Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Ironi Populisme, Demokrasi, dan Gerakan Relawan yang Menghambat Kaum Muda Melek Politik

Marshel Leonard Nanlohy oleh Marshel Leonard Nanlohy
2 Oktober 2022
A A
Ironi Populisme, Demokrasi, dan Gerakan Relawan yang Menghambat Kaum Muda Melek Politik

Ironi Populisme, Demokrasi, dan Gerakan Relawan yang Menghambat Kaum Muda Melek Politik (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ide populisme dalam politik telah berkembang pesat seiring dengan tumbuhnya demokrasi di Indonesia. Kemunculannya dalam politik nasional kerap ditunjukkan oleh penggunaan sentimen etnis dan identitas. Dua isu tersebut–setidaknya hingga saat ini–masih menjadi “senjata” paripurna bagi aktor politik yang ingin melaju dalam kancah elektoral.

Di atas kertas, populisme adalah wujud perkembangan demokrasi menuju arah yang lebih baik. Namun ironisnya, gerakan populisme akar rumput ini kerap menimbulkan gesekan yang–sesungguhnya–tidak perlu dan cenderung menjengkelkan. Iya atau iya?

ADVERTISEMENT

Mengutip Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM Prof. Dr. Purwo Santoso yang mengatakan bahwa perkembangan demokrasi Indonesia akan mengarah pada politik berbasis ketokohan, khususnya yang memiliki kepentingan untuk menduduki posisi publik seperti kepala daerah. Bahkan, lembaga seperti partai politik dan organisasi grassroot tidak lagi menjadi penting dalam politik, pungkas Prof. Purwo.

Beliau juga menyoroti bahwa kendatipun ada aktor politik yang menggunakan organisasi, hal tersebut bersifat pragmatis. Artinya, aktor politik hanya akan memanfaatkan organisasi sebagai mobilisasi pemilih dalam Pemilu. Setelahnya, organisasi terabaikan. Jadi sebetulnya seberapa perlu sih, gerakan relawan ini?

Populisme, demokrasi, dan peran kaum muda

Bak air dan api, populisme dan demokrasi memiliki love and hate relationship. Bagaimana maksudnya?

Secara singkat, demokrasi adalah sistem yang mengizinkan semua orang untuk menyatakan pendapat. Itu sebabnya mengapa demokrasi—menurut saya—memang sudah seharusnya menjadi sistem yang “berisik”. Maka jangan terkejut, jika setiap menjelang Pemilu selalu saja ada fenomena saling balas ide dan argumentasi. Itu idealnya lho, ya.

Sama berisiknya dengan demokrasi, gerakan populisme lahir dari rasa tidak percaya masyarakat terhadap kekuasaan. Jika pemerintah yang berkuasa dalam negara demokrasi mengalami defisit kepercayaan dari rakyat, maka gerakan populisme akan terus bertumbuh.

Sayangnya, perkembangan demokrasi dan populisme di Indonesia tidak diiringi oleh kedewasaan berpolitik. Alih-alih menjadi acuan berkembangnya demokrasi, populisme justru membuat golongan muda semakin enggan untuk memahami politik. Pada akhirnya, sifat apatis kaum muda semakin meningkat.

Baca Juga:

Anak Muda Muak Hidup di Wonogiri, Cari Kerja Susah apalagi yang Memberi Upah Layak

5 Istilah di Jurusan Ilmu Politik yang Kerap Disalahpahami. Sepele sih, tapi Bikin Emosi

Padahal, generasi muda akan menguasai lebih dari 50 persen total pemilih pada Pemilu 2024. Dengan demikian, partai politik jelas akan mengincar generasi muda dalam rangka mendapatkan suara terbanyak. Bisa nggak, ya?

Trauma segregasi dan enggan menghadapi perbedaan pendapat

Perjalanan panjang dari pemilu tahun 2014 dan 2019 memang tidak mudah. Bayangkan saja, dua pertandingan yang sama di waktu yang berbeda. Dua calon presiden yang sama, di dua pemilu yang berbeda. Bosen nggak, seh?

Apalagi, saya masih ingat, betapa keluarga inti saya sangat mewanti-wanti untuk selalu waspada dalam berbicara dan berpendapat jelang Pemilu 2019 silam. Bahkan, saya diminta untuk nggak ikut terjun dalam diskusi banal ala tongkrongan SMA mengenai gerakan ormas yang pada waktu itu mendeklarasikan diri sebagai relawan dari salah satu pasangan calon.

“Kalau ada yang ngomong-ngomong tentang itu, bilang aja ‘wah saya nggak tau’, abis itu langsung pergi, atau bahas topik lain,” kata Bapak saya waktu itu.

