Gara-gara Ikut Kursus Mobil, Saya Paham Kenapa Orang Indonesia Lebih Memilih Motor

5 Kelakuan Pengendara Mobil yang Bikin Emosi Pengendara Motor Terminal Mojok

5 Kelakuan Pengendara Mobil yang Bikin Emosi Pengendara Motor (Unsplash.com)

Baru-baru ini saya disuruh orang tua untuk belajar mengemudi mobil melalui kursus mengemudi. Alasannya cukup visioner, agar nanti saat berkeluarga bakal praktis angkut anak dan istri atau keluarga besar. Ya begitulah kultur Indonesia yang mengunggulkan kolektivitas keluarga.

Selama belajar, beberapa kali saya menemui masalah. Gagal menempatkan mobil sesuai arahan instruktur adalah yang paling sering dialami. Susahnya mengatur kecepatan mobil (kadang terlalu pelan, kadang terlalu cepat) dan pengereman juga gagal total meski nggak sampai tabrakan. Yang paling menonjol, saya selalu gugup dan terkena serangan panik kalo berhadapan dengan jalan raya.

Hingga pada akhirnya, saya dinyatakan belum lulus untuk 1 paket kursus mengendarai mobil. Mulai dari belum lancar hingga emosi saya yang labil banget jadi pemicunya. Untuk saat ini, saya memilih untuk istirahat dulu.

Tapi gara-gara kursus mengendarai mobil, saya jadi paham betul kenapa orang Indonesia lebih memilih motor sebagai daily driver mereka. Bukan info baru, tapi mungkin kalian tak menyadarinya.

Motor jelas lebih praktis

Alasan paling utama adalah sepeda motor lebih praktis. Nggak usah dijelasin, kita tahu lah ya maksudnya gimana. Harusnya sih nggak perlu debat.

Selain itu, motor bisa dibilang lebih aman dari macet. Pengguna motor nggak perlu berpikir terlalu dalam soal ruang gerak untuk menembus kemacetan, sementara mobil pasti stuck. Ini yang jadi alasan kenapa customer transportasi online lebih menggemari ojek ketimbang taksi. Bahkan untuk konvensional pun, ojek pangkalan lebih laris.

Yang lebih krusial, pengaturan kendaraan jauh lebih mudah motor ketimbang mobil. Mengatur sesuatu dengan tangan jauh lebih mudah dirasakan atau diperhitungkan daripada menggunakan kaki.

Baca halaman selanjutnya

Harganyanya murah…

Murah

Coba lihat di tiap negara berkembang yang ada, sepeda motor jadi kendaraan primadona. Kenapa? Ya karena harganya murah. Murah di sini mulai dari harga beli, biaya servis, onderdil, sampai tarif parkir. Mobil? Semuanya mahal.

Ambil contoh Jawa Timur dengan UMP Rp 2.040.244,30. Motor dengan cicilan termurah dipegang Honda Beat CBS dengan DP 600 ribu dan angsuran termurahnya 799 ribu dibayar 35 kali. Orang-orang masih bisa membelinya, meski ya pake ngos-ngosan.

Semurah-murahnya mobil, tetap tergolong sangat mahal bagi kebanyakan masyarakat. Monggo kalo idealis mau punya mobil, tapi ya jangan marah kalo mahal. Terlebih, transportasi umum negara ini masih jauh dari kata merata. Jadi kalau butuh mobilitas, ya mau nggak mau beli kendaraan pribadi kan.

Cepat

Dari kedua jenis moda transportasi online, yang paling banyak dipilih adalah ojek, bukan taksi yang menggunakan mobil. Selain tarifnya murah meriah, menggunakan ojek online lebih cepat sampai, cocok bagi Anda yang keburu-buru banget. Nah, di masa di mana dunia selalu mengajak kita terburu-buru, ya kecepatan masih jadi fokus utama kan.

Punya mobil memang memudahkan dan setidaknya bikin kita nggak kepanasan. Tapi, jangan lupa dengan waktu tempuhnya yang bakal lebih lama karena semakin besar bodi, semakin gampang kena macet, akhirnya molor. Satu lagi, banyak jalan yang nggak cocok dengan mobil, bahkan banyak jalanan yang tidak bisa diakses mobil.

Terlepas dari sering kehujanan, sepeda motor masih jadi kendaraan primadona. Selama transportasi umum tetap gini-gini aja dan nggak jadi fokus utama, ya kita terpaksa berdamai dengan kehujanan dan kepanasan demi mobilitas.

Penulis: Mohammad Faiz Attoriq
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kursus Mengemudi Mobil Matic Itu Aneh

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version