Gaya Parenting Orang Tua Shinichi Kudo yang Bikin Saya Kepingin Juga

Gaya Parenting Orang Tua Shinichi Kudo yang Bikin Saya Kepingin Juga terminal mojok.co

Gaya Parenting Orang Tua Shinichi Kudo yang Bikin Saya Kepingin Juga terminal mojok.co

Hari ini saya membaca tulisan Mbak Aminah Sri Prabasari yang berjudul “Gaya Parenting Mama Rosa dalam Hospital Playlist Memang Layak Diteladani Orang Tua Zaman Now”. Saya pun jadi kepikiran bikin tulisan dengan tema serupa, tapi dari semesta Detektif Conan yang sudah saya ikuti selama lebih dari 25 tahun, yakni Shinichi Kudo.

Penggemar manga dan anime Detektif Conan pasti tahu siapa Shinichi Kudo, detektif SMA berusia 17 tahun yang tubuhnya mengecil karena dipaksa minum APTX 1869 oleh Organisasi Hitam. Sejak awal cerita, ada banyak adegan yang menceritakan bahwa kedua orang tua Shinichi pindah ke Amerika Serikat untuk bekerja saat ia baru berusia 14 tahun. Ayahnya, Yusaku Kudo adalah penulis novel misteri kelas dunia. Sedangkan ibunya, Yukiko Kudo adalah aktris papan atas Jepang yang sangat terkenal.

Untungnya, Shinichi Kudo bukanlah anak broken home meskipun jauh dari kedua orang tuanya. Shinichi malah tumbuh jadi detektif SMA paling terkenal di Jepang yang disebut-sebut sebagai “Penyelamat Kepolisian Jepang” karena telah memecahkan banyak kasus sulit. Shinichi pun tidak hanya jago sebagai detektif, ia jago main sepak bola meskipun baginya sepak bola hanya untuk refreshing, tidak untuk dijadikan sebagai karier profesional.

Kenapa saya bilang Shinichi beruntung? Ya, kalau orang lain yang jadi Shinichi, ditinggal kedua orang tua sejak umur 14 tahun dengan rumah besar di tengah kota, di-transferin uang tiap bulan sama kedua orang tuanya, kayaknya malah dipakai yang nggak-nggak, deh. Bisa dipakai party tiap hari sama teman-temannya, terjerumus dalam pergaulan bebas dengan membawa Ran Mouri ke rumah setiap hari sepulang sekolah, atau bahkan sampai menggunakan obat-obatan terlarang. Soalnya jauh dari orang tua, dikasih uang banyak, dan gabut banget di sekolah karena pelajarannya terlalu gampang baginya.

Akan tetapi, Shinichi nggak gitu orangnya. Alih-alih terjerumus dalam pergaulan bebas atau menggunakan obat-obatan terlarang, ia malah jadi maniak misteri dengan jadi detektif. Kalau lagi menyelidiki sebuah kasus, ia sampai lupa waktu. Kalau lagi nggak ada kasus, Shinichi pun dimanjakan dengan ribuan novel misteri dari seluruh dunia dalam perpustakaan rumahnya. Dia juga rajin nontonin film atau serial detektif untuk menambah wawasannya sekaligus mengasah otak. Beruntung banget kedua orang tua Shinichi. Dia kecanduan dengan misteri, bukan kecanduan pergaulan bebas atau obat-obatan terlarang.

Saya jadi berpikir, “Apa, sih, rahasia parenting yang dilakukan kedua orang tua Shinichi Kudo? Kok bisa, ditinggal keluarga sejak remaja tapi anaknya nggak berubah jadi anak yang nakal?”

Pertama, beda dengan Ran Mouri, di mana ia menyaksikan kedua orang tuanya, Kogoro Mouri dan Eri Kisaki yang pisah rumah, Yusaku dan Yukiko ini masih tinggal satu rumah meskipun sering bertengkar hebat. Yusaku adalah sosok ayah yang kalem dan baik hati, mau anaknya senakal apa pun waktu kecil.

Sedangkan Yukiko ini sosok ibu yang nggak bisa diam dan marah-marah melulu kalau Shinichi nakal waktu kecil karena ia sayang padanya. Keduanya adalah kombinasi sempurna yang membentuk pribadi Shinichi seperti sekarang.

