Jadi Fans Manchester City Itu Berat, Nonton Bola dengan Tenang tapi Dicap Karbitan Seumur Hidup

Jadi Fans Manchester City Itu Berat, Nonton Bola dengan Tenang tapi Dicap Karbitan Seumur Hidup

Jadi Fans Manchester City Itu Berat, Nonton Bola dengan Tenang tapi Dicap Karbitan Seumur Hidup

Baru-baru ini, klub terbaik di dunia, Manchester City, kembali melakukan hal yang sudah mulai terasa membosankan—menang lagi. Final Carabao Cup ditutup tanpa banyak gimik, tanpa perlu tampil terlalu wah sejak awal, tapi tetap berujung trofi. Arsenal yang datang dengan kepercayaan diri tinggi, bahkan sempat terlihat lebih rapi di awal, pelan-pelan kehilangan arah begitu City menemukan momentumnya. Dua gol, cukup, selesai.

Yang menarik, City seperti tidak pernah panik. Ditekan? Biasa. Terlihat kalah dominan? Nggak masalah. City—sebagai klub dengan mental juara—main bukan buat kelihatan hebat dari menit pertama, tapi buat memastikan siapa yang berdiri paling akhir. Sementara yang lain sibuk membangun narasi indah, City cukup datang, menunggu, lalu menutup pertandingan dengan cara yang—jujur saja—agak menyebalkan kalau bukan timmu yang melakukannya.

Nah, pada kondisi demikian menjadi fans Manchester City mulai terasa “berat”. Bukan karena timnya jelek, justru sebaliknya—karena terlalu sering menang, lalu bonusnya: dicap “karbitan”. Seolah-olah menikmati kemenangan itu harus punya sertifikat lama menderita dulu. Kalau nggak, ya dianggap cuma numpang lewat pada era enak.

Padahal lucunya, yang paling ribut soal “fans kemarin sore” itu sering lupa kalau semua orang juga pernah baru. Bedanya cuma timing. Ada yang datang saat timnya lagi susah, ada juga yang datang saat timnya lagi jadi monster. Tapi, anehnya, yang kedua ini selalu dianggap kurang sah, seolah-olah kebahagiaan harus lewat penderitaan dulu biar valid.

Saya rasa menjadi fans Manchester City itu bukan cuma soal nonton bola, tapi juga soal tahan mental. Menang disindir, kalah diketawain, netral pun tetap salah. Tapi, ya mungkin memang itu konsekuensinya: ketika timmu terlalu sering jadi pemenang, orang lain akan selalu cari cara supaya kamu tetap terlihat “kurang pantas” menikmatinya.

Karbitan, label lama untuk kekesalan yang sama

Kalau dipikir-pikir, label “karbitan” ini sejatinya bukan tuduhan serius, tapi semacam mekanisme pertahanan paling praktis. Soalnya capek juga kalau harus mengakui kalau City dengan mental juaranya, menang lagi. Jadi yang diserang bukan timnya, tapi fansnya. Lebih mudah, lebih aman, dan tidak perlu repot-repot mengubah sudut pandang.

Yang lebih menarik, standar “fans asli” itu fleksibel sekali. Ketika klub sendiri lagi berjaya, fans baru disebut “bertambah”. Tapi, kalau Manchester City yang lagi di atas, langsung berubah jadi “karbitan”. Jadi masalahnya bukan pada fans baru, tapi pada siapa yang lagi terlalu sering bikin orang lain kesal.

Padahal realitasnya ya sederhana. Orang datang karena melihat sesuatu yang menarik—permainan yang rapi, tim yang konsisten, dan tentu saja kemenangan. Tapi, anehnya, menikmati tim yang sedang bagus justru dianggap mencurigakan. Seolah-olah sepak bola harus selalu soal penderitaan dulu baru boleh bahagia.

Rasa-rasanya, kata “karbitan” itu lebih mirip pelampiasan daripada argumen. Tidak benar-benar menjelaskan apa-apa, cuma jadi cara cepat untuk merespons dominasi yang sulit diterima.

BACA JUGA: Fans Sepak Bola Itu Banyak Jenisnya, Nggak Usah Merasa Paling Sejati

Dukung klub itu hak setiap orang

Dukung klub bola itu bukan soal siapa yang paling duluan atau siapa yang paling lama menderita. Ini bukan lomba siapa yang paling “teruji”. Kalau harus begitu, mungkin kita sekalian bikin sertifikat resmi: lulus masa susah, baru boleh bahagia. Ribet amat untuk sesuatu yang awalnya cuma soal nonton bola.

Orang bisa jatuh suka kapan saja, termasuk pada klub sepak bola. Bisa dari permainan, dari pemain, atau cuma karena merasa “klik”. Dan ya, itu sah-sah saja. Nggak ada klausul yang melarang orang datang pada saat klubnya lagi bagus.

Kalau soal “karbitan”, ya jujur saja, saya juga agak bingung. Bukannya sombong, tapi saya sudah dukung Manchester City sejak SD. Bahkan pada masa ketika nonton City itu bukan pilihan paling populer buat pamer di tongkrongan. Tapi, ya tetap saja, sekarang masih kena label yang sama. Jadi kadang mikir, ini sebenarnya soal waktu atau memang labelnya saja yang sudah siap ditempel ke siapa saja?

Akhirnya ya balik lagi, dukung klub itu hak, bukan kewajiban yang harus diuji dulu. Mau datang dari awal, tengah, atau baru kemarin sore sekalipun, tidak ada yang lebih “sah” dari yang lain. Karena kalau ukuran fans ditentukan dari masa lalu, mungkin yang paling ideal itu jadi fans sebelum klubnya berdiri sekalian. Biar sekalian tidak ada yang bisa protes.

City menang terus, fansnya salah terus

Jadi fans Manchester City itu memang serba salah. Timnya menang, dibilang duit. Fansnya banyak, dibilang karbitan. Bahkan ketika cuma duduk manis menikmati pertandingan, tetap saja ada yang merasa perlu mengomentari. Seolah-olah ada standar tak tertulis yang harus dipenuhi dulu sebelum boleh merasa senang.

Padahal kalau dipikir lagi, semua ini justru menunjukkan kalau Manchester City sudah sampai di titik di mana kemenangan bukan lagi kejutan, tapi gangguan bagi banyak pihak. Dan ketika gangguan itu terlalu sering terjadi, reaksi paling mudah ya menyederhanakan—lewat label, lewat sindiran, lewat anggapan yang diulang-ulang.

Tapi, ya tidak apa-apa juga. Karena sejatinya, sepak bola tetap berakhir di papan skor dan trofi. Mau disebut apa pun, mau dilabeli bagaimana pun, hasilnya tetap sama. Manchester City tetap menang, dan fansnya—yang katanya karbitan itu—tetap menikmati.

Mungkin di situlah letak “beratnya” jadi fans Manchester City: bukan karena timnya sulit didukung, tapi karena terlalu sering benar pada waktu yang membuat orang lain tidak nyaman. Manchester is Blue. Salam juara.

Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Lebih Mudah bagi Man City Juara UCL daripada Mewujudkan Oasis Reuni

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version