Kini, saya punya kekhawatiran tiap mau ngopi di luar kantor saat masih mengenakan seragam ASN. Bukan, bukan karena harga kopi. Itu betul, tapi bukan itu masalah utamanya. Kekhawatiran utama saya adalah tiba-tiba viral di Threads karena ada di luar kantor di jam kerja.
Sebagai ASN yang bekerja di bidang humas, keluar kantor sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Pekerjaan kami berkaitan dengan publikasi, dokumentasi, dan berbagai urusan yang kadang mengharuskan berada di lapangan. Kami juga sering berhubungan dengan wartawan media lain. Bahkan, beberapa warkop menjadi semacam tempat pertemuan informal antara humas pemerintah dan kawan-kawan jurnalis.
Di salah satu warkop langganan, misalnya, kami bisa ngopi dengan relatif tenang. Para wartawan sudah mengenal kami. Mereka tahu bahwa meskipun sama-sama membawa kamera, mencatat informasi, dan mengejar narasumber, ada perbedaan kecil di antara kami: mereka plat putih, sedangkan saya plat merah.
Jadi, kalau sedang duduk bersama mereka, rasanya tidak perlu terlalu khawatir. Kami sama-sama sedang menjalani pekerjaan, meskipun sesekali diselingi kopi dan obrolan yang tidak semuanya layak masuk berita.
Masalahnya berbeda ketika sedang liputan di kecamatan dan terpaksa mampir ke warkop yang belum pernah dikunjungi. Mendadak muncul kecemasan baru. Bukan takut kopinya tidak enak, melainkan takut ada netizen yang melihat rombongan orang berseragam sedang duduk santai.
Bayangkan kalau foto itu diunggah dengan caption penuh kecurigaan. Belum sempat kopi habis, mungkin reputasi satu kantor sudah lebih dulu diseduh, dituang, lalu diminum ramai-ramai.
Ternyata menjadi ASN di zaman sekarang membutuhkan satu kemampuan tambahan: mengantisipasi kamera ponsel orang lain.
Tidak semua ASN itu bolos
Ada yang ingin saya tekankan, bahwa tidak semua orang berseragam di luar kantor berarti sedang bolos.
Saya memahami mengapa masyarakat kadang jengkel melihat ASN nongkrong ketika jam kerja. Bagaimanapun, ASN bekerja menggunakan uang negara dan punya kewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kalau ada pegawai yang sengaja meninggalkan pekerjaan demi nongkrong berjam-jam, tentu saja patut dipertanyakan.
Namun, persoalannya, apakah setiap orang berseragam yang sedang ngopi otomatis sedang meninggalkan pekerjaan?
Tidak semua pekerjaan ASN mengharuskan pegawainya duduk di belakang meja sejak pagi sampai sore. Ada pekerjaan yang memang membutuhkan mobilitas, koordinasi, peliputan, pemantauan, dan pertemuan di luar kantor. Apalagi pekerjaan kehumasan. Rasanya agak lucu kalau seorang humas diminta terus berada di kantor, tetapi sekaligus dituntut mengetahui semua kejadian di lapangan. Ingat, kita punya istilah Milenial: touch the grass”.
Saya juga melihat bahwa pekerjaan ASN, khususnya yang tidak bersentuhan langsung dengan pelayanan tatap muka, sebenarnya memiliki sejumlah tugas yang bisa dikerjakan dari mana saja. Menyusun berita, mengedit foto, membuat laporan, hingga menyiapkan materi publikasi tidak selalu membutuhkan meja kantor.
Namun, bukan berarti semua ASN bisa seenaknya bekerja dari rumah atau kafe. Ada koordinasi, fasilitas, dan kebutuhan kerja bersama yang membuat keberadaan di kantor tetap penting. Printer, misalnya, tidak mungkin ikut pindah ke rumah setiap kali pegawainya ingin WFH. Kalau harus mencetak dokumen, masa iya printer kantor disuruh ikut ngopi?
