Ada dua nama bus yang rasanya sulit dipisahkan dari cerita jalanan Tulungagung. Bus Harapan Jaya dan Pelita Indah sama-sama punya sejarah panjang di jalur selatan Jawa Timur. Keduanya pernah menjadi bagian penting transportasi masyarakat.
Akan tetapi, bagi sebagian penumpang, nama besar tidak selalu berarti rasa aman. Sebab, ketika bus melaju terlalu kencang, penumpang tidak punya banyak pilihan selain duduk dan berharap perjalanan selesai dengan selamat.
Bus Harapan Jaya dan Pelita Indah terkenal karena kasus kecelakaannya
Catatan kecelakaan kedua bus itu memang panjang. Harapan Jaya pernah terlibat kecelakaan maut di Sidoarjo pada 2012 yang menewaskan sembilan orang, lalu kecelakaan dengan kereta api di Tulungagung pada 2022, serta kecelakaan Rejoagung pada 2025 yang menewaskan dua orang.
Pada kasus Rejoagung, polisi menyebut bus melaju sekitar 80 kilometer per jam dan titik pengereman mencapai sekitar 120 meter. Sopir kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan penyidik juga mendalami dugaan pelanggaran lain.
Bus Pelita Indah juga mempunyai catatan yang tidak kalah panjang. Pada 2007, bus Pelita Indah terlibat kecelakaan di Tulungagung yang menewaskan tiga orang setelah bus disebut melaju dengan kecepatan tinggi saat mendahului truk. Kecelekaan juga pernah terjadi pada 2014, bus Pelita Indah kembali terguling ketika menghindari sepeda motor dan sejumlah penumpang mengalami luka.
Pada 2024, bus ini juga pernsh terguling di Kras Kediri dan 13 orang dilaporkan mengalami luka setelah bus terlalu ke kanan ketika mendahului kendaraan. Bahkan, pada 2012, salah satu bus Pelita Indah juga mengalami kebakaran mesin dalam perjalanan.
Masalahnya bukan sekadar menghitung berapa kali bus mengalami kecelakaan. Lebih penting dari itu, setelah kecelakaan selesai diberitakan, apa yang berubah?
Apakah hanya sopir yang diperiksa dan kemudian perkara selesai. Atau sistem perjalanan juga ikut dibongkar dari hulu sampai hilir. Sebab, keselamatan penumpang terlalu mahal jika selalu dibayar setelah kecelakaan terjadi.
Jalanan bukan arena balap
Ada satu fakta yang menarik dari sejarah kedua bus tersebut. Pada 2012, Harapan Jaya dan Pelita Indah bahkan pernah terlibat kecelakaan di Trenggalek. Saksi menyebut kedua bus sempat terlibat aksi kejar-kejaran dan berjalan sangat berdekatan sebelum Pelita Indah mengerem mendadak.
Harapan Jaya kemudian menabrak bagian belakang Pelita Indah. Polisi memang tidak melaporkan korban jiwa atau luka dalam peristiwa itu. Namun, cerita tersebut menunjukkan betapa tipis jarak antara persaingan mendapatkan penumpang dan risiko kecelakaan.
Di sini persoalan budaya keselamatan mulai menarik untuk dibicarakan. Bus umum bukan kendaraan yang boleh memperlakukan waktu seperti target lomba. Penumpang membayar tiket untuk sampai tujuan, bukan untuk menguji refleks sopir.
Jalan raya juga bukan tempat membuktikan siapa yang paling cepat sampai terminal. Ketika kecepatan menjadi kebiasaan, keselamatan perlahan bisa berubah menjadi sekadar bonus.
Jadwal mengalahkan keselamatan penumpang Harapan Jaya dan Pelita Indah
Kasus Harapan Jaya pada 2025 memberikan petunjuk yang lebih serius. Polisi menyebut sopir yang menjadi tersangka sebelumnya pernah ditilang karena mengemudi ugal-ugalan. Dalam pemeriksaan, sopir mengaku melakukan pelanggaran karena mengejar jadwal trayek dan takut disusul bus lain dalam perebutan penumpang.
Ini bukan lagi sekadar cerita penumpang yang merasa bus berjalan terlalu cepat. Ada keterangan resmi mengenai tekanan mengejar jadwal dan persaingan di jalan.
Kalau sopir merasa harus mengejar waktu, pertanyaan berikutnya sebenarnya sederhana. Siapa yang menentukan waktu perjalanan tersebut? Seberapa realistis jadwal itu terhadap kondisi jalan?
Apakah jadwal dibuat dengan mempertimbangkan kemacetan, lampu merah, pasar, kendaraan lambat, dan kondisi cuaca. Kalau jawabannya tidak, maka sopir bisa berada dalam posisi serba salah sejak sebelum mesin dinyalakan.
