Sebagian warga Semarang Bawah, Gunungpati kerap dinarasikan sebagai tameng terakhir kesegaran kota. Wilayah yang didominasi oleh perbukitan ini digadang-gadang sebagai kawasan resapan air kota Semarang, sekaligus tempat untuk refreshing dari hiruk pikuk Semarang bawah yang kerap diplesetkan sebagai simulasi neraka bocor dan padang mahsyar.
Coba tanya orang Semarang bawah tentang Gunungpati Semarang. Pasti kebanyakan jawaban dari mereka-mereka ini kurang lebih sama “wilayahnya adem ayem, banyak pohon, hutannya masih asri”. Tapi, itu Gunungpati 10 tahun lalu. Gagasan saya sebagai warlok jujur untuk saat ini tidak relate dengan semua omongan itu. Realitasnya tidak sesuai dengan omong-omong orang Semarang bawah, predikat ‘sejuk’ sejatinya sudah lama kadaluarsa.
Sayangnya, image prestise Gunungpati Semarang sebagai kawasan hijau dan resapan air saat ini sudah perlahan luntur mulai 10 tahun belakangan ini. Pohon-pohon pinggiran jalan dan hutan-hutan kini perlahan menipis, dikalahkan dengan beton—berderet dan spanduk-spanduk iklan pinggiran jalan “kavling murah, bunga rendah” yang kian masif, diperburuk dengan kebiasaan warlok-warlok yang suka obong-obong (bakar-bakar) sampah.
Detik ini, vibes teduh Gunungpati terasa 11-12 dengan Semarang bawah—perubahan iklim lokal tidak terjadi secara mendadak, ada proses alih fungsi lahan sampai kebiasaan buruk warganya menjadi kombo maut dari memudarnya keteduhan di wilayah ini.
Efek urbanisasi, hingga pembangunan kavling yang masif
Jika kamu jalan-jalan cari angin mengitari Gunungpati hari ini, selain melihat pemandangan perbukitan, dan jalan berkelok—menanjak, Anda juga akan melihat hektaran hutan gundul yang sedang digilas alat berat. Tidak ketinggalan juga spanduk-spanduk besar di pinggir jalan rata-rata yang akan anda jumpai akan berisikan “Dijual kavling siap bangun, SHM, KPR mudah bunga rendah”. Membaca spanduk-spanduk itu, siapa juga yang tidak tertarik?
Dulu punya sebidang tanah di sini artinya punya aset pertanian—perkebunan dan tempat tinggal yang adem. In this economy punya tanah seuprit saja langsung terbenak dipikiran untuk dijadikan rupiah. Kalau nggak dijual ke makelar properti, ya dialihfungsikan sebagai kos-kosan ataupun kontrakan.
Ditambah adanya beberapa perguruan tinggi di Gunungpati yang setiap tahun membuka kuota mahasiswa yang masif, tentunya kebutuhan akan atap teduh untuk tinggal otomatis melonjak. Kedatangan gelombang para mahasiswa di kawasan ini, akibatnya pemilik-pemilik tanah di sini berkompetisi mengubah ruang terbuka hijau milik mereka menjadi deretan kamar, untuk meraup cuan bulanan yang lebih pasti daripada harus menunggu lahan panen yang tidak selalu pasti.
Menyalahkan alih fungsi lahan saja terasa kurang adil. Memudarnya keteduhan di Gunungpati ini tidak cuma disumbang oleh makelar kavling dan juragan kos-kosan. Ada hal yang tak kalah penting, yaitu tingkah warga lokal yang tak kalah bikin jengkel dalam merusak kualitas udara di kawasan ini.
Kebiasaan obong-obong warlok juga bikin gerah
Sebagai warga kota Semarang tentu saya sering mendengar candaan kondisi cuaca yang panasnya minta ampun. Contohnya seperti lelucon template bagi kebanyakan orang seperti: “satu orang satu matahari” atau “panasnya seperti simulasi neraka bocor”. Lelucon itu agaknya mulai cocok disematkan dengan daerah Semarang atas, tanpa terkecuali Gunungpati.
Warlok Gunungpati tampaknya harus legowo jika lelucon itu mulai cocok dengan keadaan hari ini. Mereka juga harus legowo kalau disebut sebagai salah satu yang berkontribusi dalam panasnya hari ini. Sebab, oknum-oknum yang bakar sampah bikin keadaan makin parah.
Di samping faktor pembabatan hutan dan juga urbanisasi, warlok Gunungpati malah ikut andil merusak vibes teduh di sini. Oknum warlok malah rajin menyulut korek api ke tumpukan sampah. Pastinya membuat jengkel orang-orang lain yang sedang dan akan menjalankan aktivitasnya.
Kualitas udara Gunungpati Semarang juga sudah jelek
Kualitas udara Gunungpati Semarang sudah tidak seperti dulu. Pagi pun tak lagi menyenangkan. Saya pernah mengira kepulan asap yang muncul di pagi hari itu adalah kabut. Ternyata, itu adalah kepulan asap dari pembakaran sampah oleh oknum warlok.
Di sini letak ironisnya. Jam-jam orang-orang memulai aktivitas malah diganggu oleh bakar-bakar sampah. Parahnya bakar-bakar ini dapat mudah dijumpai di pinggiran jalan hingga gang-gang pemukiman warga.
Predikat Gunungpati sebagai area konservasi hijau dan resapan air kota Semarang saatnya masuk ke status darurat untuk diawasi oleh pihak pemkot dan juga warloknya sendiri. Alih fungsi lahan untuk tempat tinggal yang makin masif dan juga asap obong-obong yang tak kenal waktu telah menyebabkan suhu wilayah Semarang atas dan bawah sama rata. Jadi jangan heran jika ada pendatang yang mengatakan cuaca di bawah dan atas tidak ada perbedaan drastis.
Penulis: Ahmadinniejaad Rafsanjani
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Gunungpati, Satu-satunya Daerah di Semarang yang Panasnya Masih Bisa Ditoleransi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
