Ingin Jadi Polymath, Jatuhnya Malah Nggak Punya Keahlian Apa pun

Ingin Jadi Polymath, Jatuhnya Malah Nggak Punya Keahlian Apa pun terminal mojok.co

Ingin Jadi Polymath, Jatuhnya Malah Nggak Punya Keahlian Apa pun terminal mojok.co

Saya pertama kali mengenal Leonardo da Vinci sebagai pelukis Mona Lisa. Hingga di kemudian hari, saya menemui fakta bahwa Leonardo da Vinci bukan hanya seorang pelukis, melainkan juga seorang ilmuwan anatomi, fisiologi, bahkan fisikawan yang tak terbatas pula pada penemuan-penemuan praktis. Pada saat itulah saya membayangkan diri saya di masa depan menjadi seorang seperti Leonardo, seorang polymath.

Ketika kita mengetik nama Leonardo da Vinci di mesin pencari Google, mesin ini akan memberi label “Polymath” kepada Leonardo; seperti halnya “American singer-songwriter” untuk Billie Eilish, ataupun “Supreme Leader of North Korea” untuk Kim Jong-un.

Etimologi dari polymath merujuk pada bahasa Yunani polumathes yang berarti “yang telah belajar banyak” atau “udah belajar banget, lah”. Merriam-Webster mendefinisikan polymath sebagai seorang pembelajar ensiklopedik, sementara Oxford mendefinisikan ini sebagai orang dengan pengetahuan atau pembelajaran yang luas.

Menengok Leonardo da Vinci juga definisi dari kata polymath, kita bisa membayangkan bahwa seorang polymath adalah mereka yang telah mempelajari dan mengerti banyak hal multidisiplin ilmu, dan yang penting adalah mampu memanfaatkan semua itu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. Seperti Leonardo. Dan cita-cita saya.

Saya datang dari keluarga kelas menengah yang tidak begitu kaya, tapi cukup punya privilese untuk mendapat sumber-sumber belajar dengan baik. Keluarga saya moderat dan orang tua saya tidak banyak menuntut anak-anaknya. Sebagai contoh, ketika ibu merekomendasikan saya untuk les sempoa, saya ikut dan hanya berangkat dua kali. Ketika saya minta untuk main di Sekolah Sepak Bola, ibu memberi saya sepatu. Ketika ibu menyuruh saya belajar bahasa Inggris dan saya menolak, saya tidak dikutuk menjadi batu.

Saya tumbuh seperti anak kampung tengah kota pada umumnya. Saya punya teman, dan di sekolah pun saya cukup gemilang. Mungkin saya terlalu sering berkelahi, tapi di sisi lain, bagi saya matematika itu bukan pelajaran sulit.

Namun beranjak remaja, saya berubah dari yang tadinya seorang anak kampung tengah kota menjadi anak dunia maya. Di tempat ini saya menemukan banyak hal menarik yang tidak bisa saya temukan di dalam gang. Saya mulai tertarik dengan media sosial dan blogging, juga mencari tahu bagaimana itu bisa bekerja. Dari blogging, saya belajar menulis termasuk juga prosa fiksi dan puisi. Saya juga mulai menekuni minat di bidang seni rupa baik tradisional maupun digital, hingga pada animasi dua dimensi dan produksi video, bahkan musik dan produksi musik.

Ketika SMA, saya makin nyeleneh dengan ikut dalam kelompok teater. Saya belajar jadi aktor, juga belajar menulis naskah. Pada saat ini saya mulai bimbang untuk menentukan arah masa depan saya. Sejak kecil, saya ingin menjadi guru. Namun semakin banyak belajar, saya sempat berpikir untuk menjadi programmer web, desainer grafis, penjual obat, bahkan dokter. Hingga saya tercerahkan, atau mungkin dibutakan, pada satu istilah keren: polymath.

Saya yakin bahwa saya mau kuliah apa saja, ketika saya bisa belajar apa saja, itu tidak menjadi masalah bagi saya. Benar saja, saya akhirnya melanjutkan studi di program yang hampir tidak ada tantangannya sama sekali. Asli gabut. Pelajarannya terlalu mudah dan hampir tidak pernah diberi tugas.

Dengan keadaan seperti itu, ditambah uang saku yang terlalu banyak, masa perkuliahan saya penuh dengan eksplorasi. Saya belanja buku-buku, saya belanja peralatan ini-itu, dan di akhir bulan saya masih sempat untuk makan pizza dan bersedekah. Belum lagi, saya malah menjadi wartawan mahasiswa yang membuat saya semakin banyak belajar dan mendapat banyak pengetahuan, termasuk informasi-informasi trivial yang tidak begitu penting untuk kehidupan.

Dulu, saya pikir saya keren. Saya bisa menjadi wartawan, menjadi ilustrator, membuat motion graphic, hingga benerin website sekaligus. Ketika KKN saya dikata Wikipedia berjalan, ketika magang saya dikatain profesor. Dulu, saya pikir ini pujian, jack of all trades.

Maksudnya seperti ini. Kita bisa sama-sama setuju bahwa orang-orang paling kaya di dunia saat ini adalah polymaths, sebut saja Bill Gates, Jeff Bezos, ataupun Elon Musk. Begitu pula menjadi seorang polymath pada era ini bukanlah hal yang 1500-ish. Kondisinya telah berbeda. Inovasi hari ini dan masa depan akan selalu mengintegrasikan disiplin-disiplin ilmu yang berbeda untuk memecahkan satu persoalan. Katakanlah, Elon Musk yang mengintegrasikan teknik, desain, dan ilmu pemasaran yang baik.

Di sisi lain, dalam pasar kerja, angkatan muda juga memiliki kecenderungan untuk menjalani slash career untuk memenuhi kebutuhan hidup dari sumber pemasukan yang berbeda. Dalam beberapa kasus, dua hal di antara “garis miring” dalam jenis karier ini berasal dari disiplin ilmu yang berbeda.

Yang lucu adalah, jack of all trades, master of none, ibarat kita memiliki sepuluh pisau dan tidak satu pun pisau tajam. Inilah yang terjadi pada saya. Saya punya banyak “pisau” tapi tidak ada yang tajam. Maksudnya, tidak masalah untuk saya tidak punya expertise melihat bahwa saya masih punya banyak “pisau” yang meski tidak tajam, tapi tetap fungsional.

Saya disuruh mengerjakan ini-itu bisa. Jadi? Bisa. Bagus? Bisa. Expert? Belum tentu.

Ketika dulu saya pikir saya keren, ini bukan karena atribut yang ada dari dalam diri saya sendiri. Hal ini karena lingkungan saya berada berisi anak-anak yang jauh lebih tidak jago daripada saya dalam perkara-perkara tertentu, alias saya salah gaul. Alih-alih mendapat kritik dan dukungan, saya hanya mendapat pujian. Sehingga ketika saya bawa “pisau” saya keluar dari lingkungan itu dan saya jadikan bekal untuk terjun ke pasar kerja, nggak ada kelasnya.

Meskipun demikian, saya tetap percaya diri dalam menyongsong hari esok. Ya, ntar, deh, liat aja!

ACA JUGA Penyesalan Jadi Master of None: Punya Banyak Hobi tapi Nggak Ada yang Ahli

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version