Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Gagal Lihat Komodo Akibat Kebijakan Tarif Mahal

Raditya oleh Raditya
30 Juli 2022
A A
Gagal Lihat Komodo Akibat Kebijakan Tarif Mahal

Gagal Lihat Komodo Akibat Kebijakan Tarif Mahal (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari yang lalu, saya browsing informasi tentang berwisata ke Labuan Bajo di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rencananya, kami sekeluarga akan berlibur ke sana untuk melihat komodo, reptil yang konon termasuk kategori hewan mitologi naga dan keturunan langsung dinosaurus.

Saya dan istri sudah mulai menabung untuk memenuhi biaya liburan melihat komodo. Perkiraan kami, tabungan tersebut akan tercukupi dalam waktu beberapa bulan ke depan.

ADVERTISEMENT

Betapa kagetnya saya saat melihat halaman pertama hasil pencarian Google berisi judul-judul berita rencana pemerintah menaikkan tarif ke Pulau Komodo menjadi Rp3,75 juta per orang. Padahal, tabungan saya dan istri untuk liburan ke Labuan Bajo pun belum tercukupi setengahnya.

***

Di tengah kegalauan, saya mencoba membuka dan membaca halaman-halaman berita kenaikan tarif tersebut. Semua artikel berita yang saya baca kompak menyatakan bahwa kenaikan tarif kunjungan ke Pulau Komodo bertujuan mulia, yaitu untuk kepentingan konservasi nilai jasa ekosistem lingkungan di kawasan itu.

Jadi sistem tarif ini, menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, merupakan semacam biaya keanggotaan selama setahun untuk satu orang. Menurutnya, besaran tarif ini sudah melalui kajian para ahli di bidang lingkungan hidup.

Komponen tarif yang akan kita bayarkan ini nantinya akan dibagi-bagi lagi selain untuk biaya tiket masuk dan suvenir. Jadi kita tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli kenang-kenangan eksklusif dari Pulau Komodo. Yang pasti suvenir itu akan berasal dari tangan-tangan terampil masyarakat lokal. Di samping itu, biaya untuk pengamanan, pengawasan, kajian ilmiah, manajemen kawasan, sampai untuk pelatihan dan pemberdayaan masyarakat akan diambil dari sana.

Pada media lain, Wakil Gubernur NTT menambahkan, tarif tersebut juga termasuk biaya transportasi darat, bandara, dan pelabuhan. Entah bagaimana cara menghitungnya, kalau tarif tersebut sudah termasuk berbagai biaya kunjungan mulai dari kita tiba di sana sampai kita pulang, lumayan juga pikir saya.

Baca Juga:

6 Pantai Tulungagung yang Memukau, tapi Menyimpan Bahaya bagi Wisatawan

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

Tapi, logika saya mulai bekerja saat pemerintah mulai hitung-hitungan keuntungan menggunakan tarif baru tersebut. Maklum, saya memiliki latar belakang pendidikan manajemen bisnis. Soal putar-memutar uang bukan hal baru buat saya.

Kalau benar tarif baru ini merupakan biaya keanggotaan, artinya, kita bisa bolak-balik ke sana beberapa kali selama setahun tanpa keluar uang lagi untuk tiket masuk, persis seperti ke Dunia Fantasi di Ancol. Tapi, bagaimana dengan biaya suvenir dan transportasi? Semakin sering kita pulang pergi ke pulau itu, akan semakin banyak ongkos yang harus dibayarkan untuk transportasi. Bisa-bisa biaya tersebut melebihi tarif yang sudah dipatok pemerintah.

Logika bisnis saya mengatakan hal itu mungkin saja terjadi menggunakan data statistik. Probabilitas wisatawan yang bolak-balik ke Pulau Komodo dalam setahun sangat kecil dibanding pengunjung yang hanya datang sekali dua kali. Jadi selisih tarif yang dibayarkan wisatawan yang iseng bolak-balik akan mendapat subsidi silang dari pengunjung yang hanya sekali datang.

Tapi, tetap saja perasaan kesal masih menggantung karena liburan keluarga kami terancam gagal gara-gara tarif baru ini. Selain kesal, saya sekaligus pusing memikirkan alasan untuk menjelaskan batalnya liburan kali ini ke anak-anak. Maklum, mereka kan belum paham soal bisnis, tarif, apalagi konservasi.

