Jogja.
Sebenarnya terdapat penanda jalan yang dapat menjadi patokan bahwa medan jalan di depan berada dalam status berbahaya, dan itu pula salah satu penyelamat saya karena bisa tetap waspada. Saking waspadanya dan mengutamakan keselamatan, saya tidak berani menaiki motor di area turunan dan memilih untuk menuntun motor melewati turunan dengan belokan yang tajam.
Belum sampai melewati sulitnya medan jalan, tiba-tiba rem depan motor saya blong serta rem belakang tidak berfungsi secara optimal. Saat itu saya panik, ingin meminta pertolongan tetapi tidak ada satu pun orang di sekitar. Belum lagi perjalanan yang harus saya tempuh masih jauh. Bahkan memikirkan lintasan di depan saja sudah menambah rasa takut. Rasanya hampir putus asa dan ingin menangis karena saya juga perempuan.
Jalan alternatif Jogja-Purworejo saya hajar tanpa persiapan, dan itu bodoh
Saya merasa bodoh karena telah meremehkan jalan alternatif Jogja-Purworejo dan tidak peduli dengan kondisi motor.
Saya berusaha sebisa mungkin tetap tenang dengan kondisi tersebut. Lalu, saya berusaha menuntun motor melintasi jalan turunan dan sesekali mencoba mengandalkan rem belakang meski tidak berfungsi optimal. Hingga sampai di ujung jalan bertemu dengan warga setempat.
Lantas saya langsung bertanya, “Permisi, Pak, saya mau bertanya, di sekitar sini, bengkel motor di mana ya? Motor saya remnya blong,” kurang lebih seperti itu yang saya sampaikan kepada seorang bapak.
Karena jarak bengkel motor masih jauh, bapak itu akhirnya mengecek sendiri kondisi motor saya, terutama bagian rem dan kampas rem. Setelah dicek, ternyata tidak ada kerusakan. Hanya rem cakram yang blong karena gesekan antara kampas rem yang membuat piringan cakram menjadi panas akibat terlalu sering digunakan saat turunan. Bapak itu mewanti-wanti agar saya beristirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan karena piringan cakram yang sudah panas perlu didinginkan dahulu agar remnnya bisa berfungsi kembali.
Peringatan istirahat di sela perjalanan jauh
Mungkin inilah yang dimaksud dengan anggapan bahwa perempuan hanya bisa mengendarai sepeda motor dan tidak mengerti apa-apa soal motor. Kata-kata itu barangkali pas dilayangkan kepada saya saat itu juga.
Bagaimana tidak, hanya bermodal keberanian dan tekad tidak cukup membuat perjalanan selamat. Saya mengabaikan kondisi motor yang saat itu mungkin sudah chaos remnya.
“Untung sampean selamat, Mbak, lewat turunan sini. Jalan Kali Gesing sudah banyak makan korban, apalagi yang pakai motor matik, remnya kebanyakan blong. Makanya kalau perjalanan jauh harus istirahat dulu biar remnya itu bisa optimal, jangan dipakai terus-menerus apalagi lewati turunan,” kurang lebih begitu pesan bapak yang saya temui saat itu.
Sebagai orang Sumatera yang doyan naik motor, saya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Saya bersyukur masih selamat dan tidak terjadi hal yang fatal. Anggapan saya yang menilai jalanan ini mudah ditaklukkan hingga tidak perlu istirahat ternyata benar-benar tindakan yang sangat ceroboh.
Yah, jalanan Sumatera memang mengerikan. Tapi bukan berarti saya bisa mengabaikan kerasnya jalan alternatif Jogja-Purworejo.
Pesan yang dapat diambil dari perjalanan melewat jalan alternatif Jogja-Purworejo
Saat beristirahat untuk mengembalikan kondisi rem motor, saya berbicara dengan beberapa warga setempat yang tengah duduk di pinggir jalan. Ada yang bersyukur karena saya selamat dari maut, ada pula yang hanya melihat kondisi motor saya dan menganggap kejadian yang saya alami biasa saja.
Ada juga seorang ibu yang berkomentar, “Jalanan di sini memang serem, Mbak, lain kali jangan lewat jalan sini. Turunannya curam, banyak kejadian akibat lewat jalan sini. Kemarin seminggu yang lalu, pasangan suami istri kecelakaan, istrinya meninggal, suaminya luka-luka karena rem blong pakai motor matik.”
Mendengar tuturan ibu itu, bulu kuduk saya langsung merinding memikirkan kejadian nahas tersebut. Saya hanya bisa mengelus dada dan bersyukur masih diberi keselamatan.
Pesan yang ingin saya sampaikan dari pengalaman ini adalah janganlah menganggap remeh semua jalanan utamakanlah keselamatan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan keberanian seolah-olah mampu melalui semua tantangan; dibutuhkan persiapan yang matang agar tidak terjadi kecelakaan fatal. Utamakanlah keselamatan dan pengetahuan berkendaraan yang aman, bukan hanya nyali yang diunggulkan.
Penulis: Indah Sari Aropah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jalan Wonosari-Pakis, Jalan Alternatif bagi Kalian yang Muak dengan Kemacetan Jalan Solo-Jogja
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
