Semarang bukan kota yang memanjakan pendatangnya pesona alam seperti gunung atau pantai. Kota Atlas ini memukau pendatang dan wisatawan lewat makanannya. Di balik pamor lumpia dan bandeng presto, jalanan Semarang ternyata menawarkan jajanan kaki lima yang tidak kalah lezat.
Sesungguhnya, tidak hanya rasa yang menjadi daya tarik jajanan kaki lima Semarang. Beberapa makanan punya nama yang aneh, bahkan nyeleneh, yang membuat banyak orang semakin tertarik.
#1 Jajanan kaki lima Semarang ndas maling ternyata menyimpan pesan filosofis
Makanan dengan nama ndas maling mungkin akan membuat para pendatang dan wisatawan berwisata berpikir dua kali untuk mencicipinya. Sebab, dalam bahasa Indonesia, nama ndas maling berarti kepala pencuri. Benar-benar nama yang tak mengundang selera bukan?
Ndas maling jajanan yang yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan hal-hal berbau Kriminal. Jajanan tradisional berupa kue berbentuk bulat ini berasal dari Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Teksturnya agak kasar dan kenyal dengan rasa manis legit. Bahan-bahan untuk membuat ndas maling begitu sederhana, terdiri dari tepung beras, kelapa parut, dan gula aren.
Usut punya usut, penamaan yang kelewat unik ini berakar dari kisah masa lalu di sekitar Makam Keramat Mbah Senari, Kelurahan Kudu. Konon, kawasan tersebut dulunya sering disambangi orang-orang berniat mencuri. Uniknya lagi, dahulu kue ini nggak sembarangan dijual setiap hari. Namun, hanya dibuat setahun sekali saat tradisi bancaan warga di bulan Suro.
Di balik namanya yang bikin ngeri, ndas maling ternyata punya makna yang mendalam. Makanan ini dihadirkan sebagai simbol doa agar lingkungan sekitar senantiasa terhindar dari kejahatan. Sekaligus, jadi pengingat kolektif bagi warga sendiri untuk terus menyingkirkan niat-niat buruk dari dalam diri.
#2 Kupat jembut, jajanan yang terdengar tidak senonoh ini sering disajikan saat Syawalan
Kupat jembut, nama makanan satu ini selalu berhasil menarik perhatian orang-orang. Makanan satu ini biasa ditemukan di kawasan Pedurungan saat momen Syawalan.
Makanan ini berupa ketupat yang dibelah tanpa putus. Kemudian diisi tauge alias kecambah yang dicampur kelapa parut dan bumbu urap di bagian tengahnya. Alhasil, tauge-tauge tersebut tumpah ruah mencuat keluar dari sela-sela anyaman janurnya. Praktis, mereka tampak menjuntai lebat menyerupai rambut atau bulu yang gondrong.
Di balik namanya yang bikin mengelus dada, kuliner ini memendam sejarah yang cukup panjang. Tradisi menyajikan kupat jembut sudah ada sejak 1950-an. Bermula dari masa-masa kesederhanaan warga yang harus mengungsi usai Perang Dunia Kedua. Kala itu, bukannya marah atau meratap nestapa, leluhur dulu justru merayakan keselamatan hidup mereka lewat ketupat berisi urap tauge yang kini lestari jadi tradisi sakral penuh canda tawa.
#3 Pipis kopyor makanan Semarang yang menyuguhkan cita rasa manis menggigit
Mendengar nama pipis kopyor pasti berpotensi memancing lirikan penuh curiga. Padahal, pipis yang dimaksud di sini tentu bukan urusan membuang air kecil. Malah, jajanan tradisional yang satu ini terbuat dari racikan sederhana potongan roti tawar, irisan pisang manis, dan daging kelapa muda yang dibungkus rapi menggunakan daun pisang.
Adonan bungkusan itu kemudian dikukus di atas api sedang selama kurang lebih tiga puluh menit hingga aromanya menguar. Maka, jangan heran kalau kue ini justru punya banyak penggemar dari anak kecil hingga lansia.
Perpaduan tekstur roti dan kelapa muda yang lembut, guyuran santan yang gurih, serta manisnya buah pisang berhasil menciptakan harmoni rasa yang nyaman di lidah. Manisnya kalem, jauh dari kesan aneh seperti namanya.
Semarang sekali lagi membuktikan kota ini punya banyak kejutan. Walau nama-nama makanan tadi terdengar nyeleneh dan tidak menggoda selera, rasa dan makna di baliknya bisa diadu dengan makanan tradisional lain
BACA JUGA 5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
