Informasi
ADVERTISEMENT

Ironi Kabupaten Blora: Menerima Mie Gacoan dengan Tangan Terbuka, tapi Mati-matian Menolak UNY, Lebih Penting Hiburan ketimbang Pendidikan!

Ironi Kabupaten Blora: Menerima Mie Gacoan dengan Tangan Terbuka, tapi Mati-matian Menolak UNY, Lebih Penting Hiburan ketimbang Pendidikan!

Hiburan lebih mudah diterima daripada pendidikan

Sedikit kilas balik, Blora memang sedang diguncang pembangunan sektor hiburan. Kalau mau mengingat lebih jauh dulu viral gerai es krim Mixue, kemudian baru baru ini dibangun bioskop, lalu yang terbaru Mie Gacoan. Dan semua hal ini tak terdengar selintingan, maupun kabar burung penolakan. Semua adem ayem, yang panas dan pedas cuma Mie Gacoan level 9.

Ini menimbulkan pertanyaan, sebenarnya apa yang dibutuhkan masyarakat Blora? Apakah hiburan lebih menarik daripada investasi pendidikan? Ini mengingatkan saya pada sebuah komentar pada salah satu unggahan tentang Blora yang menyebut bahwa Blora adalah daerah banyak tempat menghabiskan uang daripada mencari uang. Nah, mungkin bertolak dari sini, silakan diklasifikasikan apakah pendidikan, yang dalam hal ini pembangunan UNY, dianggap menghabiskan uang atau menghasilkan uang.

Perbedaan respons pembangunan ini menunjukkan preferensi dari masyarakat akan kebutuhan. Sedikit cerminan kondisi dimana kebutuhan perut dianggap lebih menarik daripada investasi jangka panjang di bidang pendidikan.

Mungkin saat ini kebutuhan riil seperti hiburan dan pemenuhan kebutuhan sehari hari lebih dibutuhkan, dibanding harus memusingkan keinginan mendapatkan taraf pendidikan tinggi yang dianggap kebutuhan yang lebih abstrak.

Kondisi imajiner seandainya UNY jadi dibangun di Kabupaten Blora

Namun tidak salah membuat gambaran imajiner seandainya wacana ini benar benar terwujud. Dimulai dari nama besar Jogja yang dibawa UNY apakah akan berpengaruh pada Blora. Mungkin sapaan Kota Pelajar milik Jogja tidak terlalu berpengaruh, namun saya menyediakan alternatif lain, yakni Kota Sastra. Jogja memiliki nama besar dalam skena sastra, hal ini sejalan dengan impian Bupati Blora, Arief Rohman yang mengatakan “Blora ini bisa menjadi Kota Sastra Kota dunia”, yang saya kutip dari infomuria.com.

Dari sisi lain misalnya, bayangkan kabupaten yang didapuk kabupaten tersepi di Jawa Tengah ini kedatangan ribuan orang untuk belajar. Mungkin sedikit menurunkan posisi klasemen Blora sebagai kabupaten tersepi.

Kemunculan tempat-tempat yang dekat dengan kampus kota mungkin juga marak. Walaupun di Blora sudah banyak kampus. Misalnya akan ada wilayah yang penuh dengan usaha kos-kosan. Banyak rumah warga yang dialihfungsikan menjadi sewaan kamar. Tak hanya itu, akan banyak tempat makan seperti ayam geprek kampus yang harganya 13 ribu termasuk es teh. Mungkin juga akan banyak warung makan nasi padang murah paket ayam 12 ribu, karena kalau 10 ribu rawan kena razia.

Tentunya polemik ini menjadi bahan pertimbangan para pemangku jabatan Kabupaten Blora. Melihat bahwa kabupaten tersepi ini nyatanya memiliki kompleksitas yang jauh lebih njlimet dibalik kesunyiannya. Hal ini bukan sekedar pro kontra, lebih dari itu yang sebenarnya tujuannya sama, yakni kemajuan Blora.

Sebagai perantau, berharap adalah salah satu metode penantian yang berpotensi sia-sia. Tapi, apa lagi yang bisa dilakukan? Toh, berharap itu gratis, dan kadang, realistis.

Penulis: Arrayyan Mukti Rahardian
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Blora, Kabupaten Kecil yang Sulit Menghargai Tokoh-tokoh Penting Daerahnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Mei 2025 oleh .

Arrayyan Mukti Rahardian

Penjaga kewarasan yang bersahaja. Memilih jalan hidup yang tenang: mengurai pikiran lewat tulisan, memperluas dunia lewat bacaan, dan memulihkan jiwa melalui tidur yang nyenyak