Sopir memang punya tanggung jawab besar. Tetapi, sopir bukan robot yang bisa dipaksa mengejar target tanpa memperhitungkan keadaan. Sopir bisa salah karena mengambil keputusan buruk. Namun, sistem juga bisa menciptakan situasi yang membuat keputusan buruk terasa masuk akal.
Inilah bagian yang sering hilang dalam pembicaraan soal kecelakaan bus. Kita terlalu cepat menunjuk tangan kepada orang yang memegang setir. Namun, lupa melihat siapa saja yang mengatur perjalanan di belakang setir.
Pengawasan jangan cuma setelah kecelakaan
Pengawasan keselamatan seharusnya tidak bekerja seperti pemadam kebakaran. Polisi datang setelah kecelakaan. Petugas memeriksa lokasi. Sopir diperiksa. Kendaraan diamankan. Berita muncul. Setelah beberapa minggu, perhatian publik berpindah ke kasus lain. Padahal keselamatan justru seharusnya diawasi sebelum bus berangkat.
Pada kasus Harapan Jaya di 2025, polisi sampai memeriksa pihak manajemen PO, Terminal Tipe A Gayatri, dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur untuk mendalami operasional armada, jadwal, izin trayek, dan pengawasan angkutan umum.
Ini penting karena kecelakaan tidak selalu cukup dijelaskan dengan kalimat “sopir lalai”. Ada sistem operasional yang perlu diperiksa ketika sebuah bus membawa puluhan nyawa setiap hari.
Pengawasan juga tidak boleh berhenti pada kelengkapan surat. Bus bisa memiliki dokumen lengkap tetapi tetap membahayakan jika perilaku berkendaranya buruk. Sopir bisa memiliki SIM sesuai ketentuan tetapi tetap mengambil keputusan berisiko.
Armada bisa lolos pemeriksaan tetapi kemudian digunakan dalam situasi yang menekan pengemudi untuk mengejar waktu. Keselamatan harus dilihat sebagai kebiasaan harian, bukan sekadar administrasi.
Penumpang Harapan Jaya dan Pelita Indah tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan
Inilah posisi paling tidak enak bagi penumpang. Penumpang tidak tahu target waktu sopir, tidak tahu pula apakah bus sedang mengejar bus lain. Penumpang juga tidak tahu apakah sopir sedang mendapat tekanan karena terlambat. Yang diketahui penumpang hanya satu, bus sedang melaju dan tubuh penumpang berada di dalamnya.
Karena itu, penumpang sering menjadi pihak yang paling tidak berdaya ketika budaya keselamatan bermasalah. Mau turun tidak mungkin. Mau mengambil alih kemudi juga mustahil. Menegur sopir pun belum tentu mudah. Penumpang akhirnya hanya bisa berdoa ketika bus mulai menyalip dengan jarak tipis.
Bus Harapan Jaya dan Pelita Indah tentu bukan satu-satunya bus yang pernah mengalami kecelakaan. Bus lain juga punya catatan buruk. Namun, kedua nama ini punya sejarah panjang di jalur Tulungagung, sehingga setiap kecelakaan mudah menempel dalam ingatan masyarakat.
Apalagi persaingan bus di jalur lama Surabaya-Trenggalek memang pernah dikenal keras. Pelita Indah bahkan pernah disebut sebagai rival berat Harapan Jaya dan dikenal dengan julukan “raja balap” di jalur tersebut.
Yang perlu ditakuti bukan busnya
Menyebut Harapan Jaya dan Pelita Indah sebagai “duo maut Tulungagung” memang terdengar provokatif. Namun, istilah itu seharusnya tidak dipakai untuk menghakimi seluruh armada, seluruh sopir, atau seluruh pengelola.
Yang lebih penting adalah menjadikan rangkaian kejadian tersebut sebagai alarm. Sebab persoalan keselamatan tidak boleh menunggu korban berikutnya untuk kembali dibicarakan.
Bus yang baik bukan bus yang paling cepat. Bus yang baik adalah bus yang mampu membuat penumpang lupa bahwa sedang naik kendaraan besar. Tidak ada aksi salip-salipan yang membuat jantung copot maupun ngereman mendadak yang membuat penumpang terlempar. Tidak ada perasaan bahwa terlambat lima menit lebih menakutkan daripada kehilangan nyawa.
Pada akhirnya, persoalan Harapan Jaya dan Pelita Indah bukan sekadar soal nama bus yang melintas di Tulungagung. Persoalannya adalah bagaimana industri angkutan umum memperlakukan keselamatan sebagai budaya. Jika target waktu, perebutan penumpang, dan tekanan perjalanan lebih kuat daripada prinsip kehati-hatian, kecelakaan tinggal menunggu kesempatan.
Penumpang tidak membutuhkan bus yang memenangkan perlombaan di jalan. Penumpang hanya membutuhkan bus yang membawa tubuh sampai tujuan dalam keadaan utuh.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk banyak pelajar.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













