Honda Beat motor green flag di mata orang bengkel.
Di bengkel, motor bukan saja jadi alat transportasi. Dia adalah partner. Ada partner yang rewel, ada yang bandel, tidak sedikit pula yang kelihatan keren, tapi bikin mekanik ingin banting kunci 14.
Nah, dari sekian banyak motor yang keluar-masuk bengkel, Honda Beat jadi salah satu yang paling sering mampir. Dan, justru dari situ, saya makin paham kenapa banyak orang bengkel, termasuk saya, akhirnya suka juga dan memilih Beat buat motor harian.
Spare part aftermarket melimpah
Alasan pertama karena spare part aftermarket melimpah. Mau yang ori, KW super, sampai yang “yang penting pas”, semuanya ada. Dari kampas rem, CVT set, roller, sampai bodi sebiji pun tinggal sebut kode. Di bengkel kecil sekalipun, Honda Beat itu motor yang hampir pasti bisa dikerjain tanpa bingung soal parts.
Soal kualitas bodi, kita jujur saja. Honda Beat memang bukan yang paling solid di kelasnya. Plastik tipis, gampang lecet, kadang kalau sudah umur bunyinya lebih berisik daripada knalpot racing. Tapi, justru di situlah nilai plus buat orang bengkel. Enak dibongkar. Nggak perlu ritual khusus, nggak perlu urutan sakral. Sebab, sekrup standar, klip standar, konstruksinya simpel. Pun, konstruksi mesinnya juga bersahabat. Mau Beat karbu, FI awal, sampai eSP, semua punya pola yang mudah dihafal. Sekali pegang, dua kali bongkar, berikutnya auto lancar.
Hal ini penting buat orang bengkel, karena waktu itu uang. Motor yang cepat ditangani berarti antrian nggak numpuk dan kepala nggak panas.
Honda Beat mesinnya irit dan tetap bandel meski telat ganti oli
Alasan lain kenapa orang bengkel condong ke Honda Beat adalah toleransi mesinnya yang ramah. Mesin Honda terkenal “bandel”, telat ganti oli masih mau hidup. Dipakai harian jarak dekat, jarang dipanasin, masih bisa jalan.
Dan, buat mekanik, mesin yang nggak gampang ngambek itu nikmat. Diagnosis jadi lebih jelas, bukan asal menebak, lalu ujungnya setengah mistis.
Dari sisi konsumsi BBM, Honda Beat itu memang irit. Orang bengkel biasanya pakai motor buat wara-wiri, beli part, test ride, antar barang. Beat cocok buat itu. Tangki kecil tapi ya cukup. Kalau ada motor yang irit tapi rewel, percuma.
Karena populasi yang bejibun alhasil bikin antar mekanik bisa tukar cerita. Penyakit khasnya apa, solusi paling efektif yang mana, part mana yang awet, mana yang sebaiknya dihindari.
Sistem kelistrikan sederhana
Dari sisi kelistrikan, Honda Beat juga cukup bersahabat. Sistemnya sederhana, jalur mudah ditelusuri. Buat bengkel pinggir jalan yang alatnya nggak komplet, ini krusial. Nggak semua bengkel punya scanner mahal atau alat khusus. Beat masih bisa ditangani pakai multimeter, feeling, dan pengalaman.
Satu hal yang sering disepelekan, tapi penting buat orang bengkel adalah resale value. Beat itu gampang dijual. Jadi kalau suatu hari pengin ganti motor, BeAT kalian tinggal cuci, lap, pasang spion baru, langsung laku deh. Harga jualnya pun nggak jatuh sadis. Buat mekanik yang paham pasar, ini nilai plus. Motor harian bukan cuma dipakai, tapi juga aset bergerak.
Nah, satu lagi. Suspensi dan kaki-kaki Beat memang standar, bahkan cenderung empuk. Tapi lagi-lagi, ini motor harian. Orang bengkel tahu betul, kaki-kaki empuk itu nyaman buat kerja seharian. Mau dimodifikasi juga gampang. Sok depan, sok belakang, ban, velg, semua opsi melimpah. Mau standar enak, mau keras dikit juga tinggal ganti.
Akhirnya, memilih Honda Beat buat orang bengkel bukan soal ikut-ikutan atau nggak punya selera. Ini soal logika, pengalaman, dan efisiensi. Di dunia bengkel, yang dicari bukan yang paling keren, tapi yang paling masuk akal dan mendukung cuan. Dan, sejauh ini, Beat masih jadi salah satu motor paling masuk akal yang pernah ada di jalanan Indonesia.
Penulis: Budi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Datsun GO Bekas Kondisinya Masih Oke dan Murah, tapi Sepi Peminat.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
