Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Harapan Kecil dari Seorang Pembaca kepada Penerbit Buku

Wahid Kurniawan oleh Wahid Kurniawan
12 Januari 2021
A A
Obituari Prie GS dan Kenangan akan Impian Masa Kecil  terminal mojok.co

Obituari Prie GS dan Kenangan akan Impian Masa Kecil  terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Tahun lalu dilewati dengan segenap adaptasi dan perubahan. Sejak dirilisnya berita Covid-19, dari bulan ke bulan hantaman pandemi menyasar berbagai sektor ekonomi. Di awal kedatangannya, sebagai imbas dari diberlakukannya anjuran untuk bekerja dan belajar di rumah, salah satu yang terhantam adalah industri perbukuan, termasuk di dalamnya penjual dan penerbit buku. Seolah tak cukup dihadapkan dengan sejumlah permasalahan seperti maraknya buku bajakan, mereka menghadapi tantangan baru.

Ikatan Buku Penerbit Indonesia (Ikapi), pada April tahun lalu melansir bahwa dari 100 perusahaan penerbit buku yang disurvei tercatat sebanyak 95,9% penerbit mengalami penurunan penjualan, kemudian sebanyak 55,1% penerbit buku merencanakan PHK. Perubahan kebiasaan masyarakat yang mengurangi intensitas keluar rumah, apalagi berkunjung ke pusat perbelanjaan yang juga menjadi tempat toko buku berada, turut memengaruhi perputaran industri ini.

Adaptasi pun mau tak mau dilakukan. Sejumlah strategi dipikirkan hingga, salah satunya, membuahkan kiat untuk memperkuat pemanfaatan jaringan digital. Para penerbit buku besar, sebagai pelaku yang paling merasa terdampak adanya pandemi, semakin merambah media sosial sebagai sarana pemasaran mereka.

Digencarkannya kembali postingan-postingan yang menggaet minat publik, sejumlah produk didiskon tiada henti, sampai seminar atau webinar baik tentang buku maupun soal kepenulisan diselenggarakan hampir setiap bulan.

Sementara itu, sedikit berbeda atas dampak dirasakan pelaku penerbit buku besar, bagi penerbit indie atau alternatif, hantaman pandemi tak sekuat saudara mereka yang berskala besar. Salah satu sebabnya, kita bisa melihat, bahwa kiat menggunakan sarana digital memang sudah menjadi strategi pemasaran utama mereka. Oleh sebab itu, ketika perubahan konsumsi masyarakat atas produk-produk yang dipasarkan lewat jejaring digital kian meningkat, mereka justru sedikit diuntungkan.

Terbukti, sekian judul buku baru terus mengalir dari meja redaksi mereka. Percobaan atas tema-tema yang tampak jarang dalam skema pasar buku Tanah Air pun semakin berani mereka ambil. Dan, yang patut diperhatikan adalah terus dihadirkannya karya-karya terjemahan dari negara lain.

Sayangnya, baik yang diproduksi oleh penerbit buku besar maupun mereka yang tergolong indie, sekian judul karya terjemahan yang dihasilkan kebanyakan masih didominasi penulis-penulis adidaya dalam skema pasar internasional. Karya-karya, sekadar menyebut contoh skema, dari penulis negeri tetangga sendiri masih amat jarang kita jumpai. Maka tak heran, menurut pengamatan saya, kita lebih mengakrabi para penulis dari benua Eropa dan Amerika, sebaik kita mengenal karya-karya dari penulis Korea Selatan atau Jepang.

Namun, bagaimana dengan karya-karya, katakanlah, dari Thailand atau Vietnam? Kita mesti mengakui, pengetahuan soal karya-karya mereka masih kalah jauh.

Baca Juga:

Alasan Gramedia Tidak Perlu Buka Cabang di Bangkalan Madura, Nggak Bakal Laku!

Gramedia Menyedihkan, Ramai Pengunjung Bukan untuk Beli Buku melainkan Alat Tulis dan Aksesori Lucu

Problem ini mungkin bukan masalah baru. Dari webinar “Rasa Bahasa dalam Novel Terjemahan” dengan pemateri Siska Yuanita, salah satu editor di penerbitan Gramedia, saya mengetahui bahwa pertimbangan untuk memboyong karya-karya luar negeri, salah satunya, adalah dengan melihat rating-nya di pasar internasional. Mengingat, bagaimanapun, penerbit buku adalah bidang usaha yang tetap menginginkan keuntungan. 

