Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan (unsplash.com)

Awalnya saya benar-benar percaya bahwa naik KRL di gerbong khusus perempuan adalah pilihan paling aman dan nyaman. Maklum saja, ini pengalaman pertama saya mencoba naik gerbong tersebut. Dalam bayangan saya, gerbong khusus perempuan akan menjadi ruang yang lebih tertib, lebih tenang, dan tentu saja lebih empatik. Lagipula, kebijakan ini dibuat dengan niat baik: melindungi perempuan dari pelecehan di transportasi publik. Secara logika, rasanya tidak ada yang salah.

Sejak pintu gerbong KRL terbuka, saya langsung dihadapkan pada kondisi yang sangat padat. Bukan sekadar ramai, tetapi sesak hingga tubuh saling berhimpitan. Ruang gerak nyaris tidak ada. Bahkan, berdiri pun terasa menyakitkan karena dorongan dari berbagai arah, seperti saling menusuk tanpa sengaja. Dalam kondisi seperti itu, yang paling saya harapkan adalah setidaknya ada rasa saling pengertian. Nyatanya, itu justru yang paling langka.

Alih-alih saling mengalah, yang terasa justru ego. Setiap orang sibuk mempertahankan ruang kecilnya masing-masing. Tidak ada usaha untuk memberi jalan, tidak ada inisiatif untuk bergantian. Semua bertahan, seolah kenyamanan pribadi adalah hal yang paling penting, meski harus mengorbankan orang lain.

Gerbong KRL khusus perempuan tidak melulu aman

Pemandangan yang paling mengusik saya adalah ketika melihat seorang ibu terhimpit di tengah kerumunan. Secara kasat mata, ia jelas lebih membutuhkan ruang dan tempat duduk. Di sekitarnya, saya melihat banyak anak muda yang secara fisik jauh lebih kuat. Namun, tidak satu pun yang berinisiatif mengalah. Tidak ada gestur empati. Ibu itu tetap berdiri tertekan, sementara yang lain memilih diam dan pura-pura tidak melihat.

Di titik itu, saya mulai bertanya dalam hati di mana letak aman yang selama ini dijanjikan?

Gerbong KRL khusus perempuan memang tampak aman di permukaan. Tidak ada laki-laki, tidak ada potensi pelecehan secara langsung. Namun, menurut saya, rasa aman tidak hanya soal siapa yang berada di dalam satu ruang, tetapi juga tentang bagaimana manusia di dalamnya saling memperlakukan.

Ironisnya, pengalaman saya di gerbong KRL campuran justru sering berbanding terbalik. Di sana, perempuan sering terlihat lebih peka. Ketika ada ibu, lansia, atau penumpang yang tampak lelah, kursi biasanya lebih cepat ditawarkan. Ada kesadaran sosial yang muncul secara alami, tanpa perlu aturan tertulis atau pengumuman berulang.

Hal ini memunculkan pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah masalah utama benar-benar soal keamanan fisik, atau justru soal krisis empati di ruang publik?

Bagaimana seharusnya

Gerbong KRL khusus perempuan seharusnya menjadi ruang aman dalam arti yang lebih luas aman secara fisik, emosional, dan sosial. Namun, dalam pengalaman saya, gerbong ini justru terasa seperti ruang tekanan baru. Tekanan untuk bertahan berdiri, tekanan untuk tidak tersingkir, dan tekanan untuk mengalahkan rasa tidak nyaman demi bertahan sampai tujuan.

Ini bukan tentang menyalahkan perempuan atau membenturkan sesama penumpang. Ini tentang bagaimana sebuah kebijakan yang baik bisa berubah menjadi tidak efektif ketika tidak diiringi dengan budaya saling menghormati. Tanpa empati, ruang khusus justru berpotensi menjadi ruang yang lebih keras, terutama bagi mereka yang rentan. Ibu, lansia, atau penumpang dengan kondisi fisik tertentu.

Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa rasa aman tidak bisa diciptakan hanya dengan memisahkan gerbong berdasarkan gender. Aman juga berarti merasa dihargai, dipedulikan, dan diperlakukan secara manusiawi. Tanpa itu semua, label “khusus” tidak lebih dari sekadar simbol.

Pengalaman pertama saya di gerbong KRL khusus perempuan justru mengajarkan keamanan sejati di ruang publik tidak hanya ditentukan oleh aturan, tetapi oleh perilaku manusia di dalamnya. Selama ego masih lebih besar daripada empati, solusi apa pun seaman apa pun di atas kertas akan selalu menyisakan masalah.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Cara Pilih Kursi Kereta Api Paling Nyaman, Jangan Asal supaya Nggak Menyesal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version