Kedua, Yusaku Kudo dan Yukiko Kudo ini merupakan pasangan yang sangat cerdas, jadi pasti menghasilkan anak yang cerdas juga. Gimana nggak cerdas, Yusaku ini merupakan penulis novel kelas dunia, mungkin setara J.K. Rowling kalau di dunia nyata. Sedangkan Yukiko adalah seorang aktris terkenal dari Jepang yang sering tampil di Hollywood juga. Dengan segala privilese yang dimilikinya, tentu saja Shinichi tumbuh jadi anak yang cerdas.

Sejak kecil, Shinichi tidak saja disuguhkan banyak cerita misteri oleh ayahnya, Shinichi juga sering diajak ke tempat kejadian perkara (TKP) oleh Yusaku dan menyaksikan bagaimana ayahnya memecahkan suatu kasus. Yusaku nggak cuma jago analisis, tapi juga bijak ketika bikin analisis. Sering kali ia mengungkap pelaku kriminal dengan tidak menjatuhkannya di depan umum. Apalagi kalau tahu motifnya. Meski begitu, sampai usianya tujuh belas tahun, analisis Yusaku selalu selangkah di depan Shinichi dan Shinichi belum bisa mengalahkan kemampuan analisis ayahnya.

Ketiga, meskipun terkesan menelantarkan anaknya dengan meninggalkannya di Jepang, Yusaku dan Yukiko sebetulnya sangat memperhatikan Shinichi. Setiap beberapa minggu sekali, Yusaku atau Yukiko sering pulang ke Jepang untuk melihat perkembangan Shinichi. Saat tahu Shinichi mengecil, mereka berdua lebih sering bolak-balik Amerika-Jepang. Yusaku dan Yukiko pun sering menggunakan koneksinya dengan memberi Shinichi informasi tentang Organisasi Hitam lewat teman-temannya di Interpol, FBI, dan CIA.

Kesimpulannya, baik Yusaku dan Yukiko ini bukan orang tua yang otoriter pada Shinichi. Mereka juga demokratis banget jadi orang tua. Ketika tahu Shinichi mengecil karena kesalahannya sebagai detektif, Yusaku kepikiran membawa Shinichi ke Amerika supaya aman. Yusaku juga berniat untuk membantu kasus Shinichi dengan menggunakan koneksinya selama ini. Akan tetapi, waktu Shinichi bilang ini merupakan kasusnya dan ia ingin menyelesaikannya sendiri, Yusaku langsung menghargai keputusan Shinichi tersebut meski awalnya ditentang Yukiko.

Sebagai ibu, Yukiko juga sama seperti Yusaku. Meskipun suka marahin Shinichi kalau berbuat nakal saat kecil, Yukiko ini sebetulnya sayang banget sama anak semata wayangnya. Yukiko juga sering menggoda Shinichi terkait hubungan percintaannya dengan Ran yang ia amati sejak mereka berdua duduk di bangku taman kanak-kanak. Dia suportif banget jadi ibu dengan mendukung hubungan Shinichi dengan Ran. Soalnya, Ran ini kan anak dari sahabatnya waktu sekolah, yakni Eri Kisaki, jadi Yukiko berharap bisa jadi besannya.

Mereka berdua pun mengasuh Shinichi dengan menjadi teladan yang baik untuknya. Yusaku selalu bijak ketika mengungkap siapa pelaku kriminal dengan tidak menjatuhkannya di depan umum sebisa mungkin atas nama kemanusiaan. Yukiko pun memberi contoh dengan menjadi ibu yang baik hati. Yukiko selalu murah senyum dan tidak sombong ketika bertemu dengan penggemarnya yang meminta tanda tangan atau foto bareng.

Itulah gaya parenting orang tua Shinichi Kudo sehingga berhasil mendidik Shinichi jadi anak cerdas seperti sekarang. Tidak hanya ranking di SMA Teitan saja dan jadi andalan Kepolisian Jepang dalam mengungkap kasus sulit, Shinichi pun jadi “silver bullet” andalan FBI dan CIA untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh Organisasi Hitam. Keren banget, kan?

BACA JUGA Kok Bisa Detective Conan Tetap Ditunggu Penggemar? Ceritanya Monoton Gitu dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version