Informasi
ADVERTISEMENT

Inisiatif ikut rewang di kampung biar nggak dikira antisosial malah berujung trauma

Inisiatif ikut rewang di kampung biar nggak dikira antisosial malah berujung trauma Terminal

Budaya rewang di kampung sudah tak asing lagi bagi masyarakat. Tradisi gotong royong di area dapur ini kental dengan nuansa kehangatan dan kekeluargaan.  Namun, bagi seorang pemula yang baru pertama kali andil sepenuhnya di ruang dapur rewang, pengalaman ini berubah menjadi ujian mental yang cukup menguras energi.

Beberapa waktu lalu, saya terpaksa harus mengiyakan ajakan Ibu saya untuk turut serta membantu hajatan saudara. Saya yang notabenenya jarang ikut kegiatan rewang kampung, sedikit merasa enggan. Bukan karena nggak mau capek, tapi takut dicap nggak bisa apa-apa. Tapi, sudahlah, pikir saya, pengalaman ini toh tetap perlu dicoba.

Niat awalnya memang sederhana, ingin belajar bermasyarakat dan sekadar bantu-bantu ringan. Dalam bayangan saya, mungkin cukup datang, menyapa orang-orang, lalu membantu pekerjaan sekadarnya dengan keadaan ayem tentrem.

Akan tetapi, realitas di lapangan berkata lain. Di sana, orang-orang tampak sudah memahami apa yang harus dilakukan tanpa banyak bertanya. Sementara saya, berdiri sebentar saja sudah sibuk menerka, “Ini harus bantu apa, ya?” Saya dilanda kebingungan. Pasalnya, saya satu-satunya orang yang paling muda di sini.

Tiba-tiba saja saya diminta bantuan mengerjakan hal yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Mau bilang tidak bisa, sungkan. Akhirnya, pilihan paling aman adalah mengiyakan sambil berharap tangan dan otak bisa saling bekerja sama.

Di titik itulah saya mulai paham, bahwa rewang di kampung ternyata bukan sekadar menguji tenaga, tetapi juga keberanian untuk beradaptasi. Dan, tentu saja, hal ini baru permulaan.

Ikut rewang di kampung malah merasa jadi beban di dapur

Setelah mulai memahami medan dapur, saya mulai percaya diri. Saya berpikir mulai bisa mengikuti ritme rewang di kampung dan tidak lagi berdiri linglung bingung mau ngapain. Mengupas bawang, memotong buah, menggoreng camilan suguhan, dan pekerjaan dapur basic lainnya.

Sayangnya, rasa percaya diri ini hanya bertahan sekejap. Ada saja kejadian yang membuat saya kembali sadar bahwa saya masih pemula. Salah mengambil sesuatu atau mengerjakan pekerjaan dengan cara yang menurut saya sudah benar, tetapi tidak bagi mereka.

Semua pekerjaan yang saya lakukan, terasa tak sejalan dengan mereka. Selalu ada celah kesalahan untuk dilontarkan. Alih-alih terlihat berguna, saya malah terlihat tidak bisa apa-apa. Rupanya menjadi bagian dari masyarakat memang membutuhkan keberanian untuk sesekali terlihat bodoh.

Dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan klasik setiap tahun

Dalam bayangan saya pertanyaan-pertanyaan keramat hanya akan keluar di waktu hari raya saja. Ironinya, di dapur rewang ini, bahkan saya nggak lolos dari pertanyaan klasik itu lagi. Saya sudah hafal polanya. Mulai dari pertanyaan kuliah, kemudian bergeser ke pekerjaan, lalu entah bagaimana berujung ke urusan pasangan.

Padahal datang ke dapur niat hati memasak, malah jadi sesi wawancara mengenai rencana hidup. Hadeh. Mau tidak mau satu per satu pertanyaan dari para penghuni dapur rewang harus saya jawab.

Saya pun mulai menggunakan strategi basic menghadapi pertanyaan-pertanyaan familiar ini. Menjawab seperlunya, tersenyum, kemudian pura-pura sibuk dengan pekerjaan. Barangkali ini memang jadi konsekuensi anak muda yang ikut kegiatan kampung.

Dapur menjelma menjadi panggung bergosip

Anggapan bahwa ketika ibu-ibu berkumpul, obrolan akan berujung pada gosip ternyata bukan sekadar stereotip. Di dapur perewangan, saya justru menemukan buktinya secara langsung. Topik yang dibahas nggak ada habisnya.

Sebagai orang yang nggak terlalu banyak bicara, saya cukup diam dan mendengar tanpa harus menimpali. Jujur saja, mendengar kalimat-kalimat pedas yang keluar dari mulut mereka, cukup menguras energi saya. Apa nggak capek ngomong sambil masak, pikir saya.

Salah satu teman laki-laki saya pernah nyeletuk, “Wah, kalau ibu-ibu di kampung yang sudah berkumpul, habis semua dibahas sama mereka.” Dan kali ini saya setuju, karena saya mengalaminya sendiri.

Slogan warga dukung warga tidak berlaku di sini. Semua yang tampak tidak beres di mata mereka jadi bahan omongan di dapur seketika itu. Bahkan, menyindir bukan hal aneh lagi bagi mereka. Saya sampai berpikir, jangan-jangan dapur perewangan memang memiliki dua fungsi, tempat menyiapkan hidangan sekaligus pusat pertukaran informasi warga.

Pengalaman perdana ini sukses membuat saya kapok sejenak. Jika besok-besok ada undangan rewang di kampung lagi, sepertinya saya tidak cuma harus menyiapkan tenaga, tapi juga stok mental dan cadangan energi dua kali lipat lebih banyak.

Penulis: Siti Istiqomah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 September 2026 oleh .

Siti Istiqomah

Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga. Menyukai novel-novel yang mengangkat isu sosial, dan gemar menyalurkan keabsurdan hidup lewat threads.

Exit mobile version