Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah (Dinkun Chen via Wikimedia Common)

Daripada bayar untuk mobil sejuta umat yang rasanya biasa saja, kenapa tidak ambil Honda Odyssey yang jelas-jelas menawarkan kemewahan kelas atas dengan harga yang sekarang sudah sangat masuk akal?

Ada mobil yang garis tubuhnya aerodinamis. Lalu tatapan lampunya tajam dan aura kemewahan terpancar tenang. Sudah gitu, tarikannya enak. Rasanya, seperti sedang bawa bus Euro. Mentul-mentul suspensinya. Desain dashboard-nya juga manteb bener. Kira-kira kalau ada mobil yang seperti itu, sampeyan naksir nggak?

Harusnya sih nggak cuma naksir, ya. Tapi, jauh di dalam hati pasti ingin memiliki. Apalagi, setelah dicek mobil ini juga kedap suara dan punya jok yang super nyaman dari baris pertama sampai ketiga.

Namun anehnya, di pasar mobil bekas, mobil ini jarang dilirik. Kalian tahu mobil apa yang saya maksud? Ya, betul. Honda Odyssey.

Honda Odyssey jarang terlihat mengaspal

Ketika kita berkendara, umumnya kita akan melihat lusinan SUV ladder frame yang gagah-gagahan atau MPV kotak sejuta umat. Sementara Odyssey? Dia sudah seperti sebuah fenomena. Mirip-mirip ketika kita menemukan uang seratus ribu di saku celana saat mau disetrika. Mengejutkan, langka, dan bikin bahagia.

Jujur, sebetulnya agak aneh melihat mobil ini jarang dilirik. Dengan segala keindahan yang dimiliki Honda Odyssey (yang disebutkan di awal, itu baru secuil saja), harusnya mobil ini bisa lebih banyak mencuri pasar. Baik mereka yang masih single, ataupun yang sudah berkeluarga.

Apa jangan-jangan, market sekarang memang belum cukup dewasa untuk menghargai sebuah mahakarya, karena terlalu sibuk dengan validasi dari angka penjualan yang masif? Yah, mungkin saja demikian.

Setelah dipikir-pikir, meskipun mobil ini indah, tapi jalan nasibnya tidaklah mudah.

Honda Odyssey lahir dari krisis

Dimulai dari awal kelahirannya. Honda Odyssey ini diproduksi pas Jepang sedang krisis ekonomi di awal tahun 90-an. Padahal kala itu, pabrikan Honda sangat butuh mobil keluarga besar untuk bisa bersaing di pasar. Cuma, ya, gitu deh. Dananya terbatas. Alhasil, para insinyur Honda putar otak. Pokoknya gimana caranya bisa bikin mobil lega di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.

Dan, yah, para insinyur itu ternyata berhasil. Bak idiom ‘The Power of Kepepet’-nya orang Jawa, para insinyur Honda memutar logika dengan menggunakan sasis sedan Honda Accord yang sudah ada, untuk disulap jadi MPV. Lalu, lahirlah Honda Odyssey.

Meski lahir dari keterbatasan, bukan berarti Odyssey dibuat dengan sembarangan. Malahan, kenyamanan sopir dan penumpang jadi prioritas utama. Kalau tidak percaya, coba saja kalian tanya pada yang sudah merasakannya.

Mereka yang pernah duduk di balik kemudi Honda Odyssey, pasti akan bilang kalau mobil ini punya handling yang presisi dan posisi berkendara yang ergonomis. Rasanya, seperti bukan sedang membawa mobil keluarga berbodi bongsor, tapi seperti menyetir sedan mewah yang lincah.

Sementara penumpangnya? Hahaha… Nggak usah ditanya. Percuma. Mereka nggak bakal bisa menjelaskan secara detail bagaimana rasanya di dalam kabin. Soalnya, para penumpang Honda Odyssey biasanya akan langsung terlelap begitu mobil mulai jalan. Saking apanya? Yak. Tul. Saking nyamannya ayunan suspensi dan kedapnya kabin Odyssey ini.

Kenapa jarang dilirik dan mengapa itu salah

Bukan hanya kelahirannya saja yang kurang beruntung. Ketika Honda Odyssey masuk ke bursa mobil bekas pun, nasib baik tak kunjung menyapanya. Meski pernah menyabet segudang penghargaan bergengsi, seperti Best Big MPV dan Car of the Year di berbagai ajang otomotif, di pasar mobil bekas ia justru sering kali luput dari radar.

Alasan paling umum orang menjauhi Odyssey bekas adalah karena ground clearance-nya yang tidak setinggi SUV. Jadi, takut gasruk, gitu. Tapi, coba pikir lagi. Soal gasruk itu salah Odyssey atau salah jalannya? Hayooo, jelas salah jalannya, kan?

Ada juga yang mempersoalkan harga jual kembali Honda Odyssey yang kalah dibanding MPV sebelah. Padahal, di sinilah letak kesalahannya. Beli mobil kok mikir harga jualnya lagi? Sejak kapan mobil harian jadi instrumen investasi? Membeli Odyssey itu, sejatinya adalah soal menikmati setiap detik di dalam kabin, bukan soal sisa recehan lima tahun ke depan. Itu!

BACA JUGA: Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

Suku cadangnya melimpah

Dan untuk yang tidak melirik Honda Odyssey karena ngeri dengan status Completely Built Up (CBU) atau impor utuhnya, karena takut boncos perkara suku cadang, sini saya bisikkan. Menemukan unit Honda Odyssey yang masih segar itu, dijamin akan worth to buy banget. Bahkan, lebih nyaman dari Innova baru sekalipun. Soal suku cadangnya, jangan khawatir. Suku cadang asli Honda Odyssey memang mahal. Tapi, versi cabutannya juga banyak, kok. Terutama, untuk bagian bodi, kaki-kaki, dan komponen elektrikal. Melimpah!

Singkatnya, daripada bayar untuk mobil sejuta umat yang rasanya biasa saja, kenapa tidak ambil Odyssey yang jelas-jelas menawarkan kemewahan kelas atas dengan harga yang sekarang sudah sangat masuk akal?

Kamu bisa dapat pengalamannya, sementara Honda Odyssey dapat mengakhiri nasib buruknya.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mobil Honda Jazz: Simbol Awal Kesuksesan Manusia dan Sudah Saatnya Honda Membangkitkan Sang Legenda

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version