Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ada paradoks yang terjadi di Lumajang, ia dekat dengan akses laut, tapi sulit menemukan makanan seafood. Padahal, Lumajang secara geografis memiliki garis pantai seluas 75 km. Namun, untuk menemukan makanan seafood di tempat kuliner, susahnya bukan main. 

Dari lima tempat makan di area kota Lumajang yang sudah saya singgahi, hanya satu tempat yang punya sajian menu makanan seafood. Itu pun pilihannya hanya cumi dan udang. Ketika saya menyusuri area sentra kulinernya yang berjejer PKL makanan, mata saya tidak menemukan pedagang yang menjual makanan seafood. Kebanyakan tempat kuliner di Lumajang, menawarkan ikan tawar, seperti lele, mujair, nila, dan gurami. 

Sulitnya menemukan makanan seafood di Lumajang, menjadi semacam kerikil bagi wisatawan ketika berlibur. Sebab, mereka berekspektasi ingin makan seafood karena Lumajang dekat dengan laut, tapi ternyata pas sampai di sana, sulit menemukannya. Seperti kakak kelas saya yang curhat, bingung nyari makanan seafood di Lumajang.

Faktanya, memang konsumsi ikan di Lumajang begitu rendah

Tapi, ini bukan salah penjual makanan. Apa yang dilakukan oleh penjual makanan di Lumajang bertujuan untuk menghindar dari kerugian. Soalnya, makan ikan laut bagi masyarakat Lumajang, masih belum menjadi kebiasaan. Berbeda dengan masyarakat Madura, ikan laut seperti menjadi makanan wajib di meja makan. 

Ini terbukti dari data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, jumlah konsumsi ikan masyarakat Lumajang di tahun 2017 hanya 18 kg per kapita. Angka itu naik menjadi 23 kilogram per orang di tahun 2020. Meski naik, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata konsumsi ikan di Jawa Timur sebesar 45 kg per orang. 

Penyebab minimnya masyarakat Lumajang mengonsumsi ikan laut dibentuk oleh budaya yang menilai sebagai sajian kurang enak. Masyarakat Lumajang menilai kalau ikan laut punya bau amis dan banyak tulangnya. Jadinya pas dikonsumsi kurang menikmati. 

Beberapa keluarga saya di Lumajang, merasa enggan untuk makan ikan laut. Tapi tidak semua masyarakat Lumajang menganggap ikan laut sebagai sajian kurang enak. Ada juga keluarga saya yang masih mau untuk mengonsumsi ikan laut, tapi tetap saja, mereka lebih memilih untuk makan ikan tawar. 

BACA JUGA: Lumajang Sangat Tidak Cocok Jadi Tempat Slow Living: Niat Ngilangin Pusing dapatnya Malah Sinting

Akses ke ikan laut terbilang sulit

Bukan hanya masalah budaya, dari segi ekonomi, akses masyarakat Lumajang untuk membeli ikan laut terbilang sulit. Ini terjadi karena di pasar dan warung kecil, jarang yang menjajakan ikan laut. 

Kebetulan rumah saya yang di Lumajang, selalu melewati pasar. Setiap lewat pasar, sejauh mata saya memandang hanya melihat ayam dan ikan tawar yang dijual pedagang. Terus ketika mengantarkan mama ke warung kecil untuk membeli lauk, ikan laut yang dijual mentok hanya ikan tongkol. Ada juga yang menjual cumi dan udang, tapi sudah tidak fresh dan jumlahnya sedikit. 

Sangat jauh berbeda dengan Sumenep, di pasarnya banyak sekali jenis-jenis ikan laut yang dijual oleh pedagang. Selain banyak, kondisi ikannya masih fresh. 

Sulitnya ketersediaan ikan laut di pasaran, terjadi karena suplai yang masih terbilang minim. Sebab, nelayan-nelayan di Lumajang mencari ikan hanya menggunakan perahu kecil sehingga kuantitas tangkapannya juga minim. Perahu kecil hanya bisa berlayar sejauh 4 mil. Berbeda dengan kapal yang bisa berlayar puluhan mil. Ditambah lagi, ombak di laut Lumajang besar karena berada di laut selatan. 

Banyaknya nelayan Lumajang menggunakan perahu kecil saat menangkap ikan disebabkan oleh tidak adanya dermaga. Pemerintah Lumajang mengakui, ketiadaan dermaga membuat hasil tangkapan ikan menjadi tidak maksimal. Menurut data dari Dinas Perikanan dan Kelautan, hasil tangkap ikan di Lumajang pada tahun 2022 hanya 6.600 ton. Masih jauh dari angka prima yang harusnya 38 ribu ton. 

BACA JUGA: Cara Saya Jelaskan Letak Kabupaten Lumajang biar Mudah Dipahami

Jangan berharap banyak pada Lumajang

Maka, bagi wisatawan pencinta seafood yang berlibur ke Lumajang, harus ekstra sabar dan telaten untuk mencarinya. Bukan berarti Lumajang benar-benar tidak menjadi “surga” bagi para pencinta seafood. Kalau ingin mencicipi seafood yang komplit dan rasanya enak, harus datang dulu ke daerah pantainya, misalnya saja di Pantai Watu Pecak. 

Di Watu Pecak, banyak penjual seafood dengan berbagai aneka pilihan, mulai dari cumi, udang, kepiting, dan berbagai jenis ikan laut lainnya. Secara rasa, bagi lidah saya, makanan seafood di Watu Pecak punya rasa yang nampol karena bumbunya meresap, punya banyak varian sambal, dan masih fresh. Cuman buat datang ke Watu Pecak, harus menempuh jarak yang lama, sekitar satu jam. 

Masalah ikan laut, menjadi PR besar bagi pemerintah Lumajang, selain perihal begal. Pemerintah daerah harus memikirkan jalan kebudayaan yang tepat untuk mengubah cara pandang masyarakat tentang ikan laut. Sehingga kemelut sulitnya menemukan makanan seafood bisa segera diatasi. Apalagi dengan potensi laut yang dimiliki, sangat disayangkan jika pemerintah acuh terhadap infrastruktur nelayan dalam mencari mata pencaharian. 

Oh iya, saya ingat kalau bupati dan wakil bupati sekarang punya janji kampanye untuk memberi modal buat pedagang pasar. Kata saya, ini waktu yang tepat untuk mencari solusi perihal stok ikan laut. Karena pemerintah bisa memberi bantuan modal berupa stok ikan laut kepada pedagang pasar. 

Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Meski Dianugerahi dengan Keindahan Alam yang Tiada Banding, Kabupaten Lumajang Belum Pantas Jadi Kota Tujuan Wisata, Banyak Begal!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version