Hidup di Desa Itu Murah, yang Mahal Adalah Ongkos Sosialnya, dan Ini Rinciannya

Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan (unsplash.com)

Dalam hidup ini, kita pasti punya angan-angan. Misalnya, ingin tinggal di lingkungan yang tenang, ayem, jauh dari polusi udara dan kemacetan. Tujuannya, supaya bisa menjalani hidup yang tidak memburu, tidak pula diburu. Dan jawaban dari semua itu adalah hidup di desa. Biasanya yang sudah pensiun atau punya financial freedom nih yang punya keinginan seperti ini.

Selain bisa menepi dari hiruk pikuk dunia, hidup di desa juga tampak menyenangkan karena biaya hidupnya yang murah. Nggak ada ceritanya tuh nasi goreng seharga 45 ribu ataupun es teh seharga 30 ribu di desa. Itu sebabnya, banyak orang ingin menghabiskan masa pensiun mereka di desa. Referensi desa yang enak buat pensiun ataupun slow living, sudah banyak di-spill di Terminal Mojok. Tinggal pilih mana yang cocok.

Meski demikian, ada satu hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk hidup di desa. Yaitu, soal ongkos sosialnya. Percayalah, ongkos sosial di desa itu pating tritil, alias banyak banget macamnya. Besarannya memang nggak seberapa, tapi, kalau diakumulasikan ternyata lumayan juga.

Daftar iuran wajib di desa

Mari kita breakdown bareng-bareng, apa saja sih yang termasuk dalam ongkos sosial hidup di desa. Tapi, berhubung orang-orang yang saya tanya menyebutkan nominal yang berbeda, saya ambil rata-rata saja.

Kas RT                                    : 5.000

Dansos RT                              : 5.000

Kas dasawisma                       : 5.000

Kas RW                                   : 5.000

Snack pengajian                     : 7.000

Arisan ibu-ibu                         : 50.000

Arisan bapak-bapak                : 25.000

Sampah                                   : 30.000

Jimpitan                                   : 5.000

Iuran kematian                        : 2.000

Iuran keamanan/ronda           : 2.000/hari (60 ribu/bulan)

Dihitung-hitung, ada pengeluaran sebesar 199.000/bulan. Kalau gajimu UMR Jateng, yang berada di kisaran 2,3 juta rupiah, maka iuran wajib hidup di desa ini sudah menghabiskan sekitar 8,5% dari gaji imutmu.

Kelihatannya sih kecil. Tapi, itu baru iuran wajibnya ya, Bolo. Yang ngeri-ngeri sedap adalah iuran lain yang insidental, katanya tidak wajib, tapi kalau nggak ngasih bisa jadi bahan gibah tetangga.

Ongkos sosial lain yang tidak terduga ketika hidup di desa

Ongkos sosial lain ketika kamu hidup di desa misalnya saat harus tilik tetangga sakit, melahirkan, ataupun meninggal. Memang sih, tiap bulannya warga sudah ditarik iuran dansos dan iuran kematian. Tapi, hal tersebut tidak lantas membuat warga bisa lenggang kangkung. Secara pribadi, mereka tetap harus bawa sesuatu, entah uang atau bingkisan agar elok dipandang.

Belum lagi kalau bicara soal hajat tetangga yang macamnya banyak sekali. Yang kecil-kecilan, ada acara anak ulang tahun dan tilik haji. Yang gedean, ada nyunati hingga pesta pernikahan. Dan kalau kamu tinggal di Jawa, rentetan tradisi komunalnya jauh lebih panjang dan lebih memicu ongkos sosial. Untuk prosesi dari masa kehamilan hingga bayi diberi nama saja, kamu bakal diundang ke acara empat bulanan, tujuh bulanan (mitoni), puputan, hingga tradisi tedhak siten saat anak mulai belajar berjalan.

Siklus ini pun masih berlanjut bahkan ketika seseorang sudah tiada. Ada tahlilan 7 hari, peringatan seratus hari (nyatus), hingga haul tahunan (mendak). Jujur, saya sampai bingung ngitung ongkos sosialnya, saking terlalu banyak. Tapi, karena momen-momen tersebut jarang tumplek blek di bulan yang sama, maka, mari kita anggap rata-rata untuk ongkos sosial tak terduga ini sebesar 100 ribu/bulan. Sehingga, totalnya menjadi 299.000/bulan.

Dan itu belum selesai.

Ketika semua dirayakan

Pengeluaran yang disebutkan di atas adalah pengeluaran yang berkaitan dengan hubungan kita dalam bertetangga. Yang lain, ada pula ongkos sosial yang kaitannya dengan posisi kita sebagai bagian dari masyarakat desa.

Contohnya begini. Jika rumah kamu dekat dengan madrasah, maka, bersiapkah dimintai sumbangsih ketika madrasah tersebut punya gawe, perayaan, renovasi atau apa pun itu.

Mendekati Agustus, akan ada iuran perayaan HUT RI bukan hanya dari RT setempat, tapi juga dari RW dan desa.

Kamu protes? Maka sesepuh akan mulai berkoar tentang nasionalisme. Bahwa momen ini hanya setahun sekali dan para pahlawan sudah mengorbankan nyawa mereka demi kemerdekaan. Sedangkan kamu? Diminta iuran saja kangelan.

Ada lagi. Masuk bulan Muharram, biasanya ada iuran santunan anak yatim. Di bulan puasa, bersiap untuk nyumbang takjil ke masjid. Nanti halal bil halal, juga ada iuran. Trus kalau besoknya jumat kliwon, akan ada woro-woro untuk sumbangan nasi kotak.

Definisi semua dirayakan, semua pakai iuran.

Untuk semua tetek bengek ini, anggaplah kita butuh 150 ribu sebulan. Maka, ongkos sosial per bulannya menjadi 449.000.

Setor iuran iya, setor muka juga iya

Kalau toh kamu tidak masalah dengan iuran sosial yang besarnya mencapai 20% dari UMR Jateng itu, jangan lupa bahwa hidup di desa itu nggak bisa hanya rajin setor iuran. Kamu, juga harus setor muka, keluar rumah dan ikut acara-acara tadi. Kalau kamu tidak pernah menampakkan batang hidung, bersiaplah dijadikan bahan gunjingan warga.

“Si A kemana ya? Kok nggak pernah ikut ngumpul?”

Lalu, akan selalu ada orang yang komentar, “Nggak pernah ngumpul. Dia kira kalau meninggal bakal turun sendiri ke liang lahat apa?”

Hmm.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version