Jangan mudah percaya hotel murah Cikarang, bisa berakhir zonk seperti yang saya alami.
Sudah lama saya hiatus curhat di Terminal Mojok. Eh, sekalinya nongol seperti sekarang, saya mau cerita tentang kerandoman saya di Cikarang Jawa Barat. Ini lucu sekaligus agak bodoh plus horor. Entah apa yang ada di benak saya saat itu. Hal yang mau saya bagikan adalah pengalaman menginap di sebuah losmen murah yang lebih cocok disebut rumah hantu.
Sebenarnya bukan staycation sih, lebih pada “terdampar” di daerah industri. Saya sebut begitu biar nggak terlalu nelangsa amat, hehehe. Waktu itu sudah larut malam sekitar pukul 20.00 WIB dan sudah tidak mungkin saya pulang ke Tangerang.
Setelah berpikir panjang, saya putuskan untuk mencari penginapan di sekitar Lippo Cikarang. Saya tidak ada teman atau keluarga yang bisa ditumpangi.
Selama hampir 1 jam saya berselancar di aplikasi perjalanan untuk mencari hotel dan akhirnya dapat. Harganya nggak sampai Rp250.000 dengan fasilitas layaknya homestay pada umumnya. Ulasan dari tamu-tamu sebelumnya juga tidak ada yang mencurigakan. Plus, beberapa foto yang diberikan tampak biasa saja. Saya langsung pesan hotel murah di Cikarang ini karena sudah lelah letih lesu lunglai. Pengin banget rebahan.
Dan, inilah yang terjadi ketika saya sudah menginjakkan kaki di hotel yang sampai saat ini bikin kesal kalau diingat.
#1 Lokasinya terletak di deretan ruko spa (mungkin plus-plus)
Saya naik ojol menuju hotel murah Cikarang yang sudah saya pesan. Saya dibuat bingung karena tidak menyangka lokasinya ada di antara beberapa tempat pijat. Sudah sepi, agak remang-remang pula. Tapi, mau bagaimana lagi, wong saya juga sudah tidak berdaya ingin cepat rebahan. Saya tetap berpikir positif tentang hotel murah ini, mau tidur di mana lagi.
Selanjutnya, saya dibuat terkejut oleh bangunan yang lebih mirip kantor tua. Besar, tapi sangat jadul dan tidak ada kehidupan. Masa iya saya saja tamunya? Karena sudah mager menerka-nerka, saya langsung check in dan dilayani oleh resepsionis. Wajah dia terlihat agak kaget karena saya datang dengan style gembel dan sendirian.
#2 Kamar kumuh dan tidak layak ditinggali
Saat buka pintu kamar, rasanya saya ingin memaki pengelola hotel. Aroma tak sedap langsung menguar dan membuat saya bergidik. Bau apek menyiksa hidung. Gimana saya mau istirahat nyaman di dalam ruangan seperti ini? Selain itu, dinding kamar lembab dengan cat krem yang sudah bopeng di mana-mana. Lantainya juga kotor, sepertinya tidak pernah dibersihkan.
Untuk menerima kondisi ini, saya tarik nafas dalam-dalam sambil duduk di kursi kayu lapuk. Saya menyalakan AC dan kamu tahu, AC-nya hanya mengeluarkan angin panas. Sepertinya lebih baik pakai kipas angin daripada AC butut begini. Rasa gerah mulai menyiksa dan epic-nya lagi saya belum mandi, ya tambah risih.
Ketika memutuskan untuk mandi, saya tidak menemukan kamar mandi yang layak. Keran wastafel mati dan shower pun tidak mengeluarkan air. Lah terus saya harus bersih-bersih pakai apa, air mineral? Tapi saya pun tidak komplain karena sudah tidak bertenaga untuk bergerak lagi.
#3 Vibes hotel Cikarang ini horor, mirip wahana rumah hantu di pasar malam
Begitu saya menginjakkan kaki di lorong hotel, suasana rumah hantu langsung terasa. Lampu yang temaram, bau apek dimana-mana, dan sunyi seperti tak berpenghuni. Entah kenapa bisa ada hotel ini di pinggir jalan raya Cikarang yang ramai hilir mudik kendaraan. Herannya, saya membaca ulasan di aplikasi kok tidak ada yang aneh ya. Hmm…
Atmosfer kamarnya pun tidak kalah mencekam. Karpet merah yang melapisi lantai warnanya sudah kusam dan banyak bolong di sana-sini karena kejatuhan abu rokok. Salah satu jendela tidak bisa ditutup, takut banget kalau misalnya tiba-tiba ada penyusup. Kalau kasur sih ya standar, tapi agak lembab dan sepertinya jarang diganti spreinya, entah bekas apa.
Untung ada TV yang bisa meramaikan suasana, setidaknya masih ada suara yang bikin otak saya nggak kepikiran ke mana-mana. Pokoknya hotel tua ini lebih mirip wahana rumah hantu di pasar malam dan jauh dari kata layak untuk ditiduri.
Dan, kamu tahu, alhasil saya nggak bisa tidur sampai jam 5 subuh lalu memutuskan pulang naik KRL paling pertama. Yah, semoga pengalaman ini menjadi pertama dan terakhir dalam hidup saya karena sungguh menguras energi dan emosi. Mbok ya tolong dirawat hotelnya meskipun harganya murah tapi jangan sampai jadi murahan.
Penulis: Rachelia Methasary
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
