Bicara soal Bojonegoro, ada dua hal yang selalu terlintas di kepala teman-teman saya ketika mereka mengetahui bahwa saya orang Bojonegoro. Yang pertama yaitu kota minyak dan kedua kota mebel.
Julukan kota minyak dan mebel ini bukan datang secara acak dan asal diberikan kepada kota kelahiran saya. Bojonegoro benar-benar memiliki sumber cadangan minyak yang melimpah, terutama dari lapangana Banyu Urip di Blok Cepu. Di mana, hal itu menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah yang cukup besar hingga pernah menembus angka triliunan.
Di samping sebagai sumber cadangan minyak, daerah bekas pengeboran minyak bumi ini juga dijadikan tempat wisata yang cukup menarik pengunjung, yakni Texas Wonocolo.
Selain dikenal sebagai kota minyak, Bojonegoro juga dikenal sebagai kota mebel. Jika Anda pernah berkunjung ke Bojonegoro dan melewati Kecamatan Dander hingga Sekar, Anda akan melihat kawasan hutan yang penuh dengan pohon jati berkualitas baik. Hal ini menjadi alasan kuat mengapa bisnis mebel di Bojonegoro sangat maju.
Tapi ada satu hal yang membuat saya heran tentang kota ini, dengan pendapatan daerah yang sangat besar, mengapa UMK Bojonegoro kecil sekali. Kalau Anda ingin tahu, UMK Bojonegoro tidak sampai 3 juta, lho.
Sebagai warga asli Bojonegoro, saya menyadari bahwa infrastruktur daerah ini sudah mantap, mulai dari jalan full aspal bahkan sampai galengan sawah juga dibuatkan jalan cor yang kuat dan mempermudah akses petani. Kantor pemerintahan yang megah, sampai sampai ada beberapa bangunan yang tidak terpakai dan terbengkalai karena saking seringnya ada proyek pembangunan kantor pemerintahan.
Bayangkan saja, beberapa orang di kabupaten sebelah merasa iri, karena jalan-jalan kota dan desa sudah banyak yang mulus nglenyer. Tapi sayangnya kondisi ekonomi masyarakatnya bikin ngelus dada. Lalu sebenarnya mengapa Bojonegoro yang kaya ini memiliki umk kecil dan angka kemiskinan yang cukup tinggi?
Industri minyak Bojonegoro tidak menyerap pekerja lokal secara maksimal
Industri minyak dan gas itu adalah industri padat modal, bukan padat karya. Putaran uang di Blok Cepu memang triliunan, tapi teknologi dan keahlian yang dibutuhkan sangat spesifik. Hasilnya? Pekerja lokal yang terserap di sektor ini jumlahnya amat terbatas. Sebagian besar warga Bojonegoro akhirnya tetap mengadu nasib di sektor non-formal, buruh harian, UMKM lokal, atau merantau ke kota lain, Surabaya contohnya.
Ketika menulis ini saya jadi teringat hari ketika saya pulang saat libur kuliah dari Surabaya. Saya bisa melihat, banyak sekali orang Bojonegoro yang mengadu Nasib di Surabaya, bahkan hampir setengah penumpang kereta api lokal Blorasura jurusan Surabaya-Cepu didominasi oleh orang Bojonegoro. Kalau dipikir-pikir ya wajar sekali. Wong UMR Surabaya 2 kali lipat UMK-nya Bojonegoro kok.
Naik turunnya harga bahan baku, biaya logistik, dan persaingan pasar yang bikin pengusaha mebel sesak nafas
Kedua, sektor mebel jati yang membanggakan itu pun tidak sedang baik-baik saja untuk ukuran kesejahteraan buruhnya. Meskipun produk kayu jati Bojonegoro tersohor, para pengrajin dan pengusaha mebel harus berdarah-darah menghadapi naik-turunnya harga bahan baku, biaya logistik, dan persaingan pasar. Pengusaha mebel lokal tentu tak sanggup menggaji karyawannya dengan standar tinggi layaknya perusahaan multinasional.
Ditambah lagi, mayoritas masyarakat Bojonegoro sebenarnya masih bergantung pada sektor pertanian. Sektor ini adalah sektor paling rawan. Kalau tidak kena ancaman kekeringan saat kemarau, ya siap-siap kebanjiran pasar luapan Bengawan Solo kumat. Belum lagi, modal pupu dan obat obatan penghilang hama yang tidak ramah bagi kantong petani. Ketika panen gagal atau harga gabah anjlok, angka kemiskinan otomatis merambat naik.
Itulah dua hal yang menurut saya bikin warga Bojonegoro ekonominya gini-gini aja, padahal daerahnya sangat kaya. Ya memang inilah realitas pahit yang harus dipahami, tanpa itu, kita tak akan sadar bahwa ada yang salah dengan ini semua.
Penulis: Rohmatul Hidayah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bojonegoro, Kabupaten Terkaya di Jawa Timur yang Miskin Kuliner Khas
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.