Sebagai seorang pemilih pemula, rasa trauma yang lahir dari ketakutan sangatlah menjengkelkan. Ditambah lagi dengan tindakan brutal yang—pada waktu itu—dilakukan atas nama perbedaan pendapat. Demokrasi, yang saya tahu, harusnya tak seperti ini.

Situasi tersebut mendorong saya untuk mencari aman, yakni dengan bersikap apatis. Belakangan, timbul rasa kecewa karena menjatuhkan pilihan pada pasangan calon yang ini, bukan yang itu. Padahal sekarang, keduanya malah duduk di kursi pemerintahan. Kasihan yang terlalu fanatik, sabar ya…

Dalam tekanan yang ditimbulkan oleh gerakan relawan ini, sulit rasanya bagi anak muda untuk dipaksa berpikir dengan jernih. Ketakutan yang timbul karena perbedaan pendapat akan menghambat pendewasaan politik di Indonesia.

Padahal, tanggung jawab rakyat—setelah menggunakan hak suaranya—itu mengkritik, itulah demokrasi. Kalau anak muda aja nggak tahu alasan kenapa mereka memilih paslon A dan bukan B, gimana cara kita sampai pada generasi emas 2045?

Kritik boleh, takut jangan

Dalam demokrasi itu rakyat yang dilayani. Bahkan ada istilah vox populi vox dei loh, suara rakyat itu suara Tuhan. Maka terang bahwa rakyat harus melayangkan kritik kepada para pelayan itu, termasuk Presiden sekalipun.

Masalahnya, gerakan akar rumput melalui kelompok relawan ini justru menghambat proses kritik tersebut. Betul, Presiden memang tidak pernah marah jika dikritik. Uniknya lagi, justru kelompok relawanlah yang biasanya melaporkan seseorang ke polisi karena dituduh melakukan tindakan tidak menghormati alias mengkritik pemerintah. Kalo nggak percaya coba deh, cari di mbah Google.

Wajar rasanya jika saat ini kaum muda takut untuk berpolitik. Jangankan terjun langsung, mengkritik saja bisa berujung bui. Tingkah laku para elite yang termanifestasi lewat gerakan relawan belum menunjukkan kedewasaan mereka dalam berpolitik.

Contoh konkretnya, ya, polarisasi antara cebong, kampret, dan kadrun yang—tentu saja—sudah usang. Oh, atau yang lagi rame, sekarang kalian akan dikotak-kotakan ke dalam beberapa dewan: Dewan Kopral, Dewan Koprol, dan Dewan Katro. Pilih mana, guys?

Penulis: Marshel Leonard Nanlohy
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Selamat Datang di Kolam, Prabowo, Raja Cebong Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2022 oleh

Tags: anak mudaDemokrasipemilu 2024Politikpopulisme
Marshel Leonard Nanlohy

Marshel Leonard Nanlohy

Seorang Pemuda yang berusaha menemukan makna kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa, baik yang sederhana maupun yang menguji, sebagai bagian dari perjalanan memahami kehidupan.

ArtikelTerkait

demonstrasi Soal Negara Demokrasi, Semua Orang di Dunia Itu Norak! terminal mojok.co

Soal Negara Demokrasi, Semua Orang di Dunia Itu Norak!

28 Januari 2021
Cacat Logika Sri Mulyani kalau Dia Heran Anak Muda Lebih Senang WFH Terminal Mojok

Sri Mulyani, Ibu Jangan Ikut Heran Kalau Anak Muda Lebih Senang WFH

12 Januari 2023
Bila Alumni 212 Sudah Muncul di Media, Siapkan Diri Anda, sebab Iklim Politik Akan Makin Panas

Bila Alumni 212 Sudah Muncul di Media, Siapkan Diri Anda, sebab Iklim Politik Akan Makin Panas

9 September 2023
Pemda Hobi Bangun Masjid, Demi Amankan Suara Mayoritas Terminal Mojok

Pemda Hobi Bangun Masjid, Demi Amankan Suara Mayoritas? 

7 Januari 2023
toilet mal

Toilet Mal Sebagai Tempat Favorit Untuk Bercermin: Soalnya Selalu Terlihat Good Looking, sih

18 Juli 2019
Menganalisis Sosok Berinisial G yang Diramal Jadi Presiden RI 2024 terminal mojok.co

Menganalisis Sosok Berinisial G yang Diramal Jadi Presiden RI 2024

9 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026
5 Kuliner Madura selain Sate yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Jangan cuma mengingat stereotip negatifnya, nyatanya orang Madura itu jago banget masak

10 Agustus 2026
Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua Mojok.co

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

7 Agustus 2026
Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

7 Agustus 2026
Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026
Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam menyimpan keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga Mojok.co

Anak terakhir perempuan sering dikira manja, padahal diam-diam punya keresahan yang tak kalah besar tentang keluarga

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.