Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Bayangan saya tentang Gen Z lanjut S2 itu ya orang-orang yang hidupnya penuh akan goals. Tapi setelah melihat kehidupan teman-teman sendiri, saya sadar ada alasan lain yang jauh lebih manusiawi, absurd, sekaligus menyedihkan, yaitu patah hati.

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena ingin jadi akademisi hebat atau mengejar karier cemerlang. Tapi, sebagian cuma sedang kehilangan arah hidup, lalu berpikir, “Yaudah S2 aja dulu.” Dan kalau dipikir-pikir, ya boleh aja.

Gen Z putus cinta di umur 20-an itu efeknya nggak main-main

Ada fase dalam hidup ketika seseorang putus cinta lalu jadi lebih rajin olahraga. Ada juga yang tiba-tiba glow up, bikin usaha, atau mendadak hobi naik gunung. Tapi Gen Z punya cara mengatasi patah hati dengan lebih elegan: daftar S2.

Karena beda dengan patah hati waktu SMA yang paling mentok bikin galau sambil dengar lagu Hindia, patah hati di umur 20-an biasanya datang bareng krisis hidup. Apalagi kalau hubungan itu sudah dibawa ke arah serius. Eh, ujung-ujungnya rungkad juga. Setelah itu hidup mendadak kosong dan restart lagi.

Teman-teman mulai sibuk kerja. Circle makin susah diajak nongkrong. Dan yang paling menyiksa, kita mulai sering sendirian dengan pikiran sendiri yang sering kali overthinking. Maka lahirlah keputusan yang unik banget: “Kayaknya lanjut S2 aja, deh.”

Kuliah S2 jadi pelarian yang paling masuk akal

Nyatanya, S2 memang tempat pelarian yang paling terhormat buat Gen Z. Kalau galau lalu tiap malam nangis di kamar, orang tua pasti khawatir. Tapi kalau galau lalu daftar S2, semua orang malah bangga. Dan kampus memang punya kemampuan magis untuk membuat hidup terasa punya arah lagi.

Rasanya hidup Gen Z jadi berwarna lagi karena ada jadwal kelas, tugas, presentasi, dan dosen killer yang bikin stres. Kita jadi lupa sama mantan.

Karena kadang, setelah lulus S1, fase hidup Gen Z memang sering absurd. Kita disuruh menentukan masa depan di usia ketika isi kepala sendiri saja masih berantakan.

Misal, mau kerja kadang belum siap. Udah pengin nikah, eh mantan malah pergi. Cita-cita healing, uangnya habis buat bensin dan jajan kopi. Akhirnya S2 terasa seperti tombol “pause” paling akademis untuk menunda kenyataan bagi banyak Gen Z.

Gen Z lanjut S2 karena takut kehilangan status “berproses”

Ada hal lain yang jarang kita bahas. Setelah lulus kuliah, banyak anak muda takut hidupnya terlihat stagnan.

Di media sosial, semua orang tampak sibuk berkembang. Ada yang kerja di startup atau ASN, atau buka usaha. Sementara kita? Masih rebahan sambil mikir kenapa hubungan yang sudah bertahun-tahun bisa kalah sama “Kita jalanin masing-masing dulu ya.”

Makanya, lanjut S2 kadang bukan soal pendidikan buat Gen Z. Ini soal menjaga perasaan bahwa hidup kita terus berjalan. Karena status “mahasiswa” membuat seseorang terlihat masih punya tujuan. Walaupun aslinya belum tentu.

Gen Z itu capek, tapi bingung menjelaskannya

Menurut saya, banyak Gen Z sekarang sebenarnya bukan malas. Mereka cuma lelah secara emosional. Kami tumbuh di zaman semua orang dituntut cepat sukses, mapan, kaya, tapi sekaligus harus tetap waras.

Kami melihat orang seusia sudah punya rumah di TikTok, padahal tabungan sendiri kadang habis buat bayar paylater. Kami disuruh percaya bahwa kerja keras pasti berhasil, tapi lowongan kerja entry level saja syaratnya minimal pengalaman dua tahun.

Lalu di tengah semua itu, hubungan percintaan yang tadinya jadi tempat pulang malah ikut gagal. Jadilah hidup terasa seperti browser laptop yang terlalu banyak tab terbuka: bising, berat, dan sewaktu-waktu bisa nge-lag.

Maka, ketika ada kesempatan lanjut S2, banyak Gen Z yang mengambilnya bukan karena cinta ilmu pengetahuan, tapi karena belum siap menghadapi hidup di luar kampus sepenuhnya. Dan jujur saja, saya nggak bisa menyalahkan itu.

S2 jadi tempat menata ulang diri

Walaupun terdengar lucu, saya rasa tidak semua keputusan lanjut S2 karena patah hati itu buruk. Kadang seseorang memang butuh ruang baru untuk menyusun ulang hidupnya. Butuh lingkungan dan rutinitas baru, misalnya.

Kampus bisa memberikan itu. Kita bertemu orang baru, bahkan kadang menemukan versi diri yang sempat hilang setelah hubungan kandas. Masalahnya cuma satu: jangan sampai S2 menjadi pelarian permanen.

Karena sejujurnya, tidak semua luka bisa sembuh dengan seminar, jurnal, dan revisi proposal tesis. Percayalah, ada fase ketika seseorang tetap bisa nangis habis bimbingan karena hidup ada saja gongnya.

Dunia pendidikan yang mendadak jadi sangat romantis

Kalau saya pikir lagi, dunia pendidikan Indonesia sekarang kok penuh orang patah hati, ya. Misal, masuk organisasi karena gagal move on, aktif seminar supaya lupa mantan, atau tiba-tiba ambis publish jurnal karena hidup percintaannya hancur. Coba bayangkan betapa emosionalnya itu.

Di luar terlihat sedang mengejar gelar akademik. Padahal dalam hati cuma ingin membuktikan bahwa dirinya tetap bisa jadi “sesuatu” setelah ditinggalkan. Makanya, saya kadang percaya bahwa S2 di Indonesia bukan cuma soal intelektual. Tapi juga tempat rehabilitasi emosional paling sunyi buat Gen Z

Sedikit menyindir diri sendiri

Pada akhirnya, saya mulai mengerti kenapa banyak Gen Z lanjut S2 setelah patah hati. Karena di usia sekarang, kehilangan seseorang sering terasa seperti kehilangan arah hidup sekaligus. Dan, ketika semua terasa kabur, manusia memang cenderung mencari tempat yang membuat hidup kembali terstruktur.

Penulis: Muhamad Sigit Adji Saputra

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Universitas Terbuka, Tempat Kuliah yang Cocok untuk Milenial dan Gen Z

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version