Sembari memendam rasa kesal dan pusing, saya melanjutkan membaca berita-berita lain. Saya berharap, siapa tahu bisa dapat ide untuk bahan penjelasan ke anak-anak.

***

Mayoritas artikel-artikel berita selanjutnya yang saya baca hanya menjelaskan tentang tujuan penetapan tarif baru ke Pulau Komodo, yaitu untuk menarik wisatawan yang peduli terhadap konservasi lingkungan. Pemerintah mengharapkan kepekaan publik terhadap isu-isu lingkungan di kawasan tersebut akan meningkat dengan kedatangan mereka.

Melalui kunjungan turis spesial tersebut, pemerintah ingin menunjukkan kalau kepedulian terhadap lingkungan juga bisa membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Konon katanya, wisatawan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan, biasanya juga memiliki kemampuan finansial yang tinggi pula.

Dengan kata lain, pelancong model saya ini lebih baik tidak ke sana. Sudah biaya liburannya pas-pasan, kepedulian kami sekeluarga terhadap lingkungan juga agak kurang. Kerja bakti di lingkungan rumah saja kami jarang ikut. Bisa-bisa kehadiran pengunjung seperti kami hanya akan mempercepat kerusakan ekosistem di sana.

Baiklah, untuk alasan yang baik tentunya saya dan keluarga harus menerima gagalnya liburan kali ini. Minimal sampai kondisi finansial kami membaik dan tentunya sampai level kepedulian lingkungan kami meningkat.

***

Satu hal yang mengobati kekecewaan saya karena gagal liburan adalah siaran pers dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pada siaran tersebut, para ranger, sebutan bagi pengasuh satwa dan pemandu wisata di Pulau Komodo, memanggil komodo dengan istilah biawak. Betul sekali, komodo termasuk biawak alias kadal.

Dalam hati saya tertawa kecil sambil berucap, “Kalau hanya melihat kadal, di belakang rumah mertua saya juga banyak. Mulai dari yang kecil sampai seukuran gagang sapu.”

Setelah itu, saya merasa lega karena telah menemukan ide untuk menjelaskan batalnya liburan kali ini ke anak-anak.

Penulis: Raditya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nggak Bisa Memilih yang Terbaik tapi Komodo Bisa Cegah yang Terburuk Berkuasa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2022 oleh

Tags: Keluargakomodopariwisatatiket
Raditya

Raditya

Pemerhati kebijakan publik khususnya bidang pariwisata dan ekonomi kreatif.

ArtikelTerkait

Surat Terbuka untuk Bupati Banyuwangi Terkait Minuman Keras (Unsplash)

Pariwisata Banyuwangi Jangan Berharap Melampaui Bali, Perbaiki Dulu Kekurangan yang Lain

29 Juli 2023
Magang di Pengadilan Agama Bikin Saya Lebih Realistis dalam Memandang Pernikahan broken home

Sulitnya Menjadi Anak Broken Home

18 Februari 2023
Orang Bali Sulit Menikmati Wisata di Tanah Kelahirannya Sendiri kuliah di bali

Orang Bali Sulit Menikmati Wisata di Tanah Kelahirannya Sendiri

17 Januari 2024
calo makam

Hati-hati Calo Makam: Memanipulasi Duka dan Kematian Menjadi Bisnis yang Merugikan

7 Oktober 2019
syarat sudah vaksin wisatawan jogja mojok

Syarat Sudah Vaksin untuk Berwisata di Jogja Itu Buta Realitas

3 Juli 2021
4 Hal Nggak Enaknya Punya Saudara Crazy Rich: Dikira Hidup Serba Mudah hingga Diremehkan kalau Nggak Jadi Siapa-siapa

4 Hal Nggak Enaknya Punya Saudara Crazy Rich: Dikira Hidup Serba Mudah hingga Diremehkan kalau Nggak Jadi Siapa-siapa

5 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto hasil AI untuk jualan hingga pembeli merasa tertipu Mojok.co

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

20 Juli 2026
Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

16 Juli 2026
Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi Mojok.co

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

18 Juli 2026
Fans Ronaldo nangis melihat Messi real GOAT di final Piala Dunia (Unsplash)

Final Piala Dunia yang bikin fans Ronaldo hilang arah: Cemas dukung Messi atau membiarkan fans Barcelona makin besar kepala?

18 Juli 2026
Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

17 Juli 2026
Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo? (Wikimedia Commons)

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?

21 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.