Ketika masyarakat sedang begitu sporty-sporty-nya, profesi fisioterapis merangkak naik daun dan sedang mendulang cuan
Menengok bagaimana tren kehidupan masyarakat, setidaknya dalam 5 tahun terakhir, kita bisa mendefinisikan dalam satu frasa: sporty. Iya, tren olahraga memang sedang marak-maraknya, dimulai dari sepeda di tahun 2020-an, lalu tren lari, hingga padel dalam setahun terakhir ini. Dan seperti biasanya, kalau ada sebuah tren yang sedang naik, juga akan diikuti oleh bisnis terkait yang juga ikutan naik.
Bisnis olahraga memang sedang berada di puncaknya. Kita masih ingat gimana bisnis jual-beli sepeda yang gila banget 5 tahun lalu, sampai-sampai harganya kadang nggak ngotak. Lalu bisnis equipment lari, hingga sekarang bisnis peralatan padel dan lapangan padel. Semua ini berkat tren sporty (dengan jenis sport yang bermacam-macam) yang sedang silih berganti digandrungi masyarakat.
Namun, dari sekian banyak tren olahraga yang silih berganti dan naiknya bisnis olahraga yang sedang jaya, ada satu hal, satu aspek, lebih tepatnya profesi, yang agak jarang disinggung. Padahal, satu aspek, satu hal, dan satu profesi ini punya posisi dan peran krusial dalam kehidupan masyarakat yang sedang sporty-sporty-nya. Iya, fisioterapis.
Semua olahraga fisik butuh fisioterapis
Selama ini, ketika kita bicara soal tren olahraga yang sedang happening di masyarakat, kita selalu bicara soal FOMO atau nggaknya, soal harga peralatan yang kadang nggak ngotak, atau bahkan soal akses. Sangat jarang kita dengar ada yang membahas soal peran fisioterapis. Padahal, kita semua pasti tahu bahwa olahraga yang fisikal, apapun itu, pasti seenggaknya butuh fisioterapis.
Melihat bagaimana fisioterapis ini agak kurang dianggap perannya, membuat saya agak prihatin. Maksudnya, ketika kesadaran masyarakat akan olahraga sudah tumbuh dan menjadi sebuah kebiasaan komunal, harusnya bisa dibarengi dengan kesadaran akan menjaga tubuh, memelihara kondisi fisik. Selain dengan cara memperhatikan pola makan dan tidur, rutin ke fisioterapis (apalagi yang intensitas olahraganya cukup tinggi) juga jadi cara yang tepat untuk menjaga tubuh. Sayangnya, ini masih belum seimbang.
BACA JUGA: Kuliah Susah, Bayarnya Mahal, Pas Lulus Jadi Tukang Pijat
Sebab bagaimanapun, olahraga fisik itu nggak pernah lepas dari risiko cedera. Mau itu main sepeda, lari, sepak bola, bahkan padel, semuanya punya risiko cedera. Makanya, untuk mencegah atau meminimalisir risiko cedera, dibutuhkan peran fisioterapis untuk tahu apakah tubuh kita masih baik-baik aja selepas olahraga, atau apakah ada bagian-bagian tubuh kita yang lagi nggak baik-baik saja, tapi kita nggak sadar. Itulah mengapa peran fisioterapis ini penting dan krusial banget saat ini.
Peran fisioterapis perlahan mulai ditengok
Meskipun kesadaran masyarakat akan olahraga masih belum seimbang dengan kesadaran akan merawat fisik, namun kita mulai bisa melihat bagaimana peran fisioterapis mulai ditengok dan dilibatkan. Di beberapa event olahraga misalnya, para penyelenggara event sudah mulai menyediakan jasa fisioterapis, bekerja sama dengan fisioterapis. Bahkan, peserta event olahraga juga ada yang membawa fisioterapis sendiri.
Kita nggak perlu melihat event olahraga yang besar. Kita lihat saja di event-event olahraga yang skalanya masih antar komunitas. Di turnamen padel antar komunitas, di fun match football/mini soccer, atau di event lari 5k, kita bisa lihat ada fisioterapis yang sudah siap mengecek fisik kita. Jadi, selepas berolahraga, kita bisa langsung ke booth/tenda fisioterapis untuk mengecek apakah badan kita baik-baik saja atau nggak.
Nah, poin plus ketika peran fisioterapis ini mulai ditengok dan dilibatkan oleh masyarakat yang sedang sporty-sporty-nya, fisioterapis jadi sebuah profesi yang menjanjikan, jadi sebuah bisnis yang nggak bisa disepelekan lagi.
Fisioterapis, profesi yang menjanjikan, bisnis yang bisa jadi ladang cuan
Tren masyarakat saat ini sedang sporty-sporty-nya. Olahraga merajalela, sedang digandrungi orang-orang. Lalu peran fisioterapis juga mulai ditengok, dilibatkan, dianggap penting. Melihat kenyataan ini, kita sepertinya bisa mengambil kesimpulan sederhana bahwa fisioterapis ternyata bisa menjadi profesi yang menjanjikan, dan bisa jadi bisnis, jadi ladang cuan.
Mari kita tengok rata-rata tarif fisioterapis yang ada di Indonesia. Kalau kita ke klinik atau ke rumah sakit, tarif rata-ratanya ada di angka 100-400 ribu per sesi. Tinggi rendahnya harga tentunya tergantung sebanyak apa dan sekompleks apa terapinya. Itu kalau di klinik atau di rumah sakit. Nah, kalau yang homecare, atau yang bisa kita hire sendiri ke event-event, tarifnya bisa di atas 500 ribu ke atas.
Sekarang bayangkan begini, sederhana saja. Ada satu fisioterapis, katakan saja per minggunya menangani 3-4 klien. Orang ini di-hire untuk ikut kliennya di event-event olahraga, setiap dua minggu sekali. Lalu anggaplah orang tersebut mematok tarif 700 ribu per klien, rata semuanya. Ini berarti, pelaku profesi ini bisa mengantongi 2,1-2,8 juta setiap pekan, yang juga berarti 4,1-4,8 dalam sebulan. Itu kalau dua minggu sekali. Kalau seminggu sekali? Atau kalau dalam seminggu bisa dua kali, dapatnya akan lebih banyak, kan?
Yang di rumah sakit dan klinik belum dihitung
Kita belum menghitung pendapatan atau gaji para fisioterapis yang ada di rumah sakit, atau yang ada di klinik-klinik khusus fisioterapis. Kita tahu sendiri, saat ini klinik-klinik fisioterapis sudah makin ramai pasien. Dan gaji mereka juga lumayan, lho. Fisioterapis ini lagi panen raya sekarang. Dari gambaran sederhana ini, kita bisa melihat betapa menjanjikannya bisnis fisioterapis di tengah masyarakat yang sedang sporty-sporty-nya. Gimana? Menjanjikan, kan?
Namun perlu juga dipahami bahwa beban jadi fisioterapis ini nggak mudah. Sekolahnya nggak mudah, dan nggak bisa ngasal. Perlu ilmu dan pemahaman yang mendalam tentang tubuh manusia. Tanggung jawabnya juga besar. Kalau sampai salah sentuh dan salah diagnosis, bisa berantakan badan orang nanti.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 9 Jurusan Fisioterapi Terbaik di Indonesia, Pilihan Kuliah Prospek Kerja Tinggi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
