Ingin Demo Tetapi Introvert, Begini Solusinya

introvert

introvert

Akhir-akhir ini kita bisa menyaksikan semua mahasiswa turun ke jalan menyuarakan berbagai tuntutan kepada pemerintah yang ramashook. Tetapi saya amati, para mahasiswa yang demo kebanyakan para orang-orang yang ekstrovert atau orang-orang yang aktif, tidak nolep, dan pede.

Sangat disayangkan para orang-orang introvert tidak andil dalam aksi tersebut ya memang alasanya karena mager dan nolep. Padahal orang introvert juga memiliki uneg-uneg yang ingin diungkapkan.

Introvert adalah tipe kepribadian yang orang-orangnya memiliki ciri pendiam dan pemalu. Menjadi seorang introvert memang kadang-kadang menyiksa, misal seseorang introvert memiliki uneg-uneg yang terpendam dalam dirinya, pasti akan sulit untuk diungkapkan ke orang lain ataupun ke publik, ya alasannya karena malu untuk mengungkapkan uneg-unegnya.

Seperti halnya di lingkungan kampus sendiri, misal ada aksi maupun demo pasti yang tampil itu-itu aja. Padahal sebenarnya seorang introvert itu ingin menyuarakan uneg-uneg dan ingin bergabung dengan mereka yang sering demo atau melakukan aksi. Akan tetapi seorang introvert sudah merasa malu terlebih dulu, dan akhirnya uneg-uneg-nya terpendam sangat dalam didalam hati. haha

Apakah seorang introvert nggak  bisa jadi aktivis? Apakah seorang introvert harus membungkam terus pendapatnya? Ya nggaklah, Bambang! Seorang introvert juga bisa untuk menyuarakan pendapatnya tetapi dengan cara lain tanpa harus berteriak-teriak di jalanan. Menjadi aktivis juga bisa dilakukan dengan cara lain. Berikut solusi bagi seorang introvert yang ingin menjadi seorang aktivis

1. Membaca

Kanapa pertama kali harus membaca? Karena dengan membaca seorang introvert bisa mengetahui realitas yang ada. Ya, perbanyaklah dengan membaca apapun yang bisa dibaca. Misal membaca berita, buku, artikel, dan lain sebagainya. Jika kita sudah terbiasa membaca maka otak kita akan penuh dengan referensi-referensi.

Membaca juga merupakan gerbang utama untuk menuju dunia aktivis. Dengan membaca kita juga bisa memperkuat argumen-argumen kita. Ya iyalah, misal kita mau menyuarakan sebuah aspirasi, opini, dan sebagainya tetapi tidak mempunyai dasar kan jadi plonga-plongo. Oleh karena itu membaca merupakan pondasi awal untuk menjadi seorang aktivis. Ya penting bacalah apapun yang bisa dibaca dan bisa menambah wawasan wahai kaum introvert. haha

2. Menulis

Dengan menulis kita juga bisa menyampaikan aspirasi, opini, uneg-uneg kita, seperti di Mojok ini yang merupakan media untuk menyampaikan uneg-uneg yang terpendam. Ya disini kita bisa menyampaikan kritik-kritik terhadap pemerintah tanpa harus bengak-bengok ke jalanan, ataupun misal ingin mengkritik mantan juga bisa disampaikan di sini. haha

Selain itu, banyak sekali media-media lain yang menampung tulisan uneg-unegmu. Selain tulisanmu bisa dibaca oleh khalayak, namamu bisa mendunia. “Aku menulis maka aku ada.” – bukan Rene Descartes.

3. Aktif di media sosial

Ya aktif di media sosial, media sosial tidak hanya untuk memposting foto, story, atau pamer pacar. Media sosial juga bisa untuk menyampaikan uneg-unegmu. Ya seperti di Twitter, banyak orang menggunakan Twitter untuk menyampaikan uneg-unegnya dan juga para tokoh-tokoh banyak menggunakan Twitter untuk menyampaikan sebuah opini, aspirasi, dan kritik.

Tetapi ketika mengunakan media sosial juga harus ada aturan. Jangan ugal-ugalan seperti Bus Sumber Kencono. Misal kita mau mengkritik juga harus pakai dasar, seperti yang saya sampaikan tadi bahwa sebelum kita mengkritisi sesuatu kita harus mempunyai dasar terlebih dahulu. Karena dengan membaca itu tadi kita bisa mempunyai banyak wawasan.

Misalkan kita mau mengkritik RUU KUHP, sebelumnya kita harus membaca dengan teliti RUU tersebut dan mempunyai argumen yang kuat untuk mengkritisi RUU tersebut. Jika kita mengkritik tapi tanpa dasar kan juga lucu. Seolah-olah kita mengkritik RUU hanya untuk update di medsos, padahal nggak tahu apa-apa tentang yang dikritik tersebut. Wah parah~

Oke, teman-teman sampailah kita di penghujung tulisan ini. Kesimpulan tulisan yang saya sampaikan adalah bahwa seorang introvert itu juga bisa menjadi aktivis. Sebutan aktivis itu bukan hanya untuk mereka yang demo di jalanan, tetapi seorang introvert atau mereka yang nolep juga bisa menjadi aktivis seperti yang telah saya sampaikan di atas. Lewat menulis salah satunya menjadi peluang para introvert untuk menyuarakan uneg-unegnya. Gimana? Gaaas~ (*)

BACA JUGA Terpujilah Wahai Engkau, Para Pembajak Buku atau tulisan Adien Tsaqif Wardhana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version