In this economy, kalian sudah downgrade gaya hidup apa saja?
Fenomena lulusan S2 sulit mencari kerja sudah menghantui pikiran saya sejak pertengahan masa perkuliahan. Ironisnya, sekarang saya mengalami masa-masa sulit tersebut. Saya lulus S2 di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu dengan rezim yang sering asbun. Kombinasi yang sangat menyakitkan.
BPS mencatat inflasi nasional pada bulan September lalu hanya sebesar 3,28 persen year-on-year (yoy). Sementara dalam konteks pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 ada di angka 4,65 persen.
Sekilas angka-angka tersebut terlihat kecil, tapi mari kita bedah. Pada bulan yang sama, ternyata 59,30 persen penduduk yang bekerja adalah pekerja informal. Di dalamnya terdapat pekerja bebas di pertanian dan nonpertanian yang, bila digabungkan, mencapai sekitar 9,49 persen dari seluruh penduduk bekerja.
Negara menelantarkan warga yang harus bersiasat sendirian
Saya bisa bilang, negara memang membiarkan rakyatnya bekerja sendirian. Dan bagi saya sebagai pencari kerja, angka-angka tadi semakin menguatkan pandangan soal ketidakpastian di masa sekarang ini. Bagaimana tidak, kebutuhan sehari-hari yang tetap itu harus didanai dari pemasukan yang serba tak pasti.
Ketidakpastian itu juga memengaruhi hidup saya. Sejak lulus S2, apa yang saya konsumsi makin mudah ditebak. Setiap pagi hanya merebus telur. Kemudian makan dengan lalapan dan sambal kaleng. Pilihan itu muncul begitu saja. Pilihan menunya harus mengikuti anggaran yang makin terbatas. Untung saya tidak bisulan.
Saya bersyukur, pendidikan saya selama S2 didanai dari beasiswa LPDP. Biaya pendidikan dan biaya hidup sudah ditanggung oleh mereka setidaknya selama dua tahun. Pembagiannya, 50 persen dari biaya bulanan yang saya terima bisa saya tabung dan investasikan.
Sementara separuh sisanya saya gunakan untuk kebutuhan harian di Surabaya, bersamaan dengan honor freelance. Dua sumber pendapatan itu membuat saya punya ruang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan hidup sekaligus menyisihkannya untuk keadaan darurat.
Saat lulus, dana tersebut berhenti.
Kini, mau tak mau saya harus downgrade karena hidup hanya bergantung pada penghasilan freelance yang tidak menentu. Kalau tidak, tabungan dan investasi akan terus tergerogoti. Sebab, biaya kos tetap harus dibayarkan, pekerjaan sebagai freelance di bidang menulis dan meneliti pun membutuhkan ongkos transportasi, serta perut juga harus tetap diisi. Sementara itu semua tetap berjalan, saya masih belum mendapatkan kontrak kerja formal yang pasti.
Mau tak mau downgrade gaya hidup yang sudah pas-pasan ini
Situasi itu membuat saya akhirnya merasakan kesulitan sekaligus memahami istilah downgrade lewat keputusan sehari-hari. Misalnya, buku dan pelatihan yang biasanya adalah komoditas kompetensi wajib, kini harus ditunda bahkan dihapus. Keinginan untuk menambah keterampilan tidak hilang, tapi harus dipikirkan matang-matang terlebih dahulu.
Langganan aplikasi juga mulai saya pangkas. Sebelumnya, saya berani mengalokasikan Rp500 ribu per bulan untuk layanan streaming video digital macam Netflix, Vidio (khusus bola), dan layanan aplikasi lainnya. Sekarang, seluruh langganan itu saya hentikan. Sebab, uangnya lebih saya butuhkan untuk makan, membayar kos, dan ongkos bekerja.
Sekarang saya juga mulai berpikir ulang untuk pulang-pergi dari Surabaya ke Semarang. Meski naik kereta murah sekalipun harus mikir biaya tiketnya akan ditambal dari upah freelance yang mana? Atau kalau keadaan mendesak, artinya harus mecahin celengan reksa dana yang mana?
Bahkan, ketika dapat undangan pernikahan teman, hati terus mengulang kata-kata penenang agar ikhlas. Sebab, uang sumbangan itu bisa jadi adalah uang makan untuk seminggu ke depan.