Bagi sebagian pekerjaan, kantor juga menyediakan suasana yang membantu menjaga ritme kerja. Ada teman untuk berdiskusi, atasan untuk berkoordinasi, dan rekan kerja yang bisa langsung dimintai bantuan. Kadang, pekerjaan justru lebih cepat selesai ketika dikerjakan bersama daripada masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.
Jadi, alasan datang ke kantor bukan semata-mata karena tidak bisa bekerja dari rumah. Ada kebutuhan untuk menjaga suasana dan kesinambungan pekerjaan.
Tolok ukur yang kacau
Saya kira, persoalan sebenarnya bukan sekadar ASN yang ngopi saat jam kerja. Ada kebiasaan kita yang terlalu mudah mengukur produktivitas dari apa yang terlihat oleh mata.
Pegawai yang duduk tegak di depan komputer dianggap bekerja. Pegawai yang keluar kantor dianggap santai. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka kerjakan hanya dari posisi duduknya.
Bisa saja seseorang terlihat sibuk mengetik sejak pagi, tetapi pekerjaannya tidak kunjung selesai. Sebaliknya, seseorang yang sedang duduk di warung mungkin sedang menunggu narasumber, melakukan koordinasi dengan pihak masyarakat (pokmas), atau baru saja menyelesaikan tugas lapangan.
Tentu saja, ini bukan pembenaran bagi ASN yang memang malas bekerja. Kalau pekerjaan terbengkalai, pelayanan lambat, dan kewajiban tidak diselesaikan, silakan kritik. Malah perlu. Jangan sampai alasan tugas luar menjadi semacam jimat sakti untuk menghindari tanggung jawab.
Namun, kritik sebaiknya tetap punya dasar. Jangan sampai seseorang hanya melihat pegawai berseragam memegang gelas kopi, lalu mendadak merasa sudah menemukan kasus korupsi waktu terbesar sepanjang sejarah birokrasi Indonesia.
Sebab, kalau ukuran bekerja adalah harus terlihat sibuk setiap saat, mungkin kita perlu menambahkan atribut baru bagi ASN. Selain seragam dan tanda pengenal, setiap pegawai wajib membawa kertas berisi daftar pekerjaan yang sedang dikerjakan. Jadi, ketika ngopi, tinggal ditempel di meja agar masyarakat tidak salah paham.
Tentu saja itu absurd. Tetapi, begitulah jadinya kalau penampilan lebih dipercaya daripada hasil pekerjaan.
Justru tetap harus kritis
Saya justru berharap masyarakat tetap kritis terhadap kinerja ASN. Kalau menemukan pegawai yang sengaja bermalas-malasan, silakan tegur atau laporkan melalui saluran yang tepat. Namun, jangan buru-buru menyimpulkan hanya dari satu foto yang kebetulan memperlihatkan seseorang sedang menyeruput kopi.
Sebab, bisa jadi orang tersebut memang sedang bekerja. Bisa juga sedang istirahat setelah menyelesaikan pekerjaan. Atau, ya, memang sedang malas. Kita tidak akan tahu kalau tidak mencari tahu, apalagi mung jepret dari jauh dan langsung menyimpulkannya.
Pada akhirnya, ASN tetap harus bekerja dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Tetapi masyarakat juga perlu memahami bahwa bekerja tidak selalu berarti duduk di kantor dengan wajah serius seperti sedang menyelesaikan soal ujian CPNS.
Saya sendiri masih sesekali ngopi di luar kantor. Bedanya, sekarang kalau memilih warkop, ada satu hal yang ikut dipertimbangkan selain rasa kopi dan harga gorengan: apakah tempatnya cukup aman dari kamera netizen?
Penulis: Yavid Rahmat Perwita
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Aparatur Sipil Negara (ASN) Bukan Profesi yang Cocok Untuk Orang Nyinyir dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok