Honda Spacy memang bukan motor yang paling populer. Tapi buat saya, motor ini lebih dari sekadar kendaraan
Saya bukan tipe orang yang ribet soal motor. Yang penting bisa jalan, irit, dan tidak bikin kantong menangis setiap kali ke bengkel. Tapi kadang hidup tidak semudah daftar keinginan itu. Kadang motor yang kamu beli juga membawa cerita yang tidak pernah kamu rencanakan.
Tiga sampai empat tahun lalu, saya dan almarhum bapak keliling dari rumah ke rumah mencari motor seken dengan budget yang, jujur saja, tidak banyak ruang untuk pilih-pilih. Adanya memang itu, dan kami terpaksa memilih di antara yang ada.
Saat itu, ada 3 unit yang kampi cek. Unit pertama yang kami datangi, Spacy putih. Dari luar kelihatan bersih, tapi begitu dicek, kabelnya tis sana-sini dan knalpotnya sudah brong. Kami pamit, tentu saja.
Lalu, unit kedua, Yamaha X-Ride. Bapak sudah manggut-manggut, tapi saya kurang sreg. Terlalu banyak modifan, dan saya tidak mau beli masalah orang lain.
Terakhir, unit ketiga, Honda Spacy merah hitam tahun 2013. Begitu lihat kondisinya, sesuatu dalam diri saya berkatan: ini dia yang saya cari.
Kami pulang dengan motor itu. Dengan hati yang sumringah, senyum yang merekah.
Honda Spacy dan reputasinya yang setengah-setengah
Di jalanan, Honda Spacy adalah motor yang sering luput dari perhatian. Bukan karena jelek, tapi karena terlalu kalem untuk dibicarakan. Sementara Beat dan Mio berebut perhatian dengan iklan dan varian warna baru tiap tahun, Spacy jalan saja di lajur kiri tanpa banyak gaya.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dimungkiri siapa pun yang pernah berjalan di belakang motor ini: Honda Spacy itu besar dari belakang. Lebar. Mengisi jalan dengan percaya diri yang tenang. Di komunitas pemakai, kami punya sebutan sendiri untuk ini: si Gemoy.
Bodi yang besar itu bukan tanpa fungsi. Dek depan Spacy lega, bagasi bawah jok cukup untuk helm half-face, dan posisi duduknya tegak dan nyaman untuk perjalanan panjang. Untuk motor harian kelas entry, ini bukan hal kecil.
Si Gemoy di jalanan yang tidak ramah
Dua tahun saya kerja di Jakarta, rutenya Panglima Polim sampai Hang Tuah. Siapa pun yang pernah merasakan Jakarta di jam sibuk tahu betul itu bukan medan yang bersahabat untuk motor apa pun, apalagi motor yang tampilannya kalem seperti Honda Spacy. Tapi si Gemoy melewatinya tanpa banyak protes.
Motor ini juga yang menemani perjalanan ngapel ke Tangsel, wara-wiri dari Depok ke Grogol, sampai sekali nekat ke PIK buat interview kerja. Bukan rute pendek, bukan jalanan yang selalu ramah. Tapi Spacy jalan saja tanpa banyak protes.
Yang paling menguji adalah perjalanan ke Cianjur. Jalanannya penuh tanjakan, kondisinya tidak selalu mulus, dan waktu itu saya lupa setel roller untuk medan menanjak. Boncengan pula. Hasilnya? Spacy ngempos, tarikannya terasa berat, nafasnya pendek-pendek di tanjakan, tapi tidak mati.
Itu yang saya ingat. Bukan karena performanya luar biasa, tapi karena di kondisi yang jelas bukan favoritnya, motor ini tetap sampai tujuan. Kadang itu sudah cukup.
Satu keluhan yang tidak bisa didiamkan
Selama memakai Honda Spacy, saya tidak mengalami banyak drama. Mesinnya anteng, konsumsi bensinnya tidak pernah bikin saya kaget di SPBU, dan tampilannya yang bulat-kalem itu entah kenapa tidak pernah terasa ketinggalan zaman.
Satu-satunya yang kadang bikin frustrasi adalah urusan spare part, khususnya body dan komponen seperti kampas ganda. Honda Spacy sudah tidak diproduksi, dan itu artinya kalau ada yang perlu diganti, tidak bisa tinggal mampir ke bengkel resmi dan minta stok. Harus sabar, harus tahu toko yang tepat, kadang harus pesan dulu dan tunggu.
Ini bukan masalah yang mematikan, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa memilih motor yang sudah discontinue berarti kamu juga harus siap dengan ekosistemnya yang makin mengecil.
Di luar itu, satu kali turun mesin di 2025 setelah bertahun-tahun dipakai harian. Buat motor 2013 yang tidak selalu diperlakukan sempurna, itu angka yang cukup wajar.
Honda Spacy, motor yang dibeli bareng Bapak
Saya tidak tahu berapa lama lagi Honda Spacy merah hitam ini akan menemani. Part makin susah, dan tidak ada jaminan kondisinya akan terus sebaik sekarang.
Tapi setiap kali saya naik motor ini, saya ingat proses tiga kali COD itu. Spacy putih yang kami tolak karena kabelnya tis. X-Ride yang banyak modifan. Dan akhirnya motor ini, yang waktu itu rasanya langsung cocok tanpa banyak alasan.
Bapak yang ikut nyari, bapak yang ikut nimbang, dan akhirnya bapak juga yang bilang ambil saja.
Buat sebagian orang, Honda Spacy mungkin cuma motor tua yang partnya susah dicari dan tampilannya tidak sekeren kompetitornya. Tapi buat saya, si Gemoy ini adalah salah satu benda paling berkesan yang pernah saya miliki.
Penulis: Daffa Andarifka Syaifullah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