Downgrade urusan makan
Downgrade paling terasa ada di urusan makan. Sebelumnya, saya mengalokasikan maksimal Rp300 ribu seminggu, itu pun dengan memasak sendiri. Sekarang, anggarannya saya pangkas menjadi maksimal Rp200 ribu seminggu.
Akibatnya, ayam dan ikan hanya saya konsumsi sesekali dalam seminggu. Selebihnya, mulut saya akrab dengan telur, tempe, dan tahu. Untuk lalapan, saya mengandalkan timun dan kemangi yang murah. Mau membeli selada segar saja harus pikir-pikir lagi. Sekali lagi, telur rebus adalah lauk yang paling konsisten saya konsumsi.
Penghematan juga mengubah saya bekerja. Sebagai freelancer, saya sering harus mencari informasi di lapangan untuk kebutuhan tulisan, konten, atau riset. Karena tidak punya kantor, biasanya saya pergi ke kafe atau kantor untuk mengolah bahan tersebut di depan laptop. Dulu, saya menyediakan anggaran tersendiri setidaknya Rp150 ribu setiap minggu untuk ke kafe. Sekarang, pos anggaran itu saya hapus.
Saat ini, kebiasaan itu harus saya singkirkan. Pilihan untuk mendapatkan suasana di luar akhirnya membuat saya harus nongkrong di kampus meski sudah berstatus alumni. Beruntung, kampus S2 saya punya coworking space yang cukup nyaman untuk bekerja. Sesekali saya tetap mampir ke warung kopi, tetapi cukup memesan kopi saset Coffeemix yang harganya tidak sampai Rp10 ribu. Ironis memang, gelar sudah dibawa pulang, tapi saya masih sering nongkrong di kampus.
Hal esensial lain juga kena penghematan
Downgrade lain yang nggak kalah bikin pusing adalah soal transportasi. Sebelumnya, saya tidak menetapkan batas khusus untuk pengeluaran bensin dalam seminggu. Sekarang, saya membatasinya maksimal Rp100 ribu. Artinya, jarak perjalanan juga harus jadi pertimbangan. Setiap hendak pergi, saya perlu menghitung apakah ongkosnya masih masuk anggaran minggu itu?
Di banyak SPBU yang saya lihat, antrean pertalite jadi kenormalan baru saat ini. Di sisi lain, pertamax relatif lebih lenggang. Bagi orang seperti saya, ada dilemma tersendiri. Sebab menghemat uang berarti harus berkorban waktu dan tenaga untuk menunggu.
Asumsi saya, situasi ini bisa dibaca lewat konsep non-price rationing, ketika akses terhadap barang ditentukan oleh faktor selain harga, seperti ketersediaan, antrean, atau batas pembelian. Kondisi ini bisa mendorong seleksi diri, menyerupai self-targeting: sebagian orang bertahan demi harga lebih murah, sebagian lainnya memilih membayar lebih mahal untuk menghemat waktu.
Bagi saya sendiri, penghematan harus dipertimbangkan bersama dengan opportunity cost-nya, tentu ini soal waktu dan tenaga. Sebab bagi pekerja lepas seperti saya, waktu dan tenaga juga dibutuhkan untuk menghasilkan uang. Pilih hemat atau tidak, keduanya sama-sama punya konsekuensi.
Hidup terus berjalan
Di tengah downgrade gaya hidup, saya harus terus mencari pekerjaan. Setidaknya dalam dua bulan terakhir. Beberapa proses sudah sampai tahap wawancara, tapi belum ada kecocokan.
Tentu sebagai lulusan S2, bagian sulitnya adalah pembicaraan soal gaji. Gelar S2 membuat saya terlalu mahal bagi pemberi kerja. Di sisi lain, saya juga mempertimbangkan apakah penghasilan yang ditawarkan cukup untuk kebutuhan hidup dan biaya bekerja. Bagaimanapun, ada ongkos yang harus saya keluarkan untuk bisa menjalankan pekerjaan itu sendiri.
Terlepas dari semua itu, kebutuhan harian saya tetap berjalan. Tabungan dan investasi yang saya kumpulkan sebelumnya, mulai digerogoti sedikit demi sedikit. Saya memang punya gelar baru, tapi itu tidak membuat saya terbebas dari ketidakpastian hidup. Maka dari itu, entah sampai kapan saya harus berjuang sebagai pemburu kerja sambil tetap mengais-ngais upah freelancer yang tidak seberapa.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.