Maka perkara mengambil karya yang mempunyai gambaran pasar yang aman tentu jadi pertimbangan utama, selain soal idealisme perusahaan. Oleh sebab itu, bisa dipahami bahwa dominasi atas persebaran ragam jenis buku dan penulis di negeri ini, turut dipengaruhi oleh skema pasar internasional.

Pertanyaannya, akankah di tahun ini mereka mau mengambil risiko dengan melirik karya-karya yang datang dari penulis Asia Tenggara?

Harapan ini, barangkali lebih bisa kita limpahkan di atas pundak para pelaku penerbitan indie atau alternatif. Sejauh ini, kita sudah melihat bagaimana mereka lebih fleksibel dan leluasa menghadirkan karya-karya yang kerap absen dalam katalog penerbit besar. Bagi mereka, terkadang soal idealisme menghadirkan karya-karya tertentu lebih diutamakan ketimbang memikirkan apakah pasar akan menyerapnya atau tidak.

Meski begitu, harapan bahwa para pelaku penerbit buku besar berkenan menghadirkan karya yang selama ini absen dalam peta industri perbukuan kita, tentu tak kalah kencangnya. Mereka, sebagai pihak yang juga berperan dalam menciptakan pasar, tentu bisa diharapkan mengisi kekosongan kita akan pengetahuan soal karya para penulis negeri tetangga.

Terakhir, kita sudah melihat, tahun yang berat bagi industri perbukuan Tanah Air itu sudah terlewati. Kendati industri ini sempat tersendat, tapi, dengan upaya mulai dari memperkuat strategi pemasaran, menunda atau mengurangi sejumlah terbitan, sampai memangkas jumlah awak pekerja, pada akhirnya mereka tak takluk sama sekali. Mereka tetap bertahan.

Kita pun melihat, betapa perkembangan minat membaca tampak meningkat di tengah kesuntukan akibat kungkungan tembok rumah. Di tengah aturan jaga jarak, anjuran di rumah saja, dan segenap batasan lainnya, membaca buku telah menjadi kegiatan yang menenangkan pikiran dan perlahan menjadi kebutuhan.

Sudah sepatutnya kita tergerak untuk menyongsong lembaran baru kalender dengan segenap rencana, mimpi, keinginan, dan harapan-harapan. Dan saya, sama seperti para pembaca buku di luar sana, selalu berharap keberlangsungan industri buku berjalan dengan baik. Apalagi, bila keragaman karya (terjemahan) dari banyak penulis diperbarui.

BACA JUGA Buku ‘Semesta Murakami’ Adalah Kitab Penting untuk Penulis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 11 Januari 2021 oleh

Tags: penerbit bukutoko buku
Wahid Kurniawan

Wahid Kurniawan

Wahid Kurniawan, penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

ArtikelTerkait

Social Agency Baru: Toko Buku yang Krisis Identitas

Social Agency Baru: Toko Buku yang Krisis Identitas

31 Agustus 2022
wisata jakarta, Dear Mas Kevin, Benarkah Toko Buku Bisa Ciptakan Pasar?

Dear Mas Kevin, Benarkah Toko Buku Bisa Ciptakan Pasar?

7 Januari 2020
Dear Toko Buku Gramedia, Ayo dong Buka Outlet di Kota Pekalongan

Dear Toko Buku Gramedia, Ayo dong Buka Outlet di Kota Pekalongan

5 Oktober 2023
Gramedia Menyedihkan, Ramai Pengunjung Bukan untuk Beli Buku melainkan Alat Tulis dan Aksesori Lucu

Gramedia Menyedihkan, Ramai Pengunjung Bukan untuk Beli Buku melainkan Alat Tulis dan Aksesori Lucu

2 Mei 2025
Alasan Gramedia Tidak Perlu Buka Cabang di Bangkalan Madura, Nggak Bakal Laku! Mojok.co

Alasan Gramedia Tidak Perlu Buka Cabang di Bangkalan Madura, Nggak Bakal Laku!

12 September 2025
Membaca Salah Satu Buku yang Dibaca Suga BTS, 'Reinventing Your Life' terminal mojok.co

Mahasiswa saat Membeli Buku: Tipe Mereka Berdasarkan Jenjang Semester

28 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

25 Februari 2026
5 Barang Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek-merek yang Sudah Besar Mojok.co

5 Produk Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek yang Sudah Besar

25 Februari 2026
6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag- Cuma Bikin Sakit Hati! (Wikimedia Commons)

6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Sakit Hati

22 Februari 2026
Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

26 Februari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Lupakan Teori Kuliner PNS, di Sidoarjo Kasta Tertinggi Warung Makanan Enak Ditentukan oleh Orang-orang Waktu Bubaran Pabrik

27 Februari 2026
Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

22 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah
  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya
  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.